Ali Sadikin dan SK Trimurti adalah dua tokoh yang memiliki sikap keras dan pernah memberikan catatan tersendiri pada bangsa ini. Keduanya tutup usia dalam waktu yang hampir bersamaan hari ini.

Oleh Rusdi Mathari

SEPERTI SUDAH SALING BERJANJI, ALI SADIKIN DAN SK TRIMURTI tutup usia pada hari, tanggal yang sama dan waktu yang bersamaan. Ali Sadikin meninggal dunia di Rumah Sakit Glen Eagles Singapura sekitar pukul 18.30 waktu setempat, dan SK Trimurti meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta sekitar pukul 18.30 WIB. Belum ada penjelasan, apa penyakit yang diderita oleh Ali dan SK Trimurti kecuali keduanya memang telah berusia lanjut. Ali yang lahir di Sumedang, Jawa Barat 7 Juli 1927, tahun ini akan berusia 81 tahun sementara SK Trimurti yang lahir di Boyolali, Jawa Tengah pada 11 Mei 1912, telah melewati 96 tahun. Baik Ali maupun SK Trimurti adalah tokoh nasional yang dikenal memiliki sikap dan prinsip.

SK Trimurti yang bernama panjang Soerastri Karma Trimurti adalah wartawan yang dikenal memiliki idealisme profesi dan sikap. Beberapa kali dia harus mendekam di penjara karena tulisan-tulisannya yang kritis terhadap penjajahan Belanda. Mendiang suaminya, Sayuti Melik adalah pengetik naskah asli Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Keduanya menikah pada 1938 namun bercerai pada pada 1969. Pada saat pembacaan naskah Proklamasi oleh Sukarno, SK Trimurti terlihat mengenakan kebaya, posisinya membelakangi kamera dan berada tepat di sebelah kanan Fatmawati.

Selain sebagai wartawan, SK Trimurti adalah juga seorang guru dan aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Selain di Partai Indonesia, dia juga aktif memimpin Gerakan Wanita Sadar yang menjadi cikal bakal Gerakan Wanita Indonesia. SK Trimurti pernah pula belajar manajemen pekerja di (bekas negara) Yugoslavia. Ketika Sukarno menawarkan jabatan Menteri Sosial kepadanya pada 1959, SK Trimurti memilih untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Hingga masa Orde Baru, SK Trimurti terus bersikap kritis yang berpuncak pada keikutsertaannya untuk meneken Petisi 50, yang di dalamnya juga ada nama Ali.

Petisi 50 adalah petisi yang diteken oleh 50 tokoh pada 1980 untuk menyikapi pemerintahan Presiden Soeharto. Dalam sebuah pidatonya pada tahun itu, Soeharto antara lain menyebut ada usaha dari sekelompok orang untuk menggantikan Pancasila dengan ideologi lain melalui segala macam cara. Pernyataan Soeharto itulah yang antara lain disikapi oleh 50 tokoh, yang berasal dari berbagai latar profesi dan politik. Mereka meneken pernyataan keprihatinan yang lalu dikenal sebagai pernyataan keprihatinan dari Petisi 50. Menurut Ali, Soeharto telah salah menafsirkan Pancasila sehingga menjadi alat kepentingan kekuasaan semata.

Sikap dari Petisi 50, membuat Soeharto berang tentu saja. Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto antara lain menyatakan, “Apa yang dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya Petisi 50 itu tidak saya sukai.” Mereka, kata Soeharto, mengira seolah-olah pendapatnya bener dewe alias benar sendiri. Dengan retorika yang khas, Soeharto menuding Ali dan kawan-kawan sebagai “….merasa mengerti, tetapi pada dasarnya tidak mengerti Pancasila.”

Perseteruan antara Petisi 50 dengan Soeharto pada akhirnya mengakibatkan semua anggota Petisi 50 terkenal cekal. Mereka bukan saja tak bisa bepergian ke luar negeri, namun hak perdata dan hak ekonomi mereka juga dipersulit. Kalangan wartawan, bahkan dilarang memuat pernyataan mereka.

Ali memang orang keras. Sukarno menjulukinya kopig. Ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ali membuat pernyataan kontroversial dengan idenya untuk membuka lokalisasi perjudian legal di Kepulauan Seribu, Jakarta. Ali juga dikenal memiliki sikap dan keputusan kuat untuk menata Ibu Kota.

Dia misalnya dinilai berhasil memperbaiki fasilitas transportasi umum dengan mengadakan banyak bus kota, menata trayek angkutan umum, dan membangun ribuan halte. Di bidang kebudayaan dan pariwisata, dia menggagas tradisi penyelenggaraan pesta rakyat tahunan dalam rangka menyambut hari jadi kota Jakarta setiap 22 Juni melalui Pekan Raya Jakarta dengan merevitalisasi Pasar Gambir. Pemilihan Abang dan None Jakarta untuk pertama kali juga dirintis sejak zaman Ali. Khusus untuk mengembangkan kebudayaan Betawi, dengan berbagai cara Ali berhasil membangun cagar budaya Betawi di Condet, Jakarta Timur. Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senin, Taman Impian Jaya Ancol, dan Kota Satelit Pluit merupakan sebagian dari hasil karya Ali. Dia pula mencanangkan kawasan segitiga (Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Jenderal Gatot Subroto, dan Jalan H Rasuna Said) sebagai pusat bisnis Jakarta meskipun setelah itu, kota tua Jakarta menjadi terabaikan. Singkat kata, Ali dinilai sebagai Gubernur DKI Jakarta yang punya konsep.

Sebulan sebelum meninggal dunia, Ali sempat melakukan pemeriksaan menyeluruh di Rumah Sakit St, Carolus, Jakarta. Lima tahun lalu, Ali pernah menderita gagal ginjal dan sempat di rumah sakit militer di Ghuang Zhou, Cina selama tujuh bulan. Ali baru bisa pulang ke tanah air setelah mendapat cangkokan ginjal tapi berat tubuhnya berkurang 25 kilogram. “Ayah dirawat di Singapura sudah hampir sebulan,” kata Edi Sadikin di rumah duka Jalan Borobudur No.2 Menteng, Jakarta Pusat kepada dan Ismayanti Hasuan dari JakartaPress.com

Rabu besok sekitar pukul 9 pagi, jenazah Ali diharapkan sudah tiba di Jakarta sebelum dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Adapun SK Trimurti, belum diketahui akan dimakamkan di mana. Dua tokoh ini, akan tetapi, sangat layak mendapat kehormatan dan penghargaan negara termasuk misalnya untuk dimakamkan di TMP Kali Bata, Jakarta Selatan.

Keterangan gambar
Ali Sadikin ketika dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Sukarno-ceritaindonesia.wordpress.com
SK Trimurti ketika diberikan penghargaan oleh Presiden Sukarno-www.vhrmedia.net