Taufiqurraham Ruki diangkat menjadi Komisaris Utama PT Krakatau Steel dan Ery Rijana Hardjapamekas diangkat menjadi Komisaris Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk. Satu mantan direktur KPK menjadi Direktur Utama Peruri. Tiga mantan petinggi KPK yang lain hanya menunggu waktu untuk mendapat jatah yang sama.

oleh Rusdi Mathari

TAUFIQURRAHMAN RUKI TIBA-TIBA MERAMAIKAN WACANA divestasi PT Krakatau Steel. Ketua KPK periode 2003-2007 ini berharap saham KS yang dijual kepada asing tidak lebih dari 20 persen, atau kalau mungkin saham KS hanya dijual melalui IPO di lantai bursa. Selain karena sudah menjadi kesepakatan manajemen KS (untuk hanya melakukan IPO), keuangan KS juga tidak seburuk yang dipersepsikan sebagian kalangan. Semester pertama tahun ini, KS bahkan memprediksikan bisa meraup laba bersih hingga Rp 600 miliar, atau melebihi target dari laba yang ditentukan oleh pemerintah kepada KS pada 2008, sebesar Rp 450 miliar. Maka menurut Ruki, dana yang didapat melalui IPO sudah akan mencukupi untuk meningkatkan kapasitas produksi KS dari 2,5 juta ton per tahun pada saat ini, menjadi 5 juta ton pada 2011.

Ruki memang layak berbicara soal KS, karena dialah Komisaris Utama KS. Jabatan itu dipegang oleh Ruki sejak awal tahun lalu atau lebih kurang sebulan setelah dia meninggalkan jabatan sebagai Ketua KPK. Ruki ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Banyak alasan dari SBY-JK memilih Ruki untuk duduk sebagai komisaris KS, salah satunya karena Ruki adalah orang asli Banten. Ruki memang kelahiran Rangkasbitung, Banten. Menurut Ruki, ketika dihubungi oleh SBY, dirinya diminta untuk membenahi KS. “Tapi maaf, saya tidak akan manggut-manggut dengan keinginan mereka,” kata Ruki.

Ruki bukan satu-satunya mantan pimpinan KPK yang ditunjuk sebagai komisaris di BUMN. Rekan Ruki, Erry Riyana Hardjapamekas, menduduki posisi Komisaris Utama di PT Bank Negara Indonesia Tbk. sejak 6 Februari 2008. Pada hari Rabu itu RUPSLB BNI memberhentikan Komisaris Utama Zaki Baridwan dan dua komisaris independen Felia Salim dan Efendi. Bersama dengan pengangkatan Gatot Mudiantoro Suwondo sebagai Direktur Utama BNI menggantikan Sigit Purnomo, posisi Zaki kemudian digantikan oleh Erry Riyana. Gatot adalah adik ipar Presiden SBY dan sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama BNI.

Erry Riyana sebetulnya bukan orang baru di BUMN. Sebelum menjadi Wakil Ketua KPK periode 2003-2007, Erry Riyana adalah Direktur Utama PT Timah. Pernah pula di menjabata sebagai komisaris di PT Bursa Efek Jakarta, dan PT Semen Cibinong. Di swasta, Erry Riyana antara lain pernah menjadi komisaris utama di PT Agrakom (detikcom), komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol, komisaris PT Kabelindo Murni, komisaris PT Hero Supermarket, komisaris di PT Kaltim Prima Coal dan penasehat komite audit PT Unilever Indonesia.

Pejabat KPK lainnya yang juga menempati jabatan baru di BUMN adalah Juninho Yahya. Mantan Direktur Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat KPK itu diangkat menjadi Direktur Utama Perum Peruri, BUMN yang antara lain bertugas mencetak uang. Pengangkatan Juninho dilakukan pada Desember 2007, sebulan sebelum Ruki diangkat menjadi Komisaris Utama KS.

Lalu apa kabar Tumpak Hatorangan Panggabean, Syahruddin Rasul dan Amien Sunaryadi? Tiga mantan petinggi KPK itu bukan tak mendapatkan jatah tapi posisi komisaris seperti yang diterima oleh Ruki dan Erry Riyana hingga kini memang belum ada yang kosong di BUMN. Mereka harus bersabar, menunggu RUPS dari BUMN yang lain. Bisa tahun ini, mungkin tahun depan. Kecuali mereka kemudian menyatakan tak bersedia.

*Artikel terkait “Hari-Hari Terakhir KS