http://www.sxc.hu/browse.phtml?f=search&txt=train&w=1&x=0&y=0

Dengan tiket bulanan seharga Rp 150 ribu, Ade duduk dengan nyaman di kursi penumpang gerbong kereta rel listrik jurusan Depok-Kota, tadi pagi. Tak ada jejalan penumpang, apalagi sampai membuncah di atas atap moda yang sering disebut sebagai KRL itu. Juga tak ada asongan, pengemis dan pengamen.

Oleh Rusdi Mathari

KALAUPUN ada penumpang yang berdiri, semuanya masih dalam batas-batas wajar, tertib dan sama sekali tak berdesakan. Pintu kereta pun segera tertutup begitu kereta berangkat dari Stasiun Depok.

Meski kereta berangkat pukul 06.45 WIB, karyawan sebuah perusahaan di kawasan Jakarta Kota itu tak perlu merasa khawatir terlambat masuk kantor. Dengan KRL Depok-Kota, jarak ke kantornya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Masih ada waktu sekitar 15 menit dari Stasiun Kota untuk bergegas ke kantornya.

Nanti sore, pulang kerja pun begitu. Berangkat dari Stasiun Kota pukul setengah enam, Ade sudah bisa bercengkrama dengan keluarga di rumah, tiga puluh menit kemudian. Suasana kenyamanan ber-KRL itu, sudah dinikmati Ade selama setahun dan dia merasa tidak rugi meski harus menghabiskan ongkos Rp 150 ribu untuk membeli tiket KRL.

Tadi pagi, saya menumpang KRL Jabodetabek jurusan Stasiun Universitas Pancasila-Gondangdia. Di tengah pengapnya ruangan gerbong, diimpit puluhan penumpang, saya harus awas dengan tas bawaan yang berisi lap top, dompet, dan ponsel. Seorang ibu di samping saya mengeluh karena kakinya tak menapaki di lantai gerbong. Saya mencoba tersenyum mendengar keluhannya di pagi yang kecut itu, sambil membayangkan nasib kaki si ibu yang bergelantungan di atas lantai gerbong yang saya lihat mulai bolong-bolong.

Kondisi dan pelayanan KRL (dan saya yakin juga kereta api lainnya di Indonesia) ternyata tak berbeda dengan kondisi dan pelayanan KRL 20 tahun silam ketika saya untuk kali pertama naik KRL: sesak, bau, jorok. Sempat ada peraturan ini itu yang katanya untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan penumpang, tapi yang terjadi hanya semacam kebijakan tambal sulam. Peraturan atau apa pun namanya hanya keluar jika ada peristiwa yang telanjur memakan korban jiwa seperti kecelakaan KRL dan sebagainya. Dijalankan satu dua bulan, setelah itu kembali kepada kondisi dan pelayanan tradisionalnya, tak keruan.

osinaga.files.wordpress.com

Soal suap menyuap di kereta bukan barang aneh dan mungkin sudah ribuan kali diungkapkan oleh banyak orang. Para penumpang yang enggan berdesak-desakan di dalam gerbong diizinkan naik di ruang masinis asal dengan membayar ongkos tambahan. Ada yang Rp 2.000, Rp 3.000 dan sebagainya, tergantung situasi. Naik KRL ber-AC juga begitu. Penumpang bisa turun sesuai di stasiun tujuannya meskipun stasiun itu tak dijadwalkan untuk KRL AC.

Pernah suatu hari Minggu, di Stasiun Universitas Pancasila saya iseng menyetop KRL AC yang melaju dari Stasiun Universitas Indonesia menuju Jakarta . Wow ajaib, KRL itu berhenti dan membuka pintu untuk mempersilakan saya masuk. Saya terkejut, khawatir karena tiket saya hanya tiket ekonomi tapi akhirnya saya masuk juga. Di dalam gerbong, seorang petugas sudah siap menyambut saya. Basa-basi sedikit petugas itu lalu berlalu setelah saya menyerahkan selembar sepuluh ribu rupiah. Aha…saya telah ikut memperparah budaya korupsi.

Di Stasiun Gondangdia saya turun dengan penu “perjuangan”. Kemeja putih sudah lusuh sementara keringat sudah mengalir hingga kaki. Sepatu hitam yang saya semir subuh tadi, sudah tak karuan warnanya akibat banyak diinjak sepatu orang. Saya mencoba mengambil napas sejenak saat baru turun tapi aroma pesing dan kotoran manusia menyengat kuat seolah ditempelkan ke hidung. Saya berkhayal… tapi janji wawancara dengan seorang direktur perusahaan keuangan sudah tinggal 10 menit lagi.

Kenyamanan KRL seperti yang dinikmati Ade, buyar dari lamunan di lantai bawah stasiun saat belasan tukang ojek berteriak-teriak menyambut ratusan penumpang yang baru turun termasuk saya. “Ojek bos,” kata mereka. Oalah saya masih di Indonesia, ternyata