Orang-orang kaya Indonesia yang berobat ke luar negeri telah menghabiskan devisa triliunan rupiah. Apa yang menyebabkan mereka, merasa lebih nyaman berobat ke rumah sakit di Malaysia atau Singapura, misalnya?

oleh Rusdi Mathari
Fakta yang terungkap di sebuah seminar tentang rumah sakit di Jakarta baru-baru ini, sungguh mengejutkan: 70 persen dari orang kaya Indonesia berobat ke luar negeri. Itu sama dengan dua per tiga dari total pasien di seluruh Indonesia. Koran Suara Pembaruan menulis, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Cina berusia 31-50 tahun.

Tiga tahun lalu, International Medical Journal mencatat, orang Indonesia yang berobat [terutama] ke Singapura dan Malaysia tidak sampai 500 ribu orang. Jumlahnya sangat sedikit bila dibandingkan dengan jutaan pasien yang berobat di rumah-rumah sakit di Indonesia. Tapi dari jumlah yang sedikit itu, sudah triliunan rupiah yang menguap di negara orang.

Mochtar Riady, pendiri jaringan Rumah Sakit Siloam di Indonesia menaksir, ada Rp 12 triliun yang dibelanjakan orang-orang Indonesia untuk berobat ke Australia, Amerika Serikat, Cina, dan Singapura. Itu hitungan yang konservatif karena menurut Bank Dunia tujuh tahun lalu, devisa Indonesia yang keluar akibat pasien-pasien yang berobat ke luar negeri mencapai Rp 70 triliun.

Sekarang,  kata dokter Supriyantoro, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, jumlah devisa yang keluar itu dipastikan mencapai Rp 100 triliun jika jumlah pasien yang berobat ke luar negeri tidak ada kecenderungan menurun. Tentu saja angka taksiran dari Mochtar maupun perkiraan dari Bank Dunia adalah jumlah yang besar.

Banyak alasan, mengapa orang-orang kaya Indonesia berobat ke luar negeri. Antara lain karena menganggap peralatan medis yang dimiliki rumah sakit di dalam negeri tidak lengkap. Dokter yang kurang profesional. Perawat yang selalu bermuka masam. Biaya perawatan yang mahal dan sebagainya. Singkat kata, pelayanan rumah sakit di Indonesia dianggap kurang memadai.

Tapi betul burukkah pelayanan rumah sakit di Indonesia?

Dari segi mutu, pelayanan medis dari beberapa rumah sakit di Jakarta atau Surabaya sebetulnya tidak buruk-buruk amat. Kualitas dokter dan pelayanannya juga tidak kalah profesional. Sebagian bahkan bisa disebut lebih baik dibandingkan dokter-dokter di Singapura atau Malaysia. Yang menjadi masalah adalah soal komunikasi, sikap dan empati kepada pasien.

Di Kuala Lumpur atau Singapura adalah hal yang biasa seorang pasien menelepon ke ponsel dokter untuk membuat janji atau membatalkannya. Di sana dokter bisa menunggu pasien yang sudah berjanji untuk berkonsultasi, meski datang terlambat. Para dokter itu juga menyediakan waktu cukup bagi pasien, untuk menjelaskan hasil pemeriksaan, tindakan medis selanjutnya, hingga rencana pelayanan medis yang dikehendaki oleh si pasien.

Perawat di sana juga diajarkan bersikap manis kepada setiap pasien. Sebelum diterima bekerja di rumah sakit, mereka dilatih tentang segala aspek pelayanan termasuk menampilkan diri secara akrab [bukan genit] kepada pasien. Intinya pasien harus dimanjakan. Perawat yang ketahuan ketus atau abai kepada pasien, langsung dipecat tanpa ampun.

Untuk kepastian soal biaya perawatan, di luar negeri semua menjadi terang sejak hari pertama pasien akan dirawat. Setiap rumah sakit memasang tarif yang jelas sehingga pasien sudah mendapat kepastian soal biaya yang akan dikeluarkan. Dengan kepastian semacam itu, pihak rumah sakit juga diuntungkan karena bisa mengendalikan mutu dan biaya.

Rumah sakit kemudian menjadi tempat yang menyenangkan, yang mempercepat kesembuhan pasien, dan bukan tempat yang menakutkan atau menyebalkan. Tidak heran, kalau pemerintah Malaysia dan Singapura misalnya, lantas juga berani menawarkan rumah sakit mereka sebagai tujuan wisata [travel medicine]. Mereka melakukan promosi, memberikan keringanan pajak bagi rumah sakit atau untuk peralatan kesehatan yang dibeli, dan sebagainya.

Suatu tawaran yang niscaya masih sangat mustahil dilakukan di Indonesia. Di Jakarta atau Surabaya, jarang atau sangat sedikit sekali, dokter yang bersedia memberikan nomor teleponnya kepada pasien. Pasien hanya bisa berkomunikasi dengan perawat, atau yang lebih celaka berhubungan dengan petugas yang hanya mencatatkan nomor antrean pasien. Tidak ada kata maaf bagi pasien yang datang terlambat karena dokter sudah keluar dari rumah sakit beberapa menit sebelumnya, untuk memeriksa pasien lain di rumah sakit yang juga berbeda. Sementara pasien harus bersabar menunggu kedatangan dokter, yang datang terlambat.

Untuk perincian biaya perawatan, semua bergantung kepada berapa lama pasien dirawat, dan jumlah atau jenis obat yang diberikan. Akibatnya biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya juga sulit diperhitungkan sejak awal. Sering terjadi pula, keluarga pasien bersitegang dengan pihak rumah sakit, karena berselisih soal biaya.

Maka kata Mochtar, perlu ada usaha serius membangun pelayanan rumah sakit di Tanah Air agar tidak ada lagi orang-orang Indonesia yang berobat ke luar negeri. Minimal, jumlah mereka bisa ditekan terus hingga semakin berkurang. Syukur-syukur rumah sakit seperti di Jakarta atau Surabaya kemudian juga berkembang menjadi tujuan wisata: perawat yang bersikap manis, dokter yang kompeten, rumah sakit yang bersih dan menyegarkan.

“Biarlah sang kakek yang sakit bisa disembuhkan oleh rumah sakit dan dokter spesialis nasional kita sendiri dengan dihibur oleh cucunya yang ada di sini,” kata Mochtar.

Kalau tidak ada usaha semacam itu, jangan disalahkan jika orang-orang kaya Indonesia terus pergi ke Singapura atau Malaysia hanya untuk berobat beberapa hari. Dan itu berarti, devisa negara akan terus berpindah membiayai rumah sakit di luar negeri.