Pemakaman Nasrudin ZulkarnaenEmpat hari sebelum kematiannya, Nasrudin muncul di rumah Sri Martuti, istri pertamanya. Minta dimasakkan kepala ikan, lahap dia bersantap.

oleh Alfred Ginting dan Rizky Amelia
ITU hari Sabtu. Astri, Afrizal Adriansyah dan Sri Martuti, bersantai di rumah. Dan berita di televisi membawa kabar buruk. Nasrudin Zulkarnaen, ditembak di dalam sedan BMWnya. Dua peluru bersarang di pelipis kiri Nasrudin.

Afrizal, adik Astri paling shock mendengar berita itu. Rabu malam, empat hari sebelum meregang nyawa, Nasrudin datang ke rumah Sri Martuti, di Perumahan Jatibening 1, Bekasi. “Papa minta dimasakkan makanan kesukaannya, kepala ikan,” kata Astri.

Sri mengabulkan permintaan suaminya. Afrizal, Sri dan Nasrudin makan bersama di meja. Astri tak ikut karena sedang berada di Bali. “Kami jarang makan satu meja dengan Papa. Dia makan banyak hari itu,” kata mahasiswi tingkat akhir Jurusan Teknik Industri sebuah perguruan tinggi di Jakarta itu.

Tak disangka makan malam itu menjadi pertemuan terakhir Sri dan Afrizal dengan Nasrudin. Minggu 15 Mei, Nasrudin sudah tak bernyawa lagi (Nasrudin ditembak Sabtu 14 Marte 2009 dan sempat dirawat selama 22 jam).

Tidak hanya keluarga Sri Martuti yang shock. Istri kedua Nasrudin, Irawati Arienda pasti mengalami hal serupa. Astri ingat ayahnya menikahi Irawati tanpa seizin Sri Martuti. “Tahu-tahu udah nikah saja. Mama sempat mendatangi rumah istri kedua Papa,” kata Astri.

Dia tak tahu apakah terjadi percekcokan antara ibunya dengan Irawati. Astri mendengar kabar pernikahan itu dari mulut ibunya. “Kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi.”

Merasa dikhianati, Sri yang berasal dari Yogyakarta meminta diceraikan. “Tapi Papa nggak mau. Akhirnya Mama terima dimadu,” kata dia.

Menurut Astri, Nasrudin beralasan menikah lagi karena menginginkan istri yang sepenuhnya melayani suami. Sosok ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah. “Mama kan kerja, sibuk. Istri Papa yang di Tangerang dulu pramugari Garuda, tapi setelah menikah berhenti kerja dan benar-benar jadi ibu rumah tangga,” cerita Astri.

Sri seorang pegawai negeri di Departemen Keuangan. Setelah Nasrudin menikah lagi, Astri merasa kehilangan kasih sayang dari ayahnya. “Terasa, kehilangan Papa. Biasanya setiap hari bertemu, jadi jarang tapi karena aku nggak begitu dekat sama Papa, deketnya sama mama, jadinya biasa aja,” kata Astri.

Meski sudah berkeluarga lagi, Astri masih bisa dengan sesuka hati meminta bertemu dengan ayahnya. “Pa, makan siang bareng yuk,” Astri menyebutkan ajakannya pada Nasrudin jika ingin bertemu.

Tak ada jadwal khusus hari apa Nasrudin harus tinggal di Jatibening. “Nggak ada jadwal. Paling kalau Lebaran, biasanya digilir. Hari pertama di rumah Mama, hari kedua di Tangerang. Tapi biasanya kalau lebaran kami pulang ke Makasar.”

Astri belum pernah bertemu dengan Arienda. Apalagi dengan istri ketiga ayahnya, Rani Juliani. “Kami tahu dari televisi” kata Astri. Sri, saat mengetahui Nasrudin menikah ketiga kalinya hanya berkomentar: “Papa… Papa…,” kata Astri menirukan ucapan ibunya.

Dermawan
Semasa hidupnya Nasrudin menjadi donatur penting di sekolah Afrizal, SMU 9 Halim. Kepala Sekolah SMU 9, Halidin Mukmin mengatakan Nasrudin pernah dua kali berkunjung ke sekolah anaknya. Di mata Halidin, Nasrudin sosok yang dermawan.

Selain menyumbang mimbar untuk khotib dan perbaikan lapangan basket sekolah, Nasrudin juga berjanji akan membantu perbaikan mesjid. “Tapi beliau tidak ada umur, jadi janjinya belum terealisasi,” kata Halidin.

Sebelum tersiar kabar tewanya Nasrudin, jajaran guru di SMA 9 hanya mengetahui Nasrudin sebagai pegawai BUMN. “Saya tidak tahu kalau dia direktur salah satu BUMN tapi saat melihat Afrizal di televisi, baru kami tahu,” kata Halidin.

Di sekolah ada kebiasaan, jika ada siswa yang tertimpa musibah, siswa lain mengumpulkan sumbangan. Begitu pula saat seisi SMU 9 mendapat kabar ayah Afrizal tewas. Namun sampai hari ini, sumbangan itu belum diserahkan. Ibunda Afrizal belum bersedia menerima kehadiran orang di rumahnya. “Kata Mama nanti saja Pak,” kata Halidin menirukan kata-kata Afrizal.

Bila keluarga istri pertama Nasrudin bisa terbuka, tidak demikian dengan keluarga istri keduanya, Irawati Arienda. Ketika Koran Jakarta mendatangi rumahnya di perumahan Banjar Wijaya Tangerang, tak ada penghuni yang menyambut. Tak terlihat tanda-tanda aktivitas penghuni dari arah depan rumah megah itu.
“Ibu tidak ada. Di Bandung, di rumah ibunya,” kata seorang wanita yang segera masuk kembali ke dalam rumah ketika ditanyai, Jumat lalu.

Seorang tetangga menuturkan Arienda yang biasa disapa Ira bukan sosok yang terbuka. Mantan pramugari itu jarang keluar rumah.

Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta Minggu 10 Mei 2009, Halaman 5 dengan judul “Kepala Ikan Terakhir Nasrudin”