China-Huadian-CorpPT Jawa Energi ditunjuk oleh Kementerian ESDM untuk membangun mega proyek pembangkit listrik di Cilacap senilai Rp 120 triliun, tapi siapa Jawa Energi?

oleh Rusdi Mathari
Aneh dan nyata. Bahkan Menteri ESDM Sudirman Said mengaku tidak tahu [pemilik dan pengurus] PT Jawa Energi yang telah ditunjuk langsung oleh kementeriannya untuk membangun PLTU Adipala di Cilacap yang diharapkan menghasilkan listrik berdaya 5.000 MW. Pak Menteri hanya bilang, Jawa Energi adalah perusahaan yang telah membangun dua proyek PLTU [yang sudah beroperasi] di Buleleng, Bali dan PLTA di Kalimantan Utara. Hitungan biaya yang diajukan oleh perusahaan itu untuk membangun PLTU di Cilacap, oleh Sudirman juga dianggap bagus. Selebihnya, dia mengaku hanya dikenalkan oleh Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji, yang celakanya juga tak bisa menerangkan tentang apa dan siapa Jawa Energi.

Nama Jawa Energi mencuat Kamis pekan lalu dalam rapat di Kantor Menko Kemaritiman dan hanya sedikit media yang memberitakannya. Kontan.co.id menyebut identitas dan kiprah Jawa Energi misterius sebab  sumber-sumber resmi yang dihubungi oleh wartawannya juga mengaku tidak tahu. Penyebutan misterius ini tentu masih spekulatif.

Di Google, nama Jawa Energi muncul di halaman pertama, tapi hanya tentang pemberitaan penunjukan langsung pembangunan PLTU di Cilacap itu. Kalau dicari dengan nama “PT Jawa Energy” maka yang muncul adalah nama-nama perusahaan yang berbeda dengan bidang pekerjaan yang juga berlainan. Maka untuk sementara, Jawa Energi harus disebut sebagai nama “baru” begitu juga dengan penulisan namanya, sampai ada data dan keterangan dari BPKM yang menjelaskan identitasnya. Dan kendati ada kesan seolah sengaja ditutup-tutupi, keterangan Sudirman yang menyebutkan Jawa Energi telah membangun PLTU di Bali dan Kalimantan Utara [Menko Kemaritiman Indroyono Susilo menyebut Kalimantan Barat], justru bisa dijadikan petunjuk awal untuk melacak Jawa Energi.

Ditulis oleh tambang.co, Ngurah Adyana, Direktur Operasional PT PLN untuk Jawa, Bali, dan Sumatera, menyebut, investor proyek PLTU Buleleng adalah China Huadian. Nama yang disebut terakhir adalah China Huadian Corporation yang berkibar dengan bendera China Huadian Group. Itu adalah raksasa pembangkit listrik dari Cina yang berkantor pusat di Beijing dan pernah masuk peringkat 368 “Fortune Global 500”.

Di negaranya, kelompok perusahaan itu membangun pembangkit listrik di Mongolia, Henan, Ningxia, Shicuan, Zhejiang, Anhui, Shandong sampai Hebei. Di profil perusahaan disebutkan, sampai akhir tahun lalu, kapasitas terpasang China Huadian mencapai 112.690 MW. Rinciannya: 85.620 MW berasal dari tenaga uap, 20.840 MW dari tenaga air, dan 6.290 MW dari pembangkit tenaga angin dan energi lainnya. Rasio energi bersihnya mencapai 30,6% dari total kapasitas terpasang. Total asetnya 654.6 miliar yuan.

Grup ini punya beberapa anak perusahaan, dan di Indonesia  menjelma sebagai PT China Huadian Engineering Indonesia. Oktober tahun lalu, perusahaan ini memasang iklan lowongan pekerjaan di The Jakarta Post untuk posisi manajer keuangan dan logistik.

Di PLTU Celukan Bawang, Buleleng, raksasa itu masuk lewat China Huadian Engineering Corporation dan China Huadian Development . Dua perusahaan itu digandeng oleh PT General Energy Bali untuk menggarap proyek jual-beli tenaga listrik sebesar 780 MW senilai Rp 7 triliun pada 2010. Penasehat keuangannya adalah Emerging Asia Capital Partners yang juga berada di Beijing.

Hampir sama dengan Jawa Energi, belum ada catatan yang memadai tentang General Energy Bali.

Pernah dicatat oleh businessweek.com, perusahaan itu berdiri sejak 2003 dan berkantor di Jakarta. Dari Yellow Pages diketahui, alamat kantor PT General Energy Bali berada di Sampoerna Strategic Square, Jalan Jendral Sudirman Kav 45-46 Sampoerna Strategic Square Tower B Lt. 30, Karet Semanggi, Setia Budi, Jakarta. Untuk nama pemilik dan eksekuktifnya, businessweek.com hanya menulis “PT General Energy Bali does not have any Key Executives recorded.” Maksudnya silakan tebak sendiri.

Selain membangun PLTU di Buleleng, China Huadian tahun lalu menggarap proyek PLTU Mulut Tambang di Banko Tengah, Muara Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini dikerjakan oleh China Huadian Hong Kong Company Ltd. bekerja sama dengan PT Bukit Asam, dengan membentuk perusahaan baru: PT Huadian Bukit Asam Power. Nilai proyek PLTU Mulut Tambang mencapai Rp 18,11 triliun dan diharapkan bisa menghasilkan daya listrik sebesar 1.240 MW.

Dengan proyek itu, Huadian Bukit Asam menjadi pemasok batubara kepada PLN. Kerjasama jual beli tenaga listrik ini menggunakan skema Built, Owned, Operate and Transfer dalam jangka waktu 25 tahun untuk memproduksi 8.695,53 GWh per tahun. Uangnya sebagian besar didapat dari utangan bank di Cina.

Untuk PLTU di Kalimantan Utara [PLTA Sungai Tayan], nama China Huadian sama sekali tidak tercatat. Tahun lalu, proyek senilai US$ 17 miliar ini dimenangkan China Power Investment Corporation dan akan selesai dalam waktu tujuh tahun. Tahun depan, PLTA ini sudah diharapkan bisa memproduksi listrik 700 MW.

Tapi, Baik China Huadian maupun China Power menggunakan satu bendera konsultan: China International Engineering Consulting Corporation.

Dan tentang Huadian ini, ada analisis menarik yang ditulis di asiasentinel.com, 10 Juli 2013. Di artikel itu disebutkan, perusahaan-perusahaan milik negara Cina termasuk Huadian, sudah banyak yang memenangkan kontrak-kontrak pembangunan PLTU atau PLTA di Indonesia selain kontrak-kontrak pertambangan dan perkebunan. China Power International dan China International Corporation bahkan mendapat saham yang dominan pada penambangan batubara. Sementara Huadian, dicatat sudah pernah masuk ke proyek PLTU di Cilacap bersama Shanghai Electric pada 2009 tapi proyek itu mendapat banyak kecaman karena mesin-mesinnya yang cepat rusak.

Sebagian proyek kerjasama itu dinilai telah menimbulkan ketegangan dan sentimen di dalam negeri Indonesia. Contohnya penjualan Gas Tangguh, dari Teluk Bintuni, Papua Barat.

Di zaman Megawati menjadi presiden [2002], BP Migas menandatangani kesepakatan dengan China National Offshore Oil Corp [CNOOC] untuk memberikan 2,6 juta ton gas alam cair dari lapangan Tangguh ke Fujian di Cina setiap tahun yang akan dimulai pada 2009. Harga awalnya disepakati US$ 2,4 per MMBTU. Harga itu dipatok sebesar 5,5 persen x Japan Crude Cocktail atau berdasarkan harga minyak di Jepang.

Saat itu, harga JCC dipatok maksimal US$ 26 per barel, dan itulah yang membuat harga gas Indonesia menjadi sangat rendah: hanya US$ 2,7 MMBTU. Dengan harga sebesar itu, negara diperkirakan hanya mendapat pemasukan rata-rata Rp 3,1 triliun per tahun hingga 20 tahun, sejak pengiriman gas pertama yang ketika itu disepakati akan dimulai 2009.

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono naik menjadi presiden, berkali-kali sejak 2006, pemerintah mencoba melakukan penawaran ulang dan berkali-kali pula CNOOC menolaknya. Dua bulan menjelang 2013, BP Migas akhirnya dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi. Lalu, Juni tahun ini CNOOC bersedia menyepakati harga baru: sebesar US$ 8 per mmbtu. Harga itu pun masih terbilang rendah.

Tulisan di asiasentinel.com juga mencatat, perusahaan-perusahaan Cina berbondong-bondong masuk ke Indonesia terutama pada masa setelah Soeharto meletakkan jabatan. Mereka banyak dibantu oleh pengusaha Cina di Indonesia. Kesepakatan besar-besaran yang pernah dilakukan pemerintah Indonesia dengan Cina terjadi pada 2008.

Dalam acara bertajuk “The Third Indonesia-China Energy Forum 2008” yang berlangsung di Jakarta, 12 Desember 2008, telah diteken delapan kontrak di sektor listrik, pertambangan, dan minyak dan gas bumi. Purnomo Yusgiantoro [menteri ESDM saat itu] menyebutkan, total investasi baru investor-investor Cina di delapan proyek itu mencapai Rp 35 triliun.

Dua tahun sebelumnya, ketika Jusuf Kalla sebagai wakil presiden berkunjung ke Cina, dia menyaksikan PLN meneken kesepakatan dengan empat konsorsium perusahaan Cina untuk pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebesar 10.000 MW senilaiUS$ 7 miliar. Salah satu dari empat konsorsium itu adalah China Huadian Corporation.

Jadi siapa Jawa Energi yang ketiban proyek besar tanpa tender itu?

Berdasarkan catatan asiasentinel.com dan merujuk kepada keterangan Pak Menteri Sudirman bahwa Jawa Energi yang tidak dikenalnya telah membangun pembangkit listrik di Buleleng dan Kalimantan Utara, perusahaan itu kemungkinan besar adalah bagian dari China Huadian Corporation. Kesimpulan ini tentu masih spekulatif, tapi sementara Sudirman [mungkin] masih malu-malu mengungkap identitas Jawa Energi, anggap saja perusahaan itu adalah kunci.

Kunci siapa, untuk siapa dan apa, mari bertanya pada juru kunci.