Joko adalah orang yang mengaku menemukan Blue Energy, bahan bakar alternatif pengganti BBM. Tapi sejak 7 Mei 2008, Joko tak diketahui keberadaannya.

oleh Rusdi Mathari
JANGAN MENCARI JOKO SUPRAPTO, TIDAK JUGA FOTONYA JIKA tidak ingin kecewa. Lelaki yang melesat namanya sejak mendaku menemukan penggunaan bahan bakar alternatif Blue Enegry, raib sejak 7 Mei sila. Istri dan anak-anaknya mengaku tak tahu di mana suami dan ayah mereka. Di Google, foto Joko bahkan tidak terlacak.

Joko, lelaki itu, sejauh ini memang luput dari perhatian media. Namanya mencuri perhatian ketika berlangsung acara perubahan iklim PBB di Bali, tahun lalu. Waktu itu, Joko bersama timnya tiba di Bali dengan dua mobil Ford Ranger 2500 CC, satu Isuzu Panther 2500 CC Diesel, satu Mazda Familia 1800 CC dan satu Bus Mitsubishi 4000 CC. Di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mereka melaporkan penggunaan bahan bakar alternatif non BBM yang diberi nama Blue Energy atau Minyak Indonesia Bersatu. Sesuai namanya, bahan bakar itu bersumber dari air.

“Seluruh mobil itu bisa sampai di Denpasar dan langsung dicek di bengkel yang dilengkapi dengan alat uji emisi dari PBB. Hasilnya, seluruh mobil dalam kondisi yang sangat baik,” kata Heru Lelono, Ketua Tim Blue Energy, sesaat setelah melaporkan hasil yang didapat oleh timnya kepada SBY.

Namun bukan soal keberhasilan kendaraan uji coba itu yang menarik. Di balik itu semua, ada nama Joko sebagai penemu bahan bakar berbahan air. Joko melakukan penelitian tentang bahan bakar air sejak 2001 di rumahnya, di Ngadiboyo, Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur. Dia mengaku idenya berasal dari Al Quran. “Semua yang ada di bumi bermanfaat bagi kehidupan manusia,” kata Joko seperti dikutip Radar Kediri edisi 4 Desember 2007.

Ide dan penelitian Joko, semula banyak mendapat penolakan dan cemoohan. Rumah tangganya beberapa kali terancam bubar karena Joko membiayai penelitiannya dengan uang yang didapat dari hasil menjual barang-barang yang ada di rumahnya. Para akademisi meragukan penelitiannya dan Joko dianggap orang tak waras. Namun ketika Joko berhasil menyelesaikan penelitiannya pada 2005 dan dibuktikan pada acara perubahan iklim di Bali, banyak pihak yang mulai memperhatikan Joko.

Dari pernyataan-pernyataan Joko yang dimuat media, diketahui bahan bakar sintetik temuannya dibuat dari pengganti molekul hidrogen dan karbon tak jenuh. Proses pembuatannya sama dengan minyak fosil tetapi dengan kadar emisi yang jauh lebih rendah. Prinsip kerjanya adalah memisahkan H plus dan H2 min dengan bantuan katalis-katalis dan proses tertentu sampai menjadi bahan bakar dengan jumlah ikatan karbon tertentu. Karbon kkarbon (C-C) yang bergandengan dipisahkan. Joko mengistilahkan pemisahan C-C sebagai “orang pacaran yang diganggu”. Semua air termasuk air tanah, menurut Joko bisa dijadikan Blue Enegy, tapi ”Paling bagus air laut kalau air tanah, kasihan warga karena harus menyedot dari bumi.”

Sebelum mengenalkan temuannya pada acara perubahan iklim itu, Joko sebetulnya sudah sempat bertemu dengan Presiden SBY pada awal 2006. Pertemuan itu membuat SBY terkesan, dan pada Minggu 25 November 2007, Joko bersama tim berangkat dengan dari kediamaan SBY di Cikeas, Bogor menuju Bali dengan kendaraan yang semuanya berbahan bakar air. Hasilnya pada 3 Desember 2007, lima kendaraan dari berbagai jenis itu sukses tiba di Bali tanpa mengalami gangguan apa pun. Di Bali, rombongan ini mengikuti eksebisi clean air, clean fuel and clean vehicle.

“Sudah dicoba sendiri oleh Bapak Presiden. Beliau kemarin sempat duduk di belakang knalpot bus ini sambil menciumi asapnya. Paspampres (pasukan pengamanan presiden) sempat kerepotan takut Presiden karacunan, tapi tidak. Coba saja,” kata Heru dikutip Jawa Pos edisi 30 November 2007.

Konon bahan bakar air temuan Joko sudah mulai diproduksi di Cikeas. Dibandingkan harga BBM yang rata-rata di atas Rp 5.000 per liter, bahan bakar air milik Joko hanya berharga Rp 3.000 per liter.

Kini di tengah krisis energi BBM dan harganya yang mahal, nama Joko kembali banyak disebut orang karena temuannya dapat dijadikan alternatif bahan bakar pengganti BBM berbahan fosil. Alumnus Fakultas Teknik Elektero UGM, Yogyakarta itu, kemudian dikabarkan berangkat ke Jakarta dengan pesawat udara melalui Bandara Juanda, Surabaya, 7 Mei 2008. Dan sejak itu, keberadaan Joko tak diketahui oleh keluarganya. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi. Aparat intelejen dari Kodim dan Polres Nganjuk menurut Radar Kediri juga sibuk mencari keberadaan Joko. Ada yang menyebutkan, Joko sedang dicari-cari oleh SBY.”Dia sekarang sedang dicari-cari,” kata salah satu teman dekat Joko kepada Radar Kediri edisi 21 Mei 2008.

Kepada harian yang sama, Winda, istri Joko mengatakan, dirinya sedang menunggu sampai batas waktu yang diberikan oleh suaminya, 20 Mei. “Kalau ternyata sampai tanggal 20 tidak pulang, saya baru ambil tindakan,” kata Winda.

Ke mana Joko pergi?

Mudah-mudahan dia memang “bertemu” dengan SBY. Bukan diculik oleh pihak tertentu seperti spekulasi banyak orang.