Siapa Philip Dorling, wartawan yang pada Jumat silam menulis bocoran Wikileaks tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?

oleh Rusdi Mathari
Siapa Philip Dorling, wartawan yang menulis bocoran Wikileaks tentang Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, hari ini?

Itulah kalimat pertama dari tulisan James Massola, wartawan The Australian National Affairs, 8 Desember 2010 ketika menulis tentang siapa Dorling. Hari itu, berdasarkan bocoran dokumen Wikileaks, Dorling “menelanjangi” Rudd, dan menyebutnya sebagai orang yang bekerja seenak hati, “control freak,” dan tidak berpengalaman menjalankan kebijakan luar negeri Australia. Tapi Rudd bukan saja tak menanggapi tulisan Dorling melainkan juga mengabaikannya.

Lalu, Jumat silam, Dorling kembali menuliskan bocoran Wikileaks. Kali ini, tentang sepak terjang politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dimuat menjadi berita utama di The Age, SBY disebut-sebut telah menyalahgunakan kekuasaan, karena antara lain memerintahkan Hendarman Supandji [ketika menjabat jaksa agung muda pidana khusus] untuk menghentikan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Taufik Kiemas, suami Megawati.

Bocoran lain Wikileaks yang ditulis oleh Dorling adalah tentang hubungan antara SBY dengan pengusaha Tomy Winata melalui T.B. Silalahi [pensiunan jenderal yang pernah menjadi penasihat politik senior Presiden SBY]. Ada juga tentang Kristiani Herawati [istri SBY] dan keluarga dekatnya yang ditulis ingin memperkaya diri melalui koneksi politik mereka. Juga tentang Jusuf Kalla yang dilaporkan telah membayar jutaan dolar Amerika agar bisa mengendalikan Partai Golkar.

Istana terlihat panik, tentu saja. Melalui Menteri Luar Negeri, Marty  Natalegawa, pemerintah menyatakan akan mengirimkan hak jawab kepada The Age, dan juga Sydney Morning Herald, yang juga menulis tentang SBY berdasarkan bocoran Wikileaks. Tak lupa Scot Marciel, Duta Besar Amerika untuk Indonesia “diminta” ikut bicara dan menyatakan penyesalan atas dimuatnya laporan Wikilekas oleh dua koran Australia itu.

Lalu beberapa orang yang dianggap dekat dengan SBY terdengar serius membantah berita The Age dan Sydney Morning Herald, dan intinya menganggap tulisan dua koran itu tidak bermutu karena tidak ada konfirmasi. Tapi siapa Dorling, wartawan yang menulis tanpa konfirmasi itu?

Dorling kali pertama bekerja sebagai wartawan atau tepatnya koresponden lepas di The Times Canberra pada Juni 2008. Itu hampir setahun setelah Peter Fray [wartawan senior Australia yang disebut-sebut memiliki hubungan khusus dengan Dorling] meninggalkan The Times Canberra dan diangkat sebagai editor di The Age edisi Minggu. Di The Age, Dorling adalah orang pertama yang direkrut Fray, meskipun riwayat hidup Dorling terbilang misterius.

Dorling adalah doktor sejarah dari Universitas Flinders, Australia. Dari yang bisa dikumpulkan oleh Massola, Dorling hanya dicatat pernah bekerja di tiga lembaga. Yakni di Departemen Perdagangan [1992], penasihat Laurie Brereton untuk urusan luar negeri ketenagakerjaan [1996-2001], dan pernah bekerja di Departemen Utama Tasmania. Hanya itu.

Dari kantor ASIS hingga Timor Timur
Kalau kemudian ada spekulasi yang menyebut Dorling kemungkinan adalah mantan mata-mata Australia, spekulasi itu bukan tanpa alasan sama sekali. Beberapa kisah besar yang pernah ditulis oleh Dorling, antara lain tentang lokasi gedung baru kantor Dinas  Intelijen Rahasia Australia [ASIS] di Canberra. Perilaku Dorling yang pernah bertamu ke Akademi Militer Australia, jarang ke kantor dan hanya bekerja jarak jauh semakin memunculkan spekulasi tenang sosoknya yang misterius.

Dorling, pernah menulis laporan “Peristiwa Jawad” dan “PLO 1974” tapi Fray yang ditanya tentang siapa Dorling, hanya mengatakan mereka telah saling kenal. Lalu ketika Dorling digerebek Polisi Federal Australia 23 September 2008, menyusul laporannya tentang target mata-mata target, Fray juga tidak memberikan keterangan yang jelas tentang siapa Dorling.

Ada tuduhan lain tanpa bukti: sebelum menjadi wartawan, Dorling sudah membocorkan dokumen-dokumen rahasia kepada media. Antara lain tentang informasi Timor Timur pada 16 September 2000, ketika Dorling bekerja untuk Brereton.

Namun tulisan Dorling yang paling menghebohkan adalah ketika dia melaporkan soal hubungan Joel Fitzgibbon [yang waktu itu menjabat menteri pertahanan Australia] dan Helen Liu [seorang pengusaha Cina]. Tulisan itu muncul di The Age, setelah Fray meninggalkan The Times Canberra dan bekerja untuk Sydney Morning Herald.

Bekerja bersama Richard Baker dan Nick McKenzie, kisah hubungan Fitzgibbon-Liu itu muncul beberapa kali di The Age. Antara lain, Dorling menulis, Fitzgibbon mematai-matai telah Departemen Pertahanan. Hasilnya pahit bagi Fitzgibbon.

Politisi dari Partai Buruh itu harus kehilangan pekerjaannya, tapi dia menuntut tiga koran di bawah bendera Grup Fairfax itu, kendati The Times Canberra tak ikut memuat laporan Dorling. Satu hal yang mungkin menarik adalah, dimuatnya laporan Dorling tentang Fitzgibbon-Liu di halaman depan Sydney Morning Herald, semakin memunculkan spekulasi tentang “hubungan” Dorling dan Fray.

Fray yang menjadi pemimpin redaksi Sydney Morning Herald akan tetapi membela keputusannya memuat laporan Dorling di halaman depan. Kepada wartawan radio ABC, Fray mengatakan, “Kami menerbitkan penilaian kuat orang sepanjang masa.”

Dia berpendapat bahwa penilaian itu telah dibuat lebih “menyentuh” ​​dan “kuat” karena mereka datang dari Amerika. Dokumen yang diperoleh Dorling disebutnya telah melalui penilaian redaksi dan menurut Fray tidak ada yang berisiko dari dokumen itu.

Lalu bagaimana dengan “Yudhoyono ‘abused power'” yang ditulis Dorling di The Age Jumat lalu? Tidak ada yang membantah tentang kesahihan bocoran dokumen Wikileaks yang dikutip Dorling, tidak juga Marciel, Pak Dubes Amerika itu.

Cuma sayangnya, kalau benar Dorling adalah seorang wartawan, dia lupa satu hal: meminta konfirmasi kepada SBY, atau kepada orang-orang dekatnya yang Jumat lalu terdengar serius membantah tulisannya itu. Atau, apakah Dorling dan The Age memang sengaja tidak meminta konfirmasi, dan seperti yang sudah-sudah, mereka hanya ingin membuat heboh?

Itu yang misterius.

Tulisan ini dimuat di beritasatu.com, Senin 14 Maret 2011.