IMG-20130712-00290Ingin bertemu Tuhan? Lewat apa dan bagaimana? Lalu setelah bertemu Tuhan, Anda mau apa?

Judul: Cosmic Intelligence
Penulis: Rd. Aas Rukasa
Penerbit: Pituari Inspira Semesta
Cetakan: 2013
Halaman:  xviii + 215

oleh Rusdi Mathari
Bila pertanyaan-pertanyaan semacam itu suatu ketika pernah hinggap di benak Anda,  ketahuilah terlebih dulu bahwa semua hal tidak memungkinkan bertemu Tuhan karena beberapa sebab. Yaitu sebab dibicarakan, dibayangkan, dirasakan, dipetakan, direncanakan, dan diteorikan.

Bicara bersifat dimensional entah melalui kecerdasan akal maupun emosional. Sehingga baik yang berbicara maupun yang mendengarkan tidak akan menjangkaunya. Bayangan pun dimensional. Ia holografis realita peta ruang-waktu yang tidak pernah aman dari distorsi. Begitu juga rasa memiliki daya jangkau terbatas sehingga seringkali terjadi kesalahan [ketidakmampuan mengendalikan]. Tuhan bukan pula di alam yang bisa dipetakan. Dan kalau untuk bertemu dengan Tuhan direncanakan, maka Tuhan telah ditempatkan dalam konteks yang bisa diprediksi dan dipersepsi. Ada pun teori adalah produk logika yang juga memiliki keterbasan.

Maka bila bertemu dengan orang yang menyatakan “Aku bertemu Tuhan” pernyataan itu harus diabaikan karena Tuhan bukanlah obyek pengamatan. Pemahaman dan pertemuan dengan Tuhan tidak mungkin terjadi dengan menggunakan jarak biarpun “sesaat sebelum mencapai Tuhan” karena pada saat manusia berada pada area [yang meskipun hanya sedikit] dimensional, ego, otoritas, dan keberpihakan; ia tidak mungkin mendefinisikan Tuhan. Itulah yang lalu menyebabkan daku seseorang telah bertemu dengan Tuhan menjadi selalu gugur ketika pengakuannya itu dibicarakan dengan orang lain, karena selain subyektif juga tidak bisa dibuktikan. Justru yang terjadi adalah Tuhan mendefinisikan diri-Nya sesuai kalimat “Yang ada hanyalah Allah.”

Antara lain hal-hal seperti itulah yang diserukan oleh buku ini. Anda boleh setuju dan menolaknya tapi penulis buku ini tidak hendak membawa Anda bertemu atau tidak bertemu dengan Tuhan. Dari uraiannya, penulis buku ini tampak hanya sedang berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang perlunya manusia mengenali diri dan Tuhan. Setidaknya karena manusia dibekali oleh akal, dan akal baru sempurna berfungsi bila muncul kecerdasan kosmik [cosmic intelligence] pada manusia; meskipun tentu saja akan ada yang bertanya apakah kecerdasan kosmik itu?

Ditulis di buku ini, kecerdasan kosmik adalah kecerdasan yang melampaui kecerdasan akal dan kecerdasan emosional. Ia adalah kecerdasan yang digali dari pengalaman transpersonal dan melalui proses transformasi kesadaran hingga mencapai kesadaran kosmik. Intinya adalah sebuah kesadaran yang harus dikenali dan dipahami. Cara mengenalinya bisa melalui bermacam-macam: Peningkatan wawasan, pengetahuan maupun lewat sains dan sebagainya. Begitu pula untuk memahaminya: Bisa melalui perenungan-perenungan sesuai dengan hasil yang diperoleh dari pendekatan keyakinan, religi, dan kearifan.

Penulisnya yang lulus dari Fakultas Mesin ITB [dikenal pula sebagai pendiri dan pembina Lembaga Seni Pernapasan Radiasi Tenaga Dalam; dan  Cosmic Link di Bandung dan mulai berkembang di Jakarta], tampak piawai memadukan pengetahuan sains dengan setumpuk teorinya, dan pengalaman spritiual pribadinya. Dari tentang akal, kesadaran, realita, sains hingga tentang ketiadaan [fana]; dan posisinya untuk bisa mengenal diri dan Tuhannya.

Hal tentang kefanaan misalnya, dijelaskan sebagai sebuah pengalaman kesadaran mandiri tanpa melibatkan pikiran. Jika pikiran hanya bekerja berdasarkan persepsi, maka kefanaan terbebas dari semua persepsi. Dan pengalaman ketiadaan, fana itu, hanya terjadi atau menimpa kepada orang-orang yang memiliki keyakinan kuat. Dan keyakinan yang sejati memberikan syarat kepada pikiran untuk “tidak ingin” dan “tidak menolak”; “tidak takut” dan “tidak berani”; “tidak bertanya” dan “tidak mempertanyakan”; dan seterusnya.

Tentang kecerdasan kosmik itu sendiri adalah kecenderungan yang kini ramai diperbincangkan dan digandrungi orang banyak. Orang-orang yang mulai menyadari atau setidaknya secara sadar mulai bertanya: Siapa mereka dan siapa Tuhan; dan hubungannya antara keduanya. Di Google, Anda bisa menemukan ribuan definisi tentang kecerdasan kosmik itu berikut aneka perkumpulannya yang tersebar mulai dari India hingga Amerika, dari Australia hingga Rusia.

Soal apakah orang-orang yang terlibat dalam kesadaran dan perkumpulan-perkumpulan semacam itu kemudian mewujudkan kecerdasan kosmik pada dirinya menjadi perilaku dan kesadaran perbuatan, hal itu adalah perkara lain. Dan semestinya itulah kekuatiran terbesar dari kesadaran dan perkumpulan-perkumpulan kecerdasan kosmik itu, yaitu terjebak pada wacana. Mereka menyadari dan memahami, siapa dirinya dan siapa Tuhannya tapi kesadaran dan pemahaman itu malah hanya membuat mereka berputar-putar dan semakin membuat jarak sehingga semakin tidak mengenali diri dan Tuhannya.

Membaca buku ini, pembaca [seharusnya] akan dibawa pada kesadaran bahwa puncak dari ilmu adalah [untuk] mengenal Tuhan. Dan berabad-abad yang lampau, seorang sufi besar yaitu Abu Yazid al Bustami sudah menyadari, memahami dan melaksanakan kesadaran dan pemahamannya itu. Kata dia “Aku tidak akan pernah mengambil ilmu dari yang mati [uraian dan kitab-kitab yang ditulis manusia] yang selamanya tidak akan hidup, tapi aku akan mengambil ilmu dari Yang Hidup yang selamanya tidak akan mati.”

Apakah Anda sudah bertemu dengan Tuhan?

Tulisan ini juga bisa dibaca di BlogTempo.