CaptureDaya kritis digunakan hanya untuk menyerang kelompok yang dianggap berseberangan. Dimanfaatkan untuk mengkampanyekan kepentingan orang-orang yang sekubu. Menggiring opini dan persepsi agar publik bisa diarahkan dan percaya dengan berita mereka, dengan yang mereka beritakan. Media lalu menjelma seperti papan pengumuman atau selebaran propaganda. Buram dan penuh insinuasi.

oleh Rusdi Mathari
Goenawan Mohamad dan Gunawan Muhamad tentulah berbeda, tapi artikel berjudul “Terima Kasih Setya Novanto” yang “ditulis” oleh Gunawan Muhamad bisa mengecoh. Orang-orang yang tidak paham, bisa menyangka artikel itu adalah karya Goenawan Mohamad, GM, pendiri majalah Tempo. Bahkan beberapa orang yang seharusnya mengerti pun, ada yang telanjur percaya tulisan itu benar karya GM lalu menyebarkannya ke sana ke mari karena di artikel itu, sebelumnya konon juga terpampang foto GM.

Kalau GM kemudian membuat pengumuman di halaman Facebook: “Tulisan yang berjudul ‘Terima Kasih Setya Novanto’ yang disertai foto saya, bukanlah tulisan saya. Saya tidak tahu motif orang yang menulis itu”, karena itu bisa dipahami. GM perlu melakukan itu. Bukan semata untuk menolak anggapan atau demi nama baik, melainkan untuk ketertiban, demi etika jurnalistik.

Tulisan yang dimaksud oleh GM adalah tulisan yang dimuat di Teropong Senayan, Jumat pekan lalu. Media itu mencantumkan alamat kantornya di DBS Bank Tower Lantai 28, Ciputra World 1, di kawasan Casablanca, Jakarta. Ada nama M. Hatta Taliwang dan Bambang Wiwoho di susunan redaksinya. Nama keduanya ditulis sebagai penasihat tapi tidak ada nama Gunawan Muhamad di sana. Tidak juga ada keterangan di artikel “Terima Kasih Setya Novanto” yang ditolak oleh GM sebagai karyanya: siapa Gunawan Muhamad.

Gunawan Muhamad, “penulis” itu tampaknya sengaja dibuat misterius agar orang terkecoh dan percaya, tulisannya adalah karya GM, entah apa maksudnya. Dan tentu saja hal itu menjengkelkan, karena orang-orang yang bekerja di media itu, setidaknya sudah dua kali mengecoh.

Bulan lalu, mereka menyalin tulisan dari situsweb satire Mojok.co berjudul “Jokowi Stop Kontrak Karya Freeport” tanpa menyebut sumbernya: Mojok.co. Sudahlah mencuri, artikel di Mojok.co diganti judulnya, dipotong, dan ditambahi kalimat penutup seolah-olah benar seperti yang mereka sebarkan itulah artikel asli yang dimuat di Mojok.co.

Memuakkan, tapi inilah masa ketika banyak orang media mulai menyingkirkan tata krama jurnalistik, meskipun media semacam Teropong Senayan, sebetulnya hanya meniru atau belajar dari cara kerja media arus utama [terutama online] yang seringkali mencuri tulisan orang, dan juga mengecoh. Status Facebook atau Twitter misalnya, dengan mudah dicomot untuk dijadikan berita disertai predikat seenaknya kepada penulis status Facebook atau Twitter. Dan hanya karena bekerja di media, berbekal kartu pers dan disebut wartawan, mereka tak malu menjadi the clicking monkeys: menulis apa saja yang dipungut dari sumber apa saja dan tanpa malu tak mencantumkan asal-usul sumbernya.

Lebih setahun yang lalu, banyak media besar ramai memberitakan kabar tentang PM Singapura Lee Hsien Loong yang memutuskan untuk tidak berteman dengan Presiden SBY di Facebook. Lee dikabarkan juga menghilangkan tag foto SBY di album foto di Facebook miliknya, dan ternyata berita itu adalah hoax.

Berita yang dikutip dari newnation.sg, media Singapura itu, mulanya hanya dikutip oleh satu media, tapi seperti biasanya, media di sini lalu beramai-ramai mengekor karena takut dianggap ketinggalan isu. Tak ada usaha dari wartawan yang mengutip untuk memeriksa ulang: apakah akun Lee di Facebook adalah benar miliknya, begitu juga dengan akun SBY; dan apakah situs newnation.org adalah media olok-olok atau bukan. Sebuah media ternama yang terbit di Jakarta, yang juga menyebarkan berita itu, sehari kemudian meralatnya dan menyebut akun SBY di Facebook yang dimaksud adalah halaman para pendukung [fanpage]. Artinya bukan akun pribadi SBY.

Lalu, yang juga sering terjadi, beberapa orang di media “melibatkan diri” sehingga medianya menjadi partisan, menjadi juru bicara dan pemandu sorak dari berbagai kepentingan politik. Ini antara lain terlihat ketika orang-orang media melalui media mereka menyikapi isu Freeport setelah hiruk-pikuk masa kampanye Pilpres tahun lalu.

Daya kritis digunakan hanya untuk menyerang kelompok yang dianggap berseberangan. Dimanfaatkan untuk mengkampanyekan kepentingan orang-orang yang sekubu. Menggiring opini dan persepsi agar publik bisa diarahkan dan percaya dengan berita mereka, dengan yang mereka beritakan. Media kemudian menjelma seperti papan pengumuman atau selebaran propaganda. Buram dan penuh insinuasi. Sebagian hanya dusta karena menyebarkan informasi hoax seperti berita tentang SBY dan PM Singapura itu.

Tentu  sebagian besar orang-orang media, mendaku diri dan media mereka sebagai independen, meskipun pengakuan seperti itu bisa dipersoalkan: independen dari siapa. Almarhum Syu’bah Asa, eks wartawan Tempo dan pemimpin redaksi majalah Panji Masyarakat, pernah mempersoalkan hal ini.

Lewat tulisan “Pers yang Fasik dan Berpahala” di Panji Masyarakat, 17 tahun lalu, Syu’bah memberi gambaran bahwa di rapat-rapat redaksi media, ada teknik, skenario kerangka pemberitaan, yang sesungguhnya dirancang lebih dahulu sebelum mereka menurunkan berita. Dan hal itu tak keliru sebab berita sudah seharusnya direncanakan dan diseleksi.

Yang keliru dan berbahaya adalah apabila kerangka berita mewujud menjadi kerangka pandang si wartawan, sebuah bagian yang lebih halus yang bisa tidak disadari. Lebih berbahaya lagi, kalau temperamen yang “kukuh”, memutlakkan sebuah kerangka berpikir dengan kesiapan selalu menolak rangsangan apa pun yang memungkinkan pengubahan gambaran yang sudah jadi.

Maka bahan-bahan tulisan akan diperlakukan sebagai hanya batu-batu bata untuk melahirkan kembali [dan kembali] gambaran dalam diri si penulis lewat outline kerangka. Kepada pembaca, yang kemudian disajikan bisa berbeda dari kenyataannya, dan kefasikan muncul dalam bentuk manipulasi. Tekniknya banyak.

Antara lain lewat sistematika tulisan, dengan meletakkan yang ingin ditonjolkan di bagian pembuka atau sebagai penutup dengan ending model pengunci, sementara yang ditekankan ke dalam pikiran pembaca itu, diketahui si wartawan sebagai bukan yang semestinya. Menyamarkan hal-hal tertentu dan menonjolkan hal lain secara tak adil. Juga mem-blow up sebuah detil kecil dengan maksud menutupi seluruh kesan yang lain. Dan “Terima Kasih Setya Novanto” adalah termasuk manipulasi  yang dilakukan oleh orang-orang media itu.

Tulisan itu menyembunyikan sesuatu, nama penulisnya, dan mencoba menarik perhatian agar orang percaya, benar telah ditulis oleh GM, pendiri majalah Tempo. Sungguh menjengkelkan, tapi sekali lagi, media yang melakukan hal-hal semacam itu, sebetulnya hanya meniru dan belajar dari cara kerja media arus utama, yang orang-orang yang bekerja di dalamnya kerap mendaku independen itu.