GB2Inilah grup rock tertua di Indonesia, yang Sabtu besok akan konser di Bandung; dan hanya dikenal sebagai grup rock ketimbang sekelompok seniman yang sejak awal banyak menyuarakan kritik sosial.GB3

oleh Rusdi Mathari
WAJAH empat pemain biola dan dua pemain chello dari Yogyakarta itu terlihat sumringah ketika berpamitan pulang ke Ian Antono [ gitaris God Bless]. Mereka telah melewati hari-hari panjang, berlatih bersama Ian untuk memainkan beberapa lagu God Bless secara akustik; dan kemarin sore adalah latihan terakhir mereka untuk pentas “To Commemorate God Bles 1973-2014”. Latihan mereka bersama Ian itu sekaligus menutup seluruh rangkaian latihan personel God Bless yang telah berakhir sehari sebelumnya. Selama kurang-lebih sebulan, mereka hampir setiap hari dan sepanjang hari, berlatih. Kadang di studio Ian di Cibubur, Jakarta Timur tapi lebih sering dilakukan di DSS, Ciledug; Jakarta Selatan. “Kemarin semua peralatan sudah diangkut ke Bandung,” kata Ian.

Benar, ini tentang God Bless. Grup rock tertua yang pernah ada dan masih bertahan di Indonesia, yang akan tampil konser di Hotel Harris, Bandung, Sabtu, 30 Agustus 2014. Konser itu awalnya direncanakan tahun lalu bertepatan dengan usia God Bless ke-40, tapi urung karena kesulitan dengan dengan urusan pendanaan. Sponsor yang mau mendanai terlalu banyak menuntut. Antara lain meminta konser God Bless diselingi dengan kelompok penyanyi ABG ala Korea yang sama sekali tak ada urusan dengan musik rock. Beruntung kemudian PT Djarum mau membiayai konser mereka, dan jadilah “To Commemorate God Bles” digelar di Bandung, Sabtu mendatang; dan itulah konser terbesar God Bless yang pernah ada sejak grup rock itu berdiri 1973.

Mereka bukan hanya akan tampil dengan personel God Bless yang masih bertahan; Ahmad Albar [vokal], Donny Fattah [bas], Ian, Abadi Soesman [keyboard] dan Fajar Satritama [drum], melainkan juga mengundang eks personel God Bless yaitu Jockie Suryoprayogo [keyboard], Teddy Sujaya [drum], dan Eet Sjahranie [gitar] ; selain grup Edane dan Kotak sebagai grup band pembuka. Tiga eks personel God Bless itu akan memainkan tiga lagu God Bless yang pernah populer: “Kehidupan”, “Semut Hitam” [album Semut Hitam] dan “Menjilat Matahari” [album Raksasa]. Ada yang bilang konser God Bless kali ini adalah konser reuni, sebagian menyebut sebagai konser rekonsiliasi menyusul berakhirnya perseteruan antara Ahmad Albar [biasa disapa dengan panggilan Iyek] dan Jockie.

Keduanya memang sempat terlibat perselisihan sengit ketika God Bless semestinya merampungkan album kelima. Perseteruan mereka bukan hanya membuat album kelima God Bless [yang sudah rampung 80%] menjadi terbengkalai, tapi juga menyebabkan trauma panjang bagi keduanya. Baik Iyek maupun Jockie punya versi masing-masing tentang penyebab perselisihan, tapi akibatnya, selama13 atau 14 tahun, mereka tak berhubungan dan bertegur sapa. Jockie memutuskan keluar dari God Bless dan posisinya digantikan Abadi, personel lama God Bless yang menghasilkan album Cermin [1982].

Belakangan, ketika muncul ide memperingati hari jadi God Bless ke-40 dalam sebuah konser; Ian, Donny dan Titiek Antono [manajer God Bless] berinisiatif mengundang seluruh eks personel God Bless sebagai bintang tamu, termasuk Jockie. Titiek terutama, lalu merancang agar terjadi pertemuan antara Jockie dan personel God Bless. Iyek setuju. Semula direncanakan mereka semua akan bertemu bersama, tapi belakangan Iyek meminta untuk hanya bertemu berdua dengan Jockie. Jockie setuju. Keduanya lantas bertemu di sebuah hotel, dan jadilah sejak tahun lalu mereka mengubur semua dendam. “God Bless itu seperti keluarga.Sekeras-kerasnya Jockie, hati kecilnya masih tetap God Bless,” kata Ian.

Memanggul salib
Perjalanan God Bless memang penuh warna. Dibentuk oleh Iyek, Donny, Ludwig Lemans [gitar] dan Fuad Hasan [drum]; grup rock ini berkali-kali bongkar pasang personel. Selain mereka berempat, Deddy Dores [keyboard] juga sempat bergabung di formasi awal ketika grup mereka masih bernama Crazy Wheels. Nama God Bless baru digunakan Mei 1973 usai mereka pentas di Taman Ismail Marzuki bersama grup-grup rock dari Filipina dan Malaysia. Konon sempat muncul usulan nama Dewa atau Raja, tapi sebuah kartu pos dari Belanda yang dikirim oleh teman Iyek ketika Natal bertuliskan “Godbless you” [berkat Tuhan untukmu] menginspirasi Iyek. Dia memilih ucapan di kartu pos itu sebagai nama grup musiknya: God Bless.

Saat itu, Deddy sudah keluar karena membentuk grup rock sendiri: Rhapsodia. Posisinya digantikan Jockie tapi juga hanya sebentar, dan Jockie kemudian digantikan Soman Lubis. Ketika Fuad dan Soman meninggal karena kecelakaan lalu-lintas, dan Ludwig keluar; Jockie kembali bergabung dengan God Bless. Dia mengajak Ian dan Teddy. God Bless yang semula hanya menjadi grup rock panggung kemudian masuk dapur rekaman. Album pertama mereka adalah God Bless [1975] dengan lagu yang popular “Huma di Atas Bukit” yang syairnya dibuat oleh sutradara Sjumandjaja.

Lagu itu kemudian menjadi salah satu sound track filmmusikal “Laila Majenun” yang dibintangi Ahmad Albar, Deddy Sutomo dan Rini S. Bono [1975]. Film itu ngetop pada masanya,dan dari perkenalan di film itu, Iyek kemudian menikahi Rini. Sejak itu God Bless seperti tak tak terdengar ceritanya menyusul serbuan musik pop melankolis dan dang dut. Masing-masing personel sibuk bersolo. Di masa itu, keluar Duo Kribo, album bersama Iyek dan Ucok AKA dengan hit “Panggung Sandiwara” yang liriknya ditulis penyair Taufik Ismail; dan juga lagu bernuansa dang dut dan terkenal yaitu “Zakia”.

Nama God Bless muncul kembali ketika mereka mengeluarkan album Cermin [1982]. Salah satu lagu yang popular di album itu adalah “Anak Adam” yang syairnya ditulis oleh Donny Fattah, “Sodom dan Gomorah” dan “Selamat Pagi Indonesia”. Di album ini, posisi Jockie digantikan Abadi. Jockie bergabung kembali menjelang album ketiga Semut Hitam [1988] sewaktu era festival musik rock sedang berada pada titik puncaknya. Saat itu God Bless mengadakan tur ke berbagai kota termasuk di Malang, kota kelahiran Ian dan Abadi, yang saat itu diindetikkan sebagai barometer para grup rock; tapi perselisihan antar personel God Bless muncul kembali setahun setelah “Semut Hitam” yang menyebabkan Ian keluar dari God Bless. “Penggemar kami di Malang banyak sekali,” kata Iyek.

Posisi Ian digantikan Eet, dan God Bless mengeluarkan album Raksasa [1990]. Itulah album tercepat yang pernah dibuat oleh God Bless karena dikeluarkan hanya berselisih 2 tahun dari album sebelumnya. Enam tahun kemudian, Ian bergabung kembali, dan setahun setelahnya God Bless s mengeluarkan album kelima Apa Kabar [1997]. Lewat album ini, untuk kali pertama, God Bless memiliki dua gitaris: Ian dan Eet. Album itu konon pula adalah album spesial God Bless yang bersuka cita menyambut bergabungnya kembali Ian meski setelah itu kembali muncul perselisihan sengit antara Ahmad dan Jockie. Nama God Bless lalu seolah senyap, kecuali hanya menjadi gosip para pencinta rock termasuk ketika Gilang Ramadan menggantikan posisi Teddy.

Dua belas tahun kemudian, God Bless mengeluarkan album “36th” [2009]. Formasi personel God Bless di album ini berubah total. Jockie digantikan Abadi, Gilang digantikan Yaya Muktio, dan Eet pun hengkang. Lima tahun tanpa album, God Bless hanya tampil sesekali di beberapa konser; hingga muncul ide untuk memperingati 40 tahun God Bless dengan mengundang Jockie dan Eet. “Saya melihat perjalanan God Bless seperti Yesus memanggul salib,” kata Titiek.

Bukan pendakwah
Titiek [nama aslinya Titiek Saelan] adalah istri Ian Antono. Dulu, dia penabuh drum di grup Princess Tone, bersama Sisca ibu dari Ronald [Gigi]. Pengandaiannya tentang perjalanan God Bless seperti Yesus memanggul salib mungkin berlebihan, tapi dalam konteks yang berbeda, God Bless memang menanggung salibnya sendiri.

Pertama, God Bless hanya dikenal sebagai grup rock dengan segala predikat buruk yang ditimpakan sebagian orang, tapi tidak sebagai kelompok seniman yang sejak awal sebetulnya banyak menyuarakan kritik sosial lewat lirik-lirik lagu mereka; jauh sebelum grup-grup musik atau penyanyi lain melakukannya. Kritik-kritik God Bless bahkan sudah muncul sejak album pertama God Bless [1975].

Lagu “Setan Tertawa” misalnya menceritakan tentang kehidupan anak-anak muda yang melarikan diri ke “dunia malam” karena sikap orang tua yang sibuk mengejar jabatan dan harta sehingga lupa mengurus anak-anak mereka. Masa itu, Indonesia sedang booming minyak. Orde Baru sedang gencar-gencarnya menggiatkan jargon pembangunan dan banyak orang yang mengejar jabatan. Remaja-remaja perempuan banyak yang hamil di luar nikah, dan remaja-remaja laki-laki banyak yang terjerat narkoba. Anak gadis dipaksa menikah dengan pejabat dan banyak pejabat menghamili anak-anak SMA yang celakanya, dijual oleh para orang tua mereka.

Di album Cermin, God Bless antara lain mengkritik manusia yang suka berperang dan bermusuhan karena perbedaan paham, aliran dan ideologi lewat “Anak Adam.” Lagu “Selamat Pagi Indonesia” [liriknya ditulis Theodore KS] di album ini berisi” protes” terhadap eksekusi mati narapidana Kusni Kasdut. Kusni adalah eks pejuang kemerdekaan yang kemudian memilih menjadi perampok karena kecewa dengan pemerintah. Dia sempat dipenjara di Nusa Kambangan, tapi kemudian ditembak mati pada sebuah pagi.

Simaklah lagu “Balada Sejuta Wajah” yang mengkritik pembangunan kota yang tidak manusiawi dan selalu menyisihkan orang-orang miskin. Tema serupa diulang God Bless dalam “Rumah Kita” [Semut Hitam] yang mengajak manusia tak bermigrasi ke kota. “Lagu itu mengingatkan saya pada rumah kecilyang tenang di Malang,” kata Ian.

God Bless juga merekam kesulitan banyak orang menjangkau harga-harga kebutuhan bahan pokok lewat “Kehidupan” [Semut Hitam]. Menyindir para pejabat dan anggota DPR lewat “Badut-Badut Jakarta.” Mereka semua digambarkan sebagai badut-badut tanpa gincu yang tertawa-tawa ketika rakyat justru semakin tak berdaya. Lagu “Raksasa” [Raksasa] malah seperti menonjok para elit yang berkuasa dan terus berkorupsi.

Kritik-kritik dari syair lagu God Bless terus bermunculan hingga di album keenam 36th. Lagu “NATO” [ditulis Cahya Sadar] misalnya menyindir perilaku orang-orang yang hanya suka berjanji dan berdebat tapi sulit mewujudkannya, atau “Biarkan Hijau” yang menyerukan manusia menghentikan pengrusakan lingkungan hanya demi keuntungan. God Bless memotret semua itu tanpa berpertensi sebagai pendakwah.

Ian mengakui, isi lirik lagu God Bless memang penuh kritik sosial, tapi God Bless tak bermaksud mengubah keadaan atau menjadi tukang kritik. God Bless memilih berada di pinggiran dan tak hendak membuat sejarah dengan dikenang sebagai kelompok musik atau penyanyi yang vokal dan kritis, sembari diam-diam mengambil keuntungan dari penjualan album; melainkan hanya ingin dikenal sebagai grup rock. Abadi menyebut, God Bless hanya sebagai band panggung. Hanya itu dan sesederhana itu.

Kedua, God Bless bahkan tak punya atau menyimpan master rekaman dari hampir seluruh album mereka. Dokumentasi tentang mereka pun sangat sedikit. “Zamannya berbeda. Waktu itu, manajemen kami memang buruk,” kata Abadi.

Lintas ras, lintas agama
Di tengah bongkar-pasang personel dan manajemen yang [sempat] amburadul itulah, God Bless bertahan dan terus digemari. Dan God Bless tetaplah God Bless: grup rock yang tampil apa adanya, dan jauh dari gambaran para pesohor yang dipoles banyak imaji. Di atas panggung mereka mungkin tampil eksentrik dan penuh gaya, tapi seperti digambarkan oleh Jockie,  di keseharian, semua personel God Bless adalah pribadi  santun, sederhana, dan ramah. Titiek bercerita, tidak pernah di antara mereka saling memaki atau mencela apalagi untuk urusan agama dan ras. Mereka bertenggang rasa.

Bahwa para personel God Bless berlatar belakang ras dan agama yang berbeda, adalah sebuah kenyataan. Ian berdarah campuran Cina-Jawa. Iyek keturunan Arab. Donny berdarah Sangir Talaud. Teddy keturunan Cina. Abadi dan Jockie orang Jawa; dan Eet berasal dari Kalimantan.

Ian dan Titiek yang Katolik, malah sering sibuk mengurus acara pengajian atau acara buka bersama yang diadakan oleh personel God Bless yang muslim. Di acara-acara semacam itu, Titiek biasanya akan tampil dengan kerudung, dan Ian berpakaian koko. Sebaliknya bila Natal; Iyek, Donny dan yang lainnya, juga datang ke rumah Ian mengucapkan selamat Natal.

Mereka juga terikat dengan hubungan emosional yang lekat. Jockie misalnya, sering curhat pada Titiek. Begitu pula dengan Iyek. Ketika anak-anak mereka sudah dewasa, Iyek sering menitipkan pesan pada Rocky [anak Ian] agar mengingatkan Ozzi dan Fachri [anak Iyek] untuk tidak lupa makan [Rocky, Ozzi dan Fachri tergabung dalam grup rock Jibriel, bersama Nara]. Saking eratnya hubungan emosi mereka, bila ada masalah antarmereka, mereka juga tak mau mengungkapkannya karena kuatir menyakiti. Sebagai gantinya, mereka langsung keluar dari God Bless. “Pada dasarnya, mereka semua adalah pribadi yang penyabar, pemalu, dan tidak banyak bicara,” kata Titiek.

Sabtu besok; para lelaki gaek penyabar, pemalu dan tak banya bicara itu akan pentas di Bandung; membawakan 20 lagu termasuk “Getting Old” dari James Gang. Konser yang juga akan diiringi Paragita, kelompok paduan suara dari Universitas Indonesia semacam itu mungkin tak akan pernah ada lagi; kecuali berkat Tuhan terus berlimpah untuk God Bless. “Ketemu nang Bandung ya Rus? Salam gae anakmu,” kata Ian.

*Rusdi Mathari, bukan pengamat musik, hanya wartawan penggila God Bless.