George Junus Aditjondro penulis buku Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Century oleh Setiyardi dituding sebagai mantan wartawan yang tidak kritis dan tak bersikap skeptis.  George  juga dinilai gegabah menarik kesimpulan.  Bagaimana dengan “buku” Setiyardi yang juga mantan wartawan itu?


oleh Rusdi Mathari
BARU kali ini saya tahu, hanya untuk memublikasikan sebuah tulisan resensi buku dibutuhkan acara khusus di sebuah hotel. Itulah resensi buku Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century karangan George Junus Aditjondro yang ditulis oleh Setiyardi. Acarnya dilangsungkan di Ruang Cemara, Lantai 5, Hotel Cemara, Jakarta Pusat, Rabu kemarin.

Tarif normal menyewa ruangan itu untuk minimal 100 orang selama 4 jam adalah  Rp 130 ribu per orang termasuk untuk membayar kudapan, minuman kopi dan teh hangat. Setiyardi atau panitia acara peluncuran tulisan resensinya, entahlah mengeluarkan ongkos berapa karena menurut seorang manajer di hotel itu, tarif acara itu sudah dirabat.

Lalu seratusan orang termasuk para wartawan,  kemarin datang ke acara Setiyardi. Saya bertemu atau mengenali beberapa orang di antaranya. Ada Aam Sapulete (komisaris PTPN III), Roy Suryo (anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat), dan Soeyanto (asisten Staf Khusus Presiden) yang menjadi salah satu pembicara. Meriah. Setiyardi menjadi bintang.

Mantan wartawan Tempo itu memberi judul tulisannya Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Merevisi Buku dan sama sekali tak menganggap tulisannya itu sebagai buku. “Ini hanya resensi, buku abal-abal Cak,” kata Setiyardi kepada saya, sekitar 15 menit sebelum acara dimulai.

Apa yang dimaksud Setiyardi sebagai abal-abal, saya tak begitu paham. Apakah yang dimaksudnya adalah peti mati orang Batak Toba yang terbuat dari kayu utuh (gelondongan) yang disebut haus sada, atau dia sebetulnya ingin mengatakan  palsu, imitasi, atau pecundang seperti arti abal-abal menurut melayuonline.com.  Saya hanya mencoba mengerti, dengan ucapannya itu, Setiyardi sebetulnya ingin “rendah hati.” Maksudnya, entahlah apa.

Namanya juga resensi,  memang tak banyak yang diharapkan dari tulisan Setiyardi terutama jika itu adalah fakta baru. Dan dari banyaknya salah ketik dan salah ejaan, “buku” itu terbaca memang ditulis dengan gegas. Setiyardi   membagi tulisannya menjadi enam judul.

Diawali dengan kata pengantar yang lumayan provokatif, misalnya dengan kata-kata, “Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Merevisi Buku yang kini ada di tangan Anda ini sejatinya perspektif baru” Setiyardi menyerang George sebagai mantan wartawan yang tidak kritis dan tak bersikap skeptis. George dinilainya juga gegabah menarik kesimpulan. Setiyardi menulis kata pengantar itu dalam lima paragraf, dirancang ke dalam dua halaman buku berukuran 14,5X20 cm.

Di tiga halaman berikutnya, Setiyardi menuliskan pendapat Amien Rais, Arbi Sanit, Irman Gusman dan Andrik Purwasito. Semua pendapat orang-orang itu niscaya menolak  atau meragukan isi buku George. Tak ada penjelasan, apakah pendapat dari orang-orang itu dikumpulkan sendiri oleh Setiyardi misalnya lewat wawancara atau hanya mengutip dari kliping berita internet seperti yang dilakukan George dan karena itu dikritik oleh Setiyardi sebagai data sekunder dan tidak akurat itu tapi sebagai mantan wartawan, Setiyardi sama sekali juga tak mencantumkan asal-usul sumber tulisannya yang dia beri judul Prolog itu.

Sekunder, Sekali Lagi
“Isi” tulisan Setiyardi ada pada halaman 11 hingga 23 dengan judul Meninjau Isi. Semua halaman disertai dengan gambar-gambar, kecuali halaman 12, dan 20. Di bagian inilah, Setiyardi mencoba membangun argumen untuk membantah buku George meski terlalu dipaksakan. Setiyardi misalnya menyoal kalimat terakhir alinea kedua halaman 36 buku George “Mereka tidak perlu lagi bingung memikirkan penggalangan dana (fund raising) bagi yayasan ini, yang telah mendapat kucuran dana sebesar US$ 1 juta dari Djoko Soegiarto Tjandra, pemilik Bank Bali dan buron kelas kakap BLBI…”

Kalimat itu berhubungan dengan kalimat  pertama di alinea kedua buku George di halaman yang sama tentang Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian. Itu yayasan yang didirikan oleh antara lain Djoko Suyanto (Menko Polkam). Setiyardi menanggapi pernyataan kalimat itu dengan tiga kalimat.

Pertama dia menganggap data George bersifat sekunder. Kedua dia menyarankan, bila George  ingin bukunya dijadikan referensi, maka George seharusnya melakukan verifikasi kepada pengurus dan yayasan yang dimaksud. Ketiga, dengan demikian menurut Setiyardi, informasi yang disajikan George akan memiliki tingkat validitas yang baik.

Bagaimana soal kesahihan sumbangan dari Djoko Tjandra itu? Tak ada bantahan dari Setiyardi. Dalam tulisan itu, George sebetulnya melampirkan kutipan sumbernya berasal dari Vivanews 2 Oktober 2009, dan majalah Mimbar Politik edisi 7-14 Oktober 2009 halaman 10-11).  Majalah Tempo edisi 10 Januari 2010 halaman 28 menyebutkan, kepada KPK Djoko Tjandra mengaku menyerahkan US$ 1 juta langsung ke tangan Djoko Suyanto, 4 Maret 2008 meski keterangan itu dibantah oleh Djoko Suyanto.

Benar, George memang tidak melakukan verifikasi lanjutan atas sumber yang dikutipnya. Namun dengan asumsi, Vivanews adalah situs berita yang dikelola wartawan profesional (sebagian adalah mantan wartawan Tempo), data yang dikutip George juga bukan berasal dari sumber yang tidak jelas.

Mengutip pengacara Bibit Samad Riyanto, Ahmad Rifai, situs berita itu menulis, “Joker (Joko Tjandra) memberikan uang kepada Dirut PT Mulia Viadi Sutoyo dan Enang (kurir). Uang senilai US$ 1 juta itu, kemudian diserahkan lagi ke pihak lain dalam hal ini ke Djoko Suyanto dari Yayasan K.” Di tulisan itu juga disertakan bantahan Djoko Suyanto (lihat “Yayasan KDK Tak Ada Urusan Dengan PolitikVivanews, 2 Oktober 2009).

Nama Negara
Setiyardi juga mempertanyakan sumber referensi buku George yang menyoal promosi batik Allure di halaman 56-57  terutama di kalimat “…Adanya potensi konflik kepentingan antara Ny. Ani Yudhoyono sebagai pembina yayasan itu, dan perusahaan batik baru yang telah mengorbitkan anak dan cucunya sebagai ikon, belum banyak disorot orang…” Setiyardi menganggap, pernyataan itu sepenuhnya merupakan spekulasi George sebagai penulis buku karena sekali lagi, menurutnya tidak ada sumber referensi.

Tak lalu Setiyardi memerinci, pernyataan kalimat George yang mana yang dianggap sebagai spekulasi: soal “konflik kepentingan” itu atau soal “anak cucu Ani Yudhoyono yang menjadi ikon Allure?” Dari majalah Gatra, Annisa Larasati Pohan faktanya mengakui, dirinya didaulat menjadi ikon batik oleh produsen batik Allure (lihat ”Annisa Pohan, Duta Batik Annisa Pohan,” Gatra Nomor 42, 30 Agustus 2007).

Isi selebihnya sama saja:  Setiyardi hanya membantah isi buku George dan tak menunjukkan fakta baru, satu hal yang dia gembar-gemborkan dalam kata pengantar. Di judul terakhir tulisannya, Setiyardi menampilkan delapan kliping berita yang diambil dari Vivanews, AntaraNews dan detikcom. Hanya itu.

Dia juga tak bersedia menyebutkan motif “peluncuran” resensinya dan siapa yang mendanai, kecuali katanya sekadar motif bisnis.  “Kebiasaan orang Indonesia seperti sampean selalu percaya dengan teori konspirasi Cak,” kata Setiyardi yang siang itu mengenakan batik, entah apa mereknya.

Soalnya sekarang, benarkah dengan menerbitkan resensinya itu Setiyardi hanya bermotif bisnis? Usai acaranya, saya tak sempat bertanya kepada Setiyardi soal motif itu lagi. Dia sudah dikerubungi banyak orang terutama para wartawan. Dari jauh saya melihat Setiyardi banyak menebar tersenyum disorot lampu kamera.

Lalu beberapa jam sebelum artikel ini selesai ditulis, saya mendapati fakta baru dalam “buku” Setiyardi. Bukan soal data pembanding untuk menjawab  buku George, tak pula soal foto Setiyardi sedang mejeng dengan latar belakang Gedung Putih, di Washington, Amerika Serikat, melainkan karena dari “buku” itu saya baru tahu, di belakang nama Setiyardi, sekarang ada embel-embel Negara. Setiyardi Negara.