Poster Antasari AzharDi kalangan banyak pejabat dan petinggi RNI, Nasrudin Zulkarnaen sejak lama dikenal suka memberi upeti “barang hidup” berupa perempuan-perempuan cantik. Upeti-upeti itulah yang di belakang hari lantas diancamkan oleh Nasrudin kepada para petinggi itu agar memberi dia jabatan.

oleh Rusdi Mathari

Kamis 30 April
WAWANCARA dengan personel God Bless di rumah Ian Antono di Cibubur, Jakarta Timur, baru selesai ketika saya meraih ponsel dari saku celana. Dua panggilan tak terjawab dan empat pesan pendek sudah tercantum di layar: satu panggilan tak terjawab seorang petinggi tentara, satu dari seorang pengurus partai; dua pesan pendek berasal dari kedua orang tadi, dan dua lainnya dari dua teman wartawan.

Isi pesan pendek itu, intinya sama, menanyakan keberadaan dan kesedian saya untuk datang ke kantor mereka. Kalimat berikutnya, “Tolong segera hubungi, penting.”

Itu Kamis, 30 April pekan lalu. Saya baru memasuki Ciracas, yang tak jauh dari Cibubur dan hendak menuju pesantren, tempat saya biasa mengaji. Kiai saya meminta datang ke sana karena ada suatu urusan yang harus didiskusikan. Saya karena itu mengabaikan semua SMS dan panggilan tak terjawab yang muncul di layar ponsel.

Ketika saya keluar dari komplek pesantren petang harinya, awan pekat terlihat seolah mengepung langit tapi hujan belum menyentuh bumi. Saya memacu motor dengan gegas. Meliuk-liuk sepanjang Jalan Raya Bogor. Setiba di rumah, saya tak segera menghubungi orang-orang yang mengirimkan SMS dan menelepon saya itu.

Sebaliknya saya menelepon seorang teman wartawan. Dia senior dan dikenal sebagai wartawan investigasi yang memiliki jaringan luas. “Ada informasi apa malam ini?” tanya saya.

“Waduh, kamu ke mana saja? Antasari Azhar ditangkap sore ini,” kata dia.

“Ha? Antasari ditangkap? Urusan yang dulu itu?” tanya saya.

“Ya benar, urusan Nasrudin. Besok pasti jadi HL di koran-koran.”

Nasrudin yang dimaksud adalah Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, anak usaha usaha PT Rajawali Nusindo. Perusahaan yang disebut terakhir adalah anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia, BUMN yang bergerak di bidang agro industri, farmasi & alat kesehatan dan perdagangan & distribusi.

Hubungan telepon saya dan teman tadi, berlangsung singkat. Saya lalu menghubungi Pemimpin Redaksi Koran Jakarta surat kabar tempat saya bekerja. Adiyanto, redaktur yang menjadi pasangan saya, juga saya hubungi. Kepada keduanya, saya mengirim pesan pendek “Confirmed: Antasari Azhar ditangkap sore ini.”

Saya lalu menyalakan komputer dan internet dan mengklik beberapa situs. Tak ada berita penangkapan Antasari, kecuali berita soal penangkapan Sigid Haryo Wibisono. Pria ini adalah pengusaha yang menjabat sebagai Komisaris di PT Pers Indonesia Merdeka, penerbit surat kabar Merdeka. Sigid ditangkap polisi pada Rabu malam di Jakarta. Kalau pun nama Antasari disebut-sebut, itu hanya indikasi berdasarkan keterangan polisi, yang menyebutkan keterlibatan pejabat tinggi negara.

Saya mulai ragu, jangan-jangan teman saya salah. Saya kemudian menghubungi Teguh Nugroho, teman saya yang sama-sama bekerja di tim Koran Jakarta edisi Minggu. Kepadanya saya minta tolong agar segera menghubungi Johan Budi SP, Juru Bicara KPK untuk meminta penjelasan awal, duduk perkara yang sebenarnya. “Nggak benar Pak kata Johan. Semuanya tidak benar. Tapi saya akan coba ke KPK,” kata Teguh, beberapa saat kemudian. Saya mengiyakan. Hari sudah cukup malam.

Di Kantor KPK, di Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, menurut Teguh, malam itu sudah penuh dengan wartawan. Teguh yang biasa mangkal di kantor itu mengaku tak kenal sebagian besar wartawan itu. “Sing tuo-tuo ketokane podo mudun (yang senior-senior kelihatannya pada turun),” kata Teguh.

Belakangan Teguh mengirimkan SMS yang berasal dari sumber dia di Kejaksaan Agung. Isinya, “Tim dari Mabes sedang menuju rumah Antasari di Serpong.” Beberapa saat kemudian Teguh mengirimkan SMS susulan, yang kata dia, berasal dari Johan dan berisi jawaban Antasari. “Saya siap diperiksa polisi, karena saya juga penegak hukum, tidak mungkin saya, saya malah melindungi Nasrudin…” dan seterusnya.

Jumat 1 Mei
Jumat pagi, sejumlah koran memang menurunkan soal penangkapan Sigid dan pelaku penembakan Nasrudin. Tapi sama sekali tak ada berita soal penangkapan Antasari.

Berita soal Antasari, hanya tertulis tentang kesediaannya diperiksa oleh aparat dan bantahannya terlibat dalam kasus pembunuhan Nasrudin. Sama persis dengan yang disampaikan Antasari kepada sejumlah wartawan yang mencegatnya di gerbang Perumahan Giriloka 2, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis malam. Hanya itu tapi isu soal dugaan keterlibatan Antasari dalam kasus penembakan Nasrudin, mulai menjadi berita besar di televisi sepanjang hari itu.

Jumat pagi, saya lantas menghubungi beberapa sumber, dan dari mereka, saya mendapat sejumlah nama dan nomor ponsel yang bisa saya hubungi. Antara lain Boyamin Saiman, anggota tim advokasi kasus Nasrudin; Boni Hargens, Direktur Pusat Pengkajian Strategi PT Pers Indonesia Merdeka, teman Sigid; Marwan Effendi, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus; Untung Udji Santoso mantan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara; pengacara Denny Kailimang; dan beberapa nama dan nomor sumber yang lain.

Saya lantas menghubungi teman-teman di tim Koran Jakarta edisi Minggu. Ezra Sihite saya minta menghubungi Boyamin, Agus Triyono menghubungi Boni dan Denny, Rangga Prakoso untuk stand by di Mabes Polri, Kristian Ginting menghubungi ICW, Teguh menghubungi Marwan dan mendatangi rumah Antasari di Serpong.

Kepada teman-teman itu, saya menceritakan apa yang saya dengar sebagai background. Dengan waktu yang tersisa hanya sehari untuk bisa ditulis dan diterbitkan di Koran Jakarta Minggu, semua itu memang akan menjadi kerja berat dan melelahkan bagi teman-teman saya.

Hari-hari sebelumnya mereka semua sudah terlibat untuk liputan Sorot yang sudah kami rencanakan: Flu Babi. Sorot adalah nama rubrik dua halaman di Koran Jakarta edisi Minggu. Isinya menyoroti berita-berita aktual yang terjadi pada pekan sebelumnya, dan menceritakannya dari sisi lain.

Bahkan hingga Jumat itu, sebagian dari teman-teman itu masih memiliki janji wawancara dengan sejumlah sumber yang berhubungan dengan flu babi. Tapi apa boleh buat, memang begitulah pekerjaan dan risiko wartawan. Saya hanya berpikir, isu keterlibatan Antasari akan menjadi berita besar dalam pekan ini dan karena itu akan sayang untuk dilewatkan. “Nanti sore kita ketemu untuk rapat,” kata saya kepada mereka.

Sore harinya kami benar-benar berkumpul di Melly’s Café, di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Sebagian dari kami memesan bir, sebagian yang lain makan nasi goreng, atau sup ikan lalu kami merundingkan, temuan-temuan yang dikumpulkan teman-teman dari lapangan.

Agus melaporkan, Boni yang dihubungi tak mau memberikan keterangan karena alasan, sebuah koran nasional telah memelintir penjelasannya. Boyamin kata Ezra, banyak memberikan keterangan dan hanya sedikit sekali yang bersifat off the record. Keterangan Boyamin yang bisa dikutip itu termasuk isi SMS yang disebut berasal dari Antasari kepada Nasrudin yang berbunyi “Urusan di antara kita, kita selesaikan baik-baik saja kalau perlu aku minta maaf, terus tolong jangan di-blow up nanti kalau di-blow up tahu sendiri risikonya.”

Teguh menceritakan reportasenya di rumah Antasari dan Rangga melaporkan sudah mendapat jawaban Irjen Pol. Abubakar Nataprawira, Humas Mabes Polri. Singkat kata, kami berkesimpulan, sudah memiliki bahan awal untuk tulisan Sorot pekan ini dan sepakat akan melanjutkan liputan keesokan harinya.

Pembagian penulisan kemudian dibagi. Saya kebagian menulis bagian pertama, Jacques Umam bagian dua, Adiyanto bagian tiga, dan Alfred Ginting bagian empat.

Sabtu 2 Mei
Ini hari deadline kami. Waktu yang sebetulnya sangat terbatas, karena semua laporan sudah harus masuk sebelum maghrib dan penulisan sudah harus selesai sebelum jam 23.00. Beberapa laporan yang masuk di milis kami, saya baca satu per satu. Saya mulai menulis, sambil tetap menghubungi teman-teman untuk menghubungi sumber yang belum memberikan keterangan.

“Di kantor Merdeka tak ada orang Cak, dan Denny bukan pengacara Sigid,” kata Agus, ketika saya hubungi, apakah Boni sudah “diburu” dan bersedia memberikan keterangan. Ada pun Denny, semula kami kira pengacaranya Sigid, dan baru belakangan saya tahu, dia adalah salah seorang pengacara Antasari. Saya lalu memintanya tetap menghubungi Denny dan tanpa sepengetahuan Agus, saya mengontak Boni.

“Jangan pakai nomorku yang ini, sudah disadap. Pakai nomor BlackBerry-ku,” kata Boni, ketika mulai berbicara dengan saya. Di kantor, Teguh sibuk menghubungi Marwan. Belakangan Teguh menyerahkan hubungan teleponnya dengan Marwan kepada saya, dan jadilah saya “terlibat” pembicaraan dengan Marwan.

Ada pun Ezra kembali menghubungi Boyamin, dan meminta agar dia bersedia disebutkan namanya untuk beberapa keterangan, yang sebelumnya dia mintakan off the record. “Sebut saja, itu sudah diketahui orang banyak,” kata Boni.

Tulisan Sorot akhirnya selesai kami buat menjelang tengah malam. Saya, Adiyanto dan Alfred, sebelumnya terlibat diskusi kecil, soal nama Rani Juliani. Saya tetap pada pendirian bahwa nama perempuan yang disebut-sebut terlibat hubungan asmara dengan Nasrudin dan diduga juga berhubungan gelap dengan Antasari adalah Tika.

Adiyanto dan Alfred menyebut Rani, istri ketiga Nasrudin. Keduanya punya argumen, saya juga. “Iya sih Boyamin, tak secara eksplisit menyebutkan istri ketiga Nasrudin,” kata Alfred.

Dalam wawancara per telepon dengan Ezra, Boyamin hanya tertawa ketika ditanya apakah perempuan yang dimaksud adalah istri kedua Nasrudin. “Ha…ha…ya..ya yang ketiga ini,” kata Boyamin.

Sumber lain yang saya hubungi, menyebut nama perempuan itu Tika. Saya yang tahu dan mengenal sumber itu dekat dengan pihak Antasari, memilih menggunakan nama Tika ketimbang Rani. Belakangan nama Rani yang disebut-sebut sebagai istri ketiga Nasrudin, memang banyak disebut banyak media. Sebuah media menyebut, Tika tak lain adalah nama panggilan Rani.

Satu hal yang jelas, menurut keterangan Boyamin, Nasrudin memang nakal. Sejak lama. Di kalangan banyak pejabat dan petinggi RNI, Nasrudin misalnya dikenal suka memberi upeti “barang hidup” berupa perempuan-perempuan cantik. Upeti-upeti itulah yang di belakang hari lantas diancamkan oleh Nasrudin kepada para petinggi itu agar memberi dia jabatan. “Jadi memang tak menutup kemungkinan kalau Nasrudin ini pun menguras Antasari gitu loh (karena soal perempuan),” kata Boyamin.

Menjelang cetak, teman-teman tim Koran Jakarta edisi Minggu, meninggalkan kantor. Saya bertahan menunggu Ical dan Sujar, keduanya bagian lay out. Rangga menunggu di depan kantor. Kami benar-benar meninggalkan kantor, Minggu dini hari.

Leher saya kaku dan di hati ada perasaan bersalah kepada Kiai, yang malam itu mengajak saya melakukan tarekat. Saya telah melewatkannya, hanya demi takut ketinggalan berita aktual. (bersambung)

Terima kasih kepada teman-teman di Redaksi Koran Jakarta edisi Minggu.