Jika bukan karena tampangnya yang terlihat tersiksa, semua yang hadir di Istana Sulaiman hari itu akan menduga bangsawan itu terlalu banyak minum anggur Syirazi. Namun lelaki itu tak sedang mabuk. Dia menyampaikan kepada Sulaiman telah melihat Izrail dan malaikat pencabut nyawa itu sedang kebingungan.

!–more–

Judul Buku: The Kingdom of Joy
Penerjemah:Abdul Rahman Azzam
Penerbit: Hikmah Jakarta 2007
Halaman: 205 Halaman

oleh Rusdi Mathari

MALAIKAT Izrail bingung. Laporan itu disampaikan dengan tergesa-gesa oleh seorang bangsawan kepada Nabi Sulaiman. Wajahnya pasi, nafasnya menderu, bibirnya gemetar, lututnya bergoyang. Jika bukan karena tampangnya yang terlihat tersiksa, semua yang hadir di Istana Sulaiman hari itu akan menduga bangsawan itu terlalu banyak minum anggur Syirazi. Tapi lelaki itu tak sedang mabuk. Dia menyampaikan kepada Sulaiman, apa yang baru saja dilihatnya: Malaikat Izrail bingung.

“Engkau melihat Izrail?” tanya Sulaiman.

“Layaknya saat ini aku melihat Paduka,” kata bangsawan.

Lalu berceritalah orang itu kepada Sulaiman. Beberapa saat sebelumnya, ketika dia duduk di beranda rumah bersama dengan beberapa kawannya, mendadak seseorang atau sesuatu di sebelah kiri menarik perhatiannya.”Saat menatapku, ia tampak bingung.”

“Bingung?”

“Benar Paduka, Izrail bingung”

Sulaiman diam mendengarkan penuturan bangsawan itu. Dia paham, jika benar itu Izrail, kunjungan itu hanya bisa diterjemahkan dengan satu makna. Maka dinasehatilah oleh Sulaiman agar lelaki itu segera melunasi utang-utangnya, meminta maaf kepada sanak kerabat dan handai taulan. “Bersiaplah menemui Tuhanmu, hanya itu yang bisa kusampaikan,” kata Sulaiman.

Tapi lelaki itu terlanjur ketakutan. Dia meminta Sulaiman agar memerintahkan angin membawanya ke India pada saat itu juga, sebagai pemenuhan janji Sulaiman kepadanya. Karena berjasa membantu Sulaiman dalam sebuah peperangan, Sulaiman memang pernah menawarkan kepada pria itu untuk mengabulkan apa saja permintaannya. Waktu itu, lelaki itu hanya diam. Kini janji itu ditagihnya kepada Sulaiman.

Usaha Sulaiman menasehati lelaki itu bahwa tak ada guna bersembunyi dari Izrail tak cukup ampuh. Singkat kata, terbanglah dia ke India melalui angina yang diperintah oleh Sulaiman. Setelah kepergian lelaki itu, kepada Izrail yang menemuinya Sulaiman bertanya, “Mengapa engkau bingung saat melihat orang itu?”

“Engkau tahu, ketetapan di Lauhul Mahfudz pastilah terjadi. Baru tadi pagi aku diberitahu oleh Tuhan agar mencabut nyawa seorang lelaki di Hindustan hari ini. Tapi ketika aku melewati Yerusalem ini, aku melihat pria itu ada di sebuah rumah di kota ini. Aku telah melihat banyak hal. Tapi aku belum pernah melihat, seorang pria yang jiwanya seharusnya berada di Hindustan sedang menatapku di Yerusalem. Andaipun dia memiliki seribu sayap, mustahil bagi dia bisa terbang ke Hindustan dalam jangka waktu satu hari. Itulah yang membuatku bingung,” kata Izrail.

Sulaiman paham dan berkata, “Sekarang tak usah bingung lagi, apa yang sudah ditetapkan terjadi niscaya harus terjadi. Jiwa yang kau cari, sekarang memang berada di Hindustan.”

Cerita itu hanya satu dari sekian banyak kisah yang ditulis oleh Rumi dalam Matsnawi yang kemudian dirangkum dalam The Kingdom of Joy. Buku yang disebut terakhir sebenarnya sudah terbit sejak tahun 2002 di London dengan judul hampir sama The Kingdom of Joy, Tales from Rumi namun di Indonesia baru diterbitkan Agustus lalu bertepatan dengan peringatan 800 tahun mengenang penyair itu, yang digelar di beberapa negara. Buku ini tak memuat puisi, melainkan hanya beberapa esai Rumi yang mengajak manusia kepada keyakinan, kebajikan kemudian menertawai hidup. Inilah barangkali, sisi lain, yang sejauh ini tak pernah diangkat ke permukaan selain hanya puisi-puisi atau prosanya yang kemudian banyak ditafsirkan sebagai puisi cinta Rumi.

Sebagai sebuah “karya Rumi”, buku ini berbeda dengan buku kumpulan syair Rumi semisal Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1.600 bait), Maktubat atau Fiihi Maa fiih yang memuat banyak puisi cinta yang mendayu dan membara. Karena itulah, misalnya, puisi-puisi Rumi mendapat tempat yang baik di banyak kalangan Barat, mulai dari kalangan akedemisi, sastrawan hingga personal. Penyair Amerika Serikat seperti Coleman Barks, dan diva pop Madonna juga menggunakan puisi Rumi sebagai inspirasi bagi karya mereka.

Penting tak Penting

Tapi puisi-puisi dan prosa-prosa Rumi kemudian juga menimbulkan kontroversi. Oleh Barat terutama, syair-syair Rumi sering ditafsirkan sebagai konsep Rumi tentang inter-faith commission sebagai oneoness, seolah-olah penyair kelahiran Afghanistan itu mengajarkan bahwa semua ajaran (tauhid) agama adalah sama, seolah-olah manusia boleh melakukan apa saja asal dengan cinta. Sebagian muslim, mungkin akibat digandrunginya syair Rumi oleh Barat ketimbang Barat menggandrungi al Quran dan Hadits— celakanya kemudian memberi cap Rumi sebagai orang sesat.

Hal itu misalnya terungkap Buletin Islam Al Ilmu Edisi 46/III/I2/1425 yang mengutip kitab Ash Shufiyyah Fii Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25. Kitab itu antara lain mengutip pernyataan Rumi, “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.”

Rumi persoalannya memahami Allah dengan persepsinya, sehingga misalnya jika benar ada perkataan Rumi semacam itu, maka harus dibaca bukan sebagai kehendak untuk misalnya menyamakan semua agama karena Tuhan itu sama lewat konsep “oneoness” atau “inter-fait commission”. Rumi bahkan sebaliknya, hendak memberikan universalitas terhadap Islam: bahwa Islam ada di mana-mana dan tak cukup dibatasi oleh dinding-dinding masjid. Universal dalam pengertian kompatibel dengan pengalaman bangsa-bangsa yang masing-masing memiliki pengalaman tentang keindahan, tentang kebenaran dan sebagainya. Pengalaman yang berbeda itulah, pada dasarnya Islam (fitrah) yang dibungkus dengan bentuk berbeda. Penganut paham komunis misalnya, memiliki pengalaman universal kemanusiaan. Mereka punya komitmen tentang kejujuran. Pada tingkat itulah sesungguhnya Islam.

Di atas segalanya, menurut Profesor Kelim ErkanTurkmen, dari Universitas New Turki, sangat sulit memisahkan karya-karya Rumi sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, terbebas dari ajaran al Quran dan Hadits Rasulullah s.a.w. terutama karena Rumi sendiri seorang muslim. Kelebihan Rumi dibanding kebanyakan manusia (penyair) lain, ia mampu menjelaskannya lewat pelbagai cara: cerita, contoh dan anekdot. Dengan membawa pesan-pesan itu, diharapkan siapapun yang kelak hendak membacanya menjadi lebih memahami Islam.

Lihatlah puisi Rumi dalam Pir Changi (hikayat keempat) yang banyak ditafsirkan oleh orang Barat sebagai keberpihakan Rumi kepada konsep ajaran semua agama sama: Ketiga/karena ku pergi jauh darimu/seolah kukatakan /ketiga dari yang tiga. Lalu bandingkan puisi itu dengan bunyi redaksi al Maidah surat ke 73 yang berbunyi, “Sesungguhnya kafirlah orang yang mengatakan bahwa Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali yang ada hanyalah Tuhan Yang Esa.”

Atau dalam puisi lain namun masih dalam Pir Changi: Karena tiap jiwa/diterimanya sepuluh/sebagai nilai/dari seruling/bacalah/sepuluh perumpamaannya. Apa bedanya puisi itu dengan ayat 160 surat al An’am: “Barang siapa beramal baik, maka ia memperoleh sepuluh kali ganda amalnya; dan barang siapa yang berkelakuan jahat, maka ia tidak diberi pembalasan kecuali seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dirugikan.”

Maulana Jalaluddin Balkhi Rumi sudah delapan ratus yang lalu, meninggal. Tiga negara (Turki, Iran, Afghanistan) menggagas seremoni untuk mengenangnya. Melalui Unesco, pada 6 September lalu PBB memulai peringatan itu di markas besarnya di New York dengan menggelar perhelatan besar dan akan berakhir pada Januari tahun depan di banyak negara. Di Indonesia, selain menampilkan pertunjukan malam Rumi, juga akan digelar diskusi, peluncuran buku The Kingdom of Joy yang berisi untaian kisah dari kitab Matsnawi dan sebagainya.

Selain hanya sebagai pengucap dan penyair yang belum tentu mengamalkan benar apa yang dia sampaikan dan dia tuliskan, Rumi mungkin penting untuk dikenang tapi mungkin juga tidak penting sama sekali. Apalagi misalnya harus disandingkan dengan para arif semacam Junaidi Al Baghdadi, guru dari Husein ibn Mansur atau Al Hallaj itu, yang karya-karyanya tak banyak dikaji oleh Barat. Maka tersenyumlah, membaca karya Rumi. Hanya itu.