Keajaiban dunia


Orang-orang ajaib dan luar biasa, sering kali memilih jalan sepi yang tidak gemerlap. Itulah jalan yang ditempuh oleh Kim Unh Yon manusia genius dari Korea Selatan, dan Zhou En Lai, eks pemimpin komunis Cina yang belakangan diketahui mahir menulis puisi. Tapi apa kata Iwan Fals tentang album lagu keempat SBY?

oleh Rusdi Mathari
Keajaiban dunia ada di mana-mana. Dan penduduk dunia terkejut ketika menemukan Kim Ung Yong dari Korea Selatan, 40 tahun yang silam. Saat itu Kim belum genap berusia empat tahun, tapi dia sudah bisa membaca dalam bahasa Korea, Jepang, Jerman dan Inggris. Untuk menguasai bahasa lainnya, Kim hanya butuh waktu sebulan mempelajarinya sebelum dia benar-benar bisa menguasainya. Dia juga memecahkan soal kalkulus menjelang usianya yang kelima.

Itu setahun setelah dia diberi kesempatan berkuliah oleh Universitas Hanyang di Seoul. Tiga tahun menempuh kuliah dan lulus, Kim lantas diundang ke Amerika oleh NASA, dan mulai bekerja di lembaga antariksa itu. Usianya baru menginjak delapan tahun.

Kim pun terkenal. Guinness Book of World Records menyebut Kim sebagai salah satu anak ajaib di dunia. IQ-nya mencapai 210 atau setingkat di bawah IQ tertinggi yang pernah dimiliki manusia. Majalah Time edisi pertengahan Desember 1977 menuliskan kisah Kim bersama kisah tentang anak-anak genius lainnya. Tapi di mana kini Kim?

Doktor di bidang teknik sipil dari Universitas Colorado itu, kini tinggal di Korea. Dia menjadi warga biasa. Rumahnya juga sederhana. Pekerjaannya dosen di Universitas Chungbuk. Tapi media-media di Korea mengecam Kim sebagai orang genius yang gagal.

“Media meremehkan fakta, dan orang-orang itu mengharapkan aku menjadi pejabat tinggi di pemerintahan atau perusahaan besar. Tapi aku tidak berpikir, hanya karena aku memilih tidak seperti yang diharapkan, kemudian berhak menyebut kehidupan seseorang telah gagal,” kata Kim, kepada Korea Herald, tahun lalu.

Manusia-manusia ajaib dan luar biasa seperti Kim, sering kali memang memilih jalan yang pedang. Itu istilah untuk orang-orang yang menyingkir dari kebisingan ketenaran, dan memilih jalan hidupnya sendiri. Itu juga jalan yang pernah ditempuh oleh Zhou En Lai [sebagian orang menuliskan Chou En Lai], misalnya.

Orang-orang baru tahu, eks perdana menteri Cina itu adalah penulis puisi mahir, justru setelah dia tidak menjabat sebagai orang penting di Beijing. Padahal puisi-puisinya, ditulis sewaktu dia berlayar meninggalkan Jepang menuju Cina dalam usia belasan tahun, dan dia niscaya punya kesempatan untuk memublikasikannya saat berkuasa. Tapi Zhou memilih menutup rapat semua karya puisinya hingga dia pensiun dan mendirikan Yayasan Zhou En Lai.

Puisinya baru dicari banyak orang setelah Nancy T. Lin menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dengan judul In Quest and Dick Wilson. Dibahas banyak cendekiawan, dan dijadikan bahan disertasi oleh beberapa kandidat doktor. Empat puisi Zhou belakangan diketahui pula, dijadikan monumen perdamaian di Taman Kameyamakoen di Arashiyama, Kyoto, kota perdamaian Cina dan Jepang.

Zhou tentu saja terkenal. Dia popular sebagai pemimpin Cina dan bukan sebagai penulis puisi. Kebijakannya sebagai pemimpin Cina yang terkenal adalah pada saat dia membenahi apa yang disebut sebagai kerusakan akibat “Revolusi Kebudayaan” antara 1966-1976. Dunia juga mengenalnya sebagai orang penting dari Beijing yang mendorong modernisasi Cina dan memperbaiki hubungan dengan Washington.

Juga Kim terkenal hanya sebagai manusia genius dari Korea dan bukan sebagai orang yang oleh media Korea diharuskan menjadi orang penting di negaranya. Pria yang kini berusia 49 tahun itu, bahkan sudah menulis 90 makalah atau jurnal tentang ilmu hidrolika. Sebagian besar pemikirannya itu menjadi rujukan dunia ketekniksipilan, dan itu tak banyak diketahui orang termasuk para insinyur teknik sipil.

Bila saja Zhou mau, tentulah dia akan mendapatkan keuntungan seandainya menerbitkan puisinya pada saat dia menjadi perdana menteri Cina. Paling tidak, namanya akan semakin terkenal sebagai pemimpin komunis yang humanis. Kehidupan Kim kemungkinan besar juga akan semakin sentosa, andaikan dia bersedia bertahan bekerja di badan antariksa Amerika.

Zhou dan Kim akan tetapi tetap lebih memilih lorong yang sepi. Jalan pedang itu. Mereka menepiskan semua kenyamanan termasuk popularitas itu, kendati pun lingkungan mereka sering menuntut lebih banyak. Menjadi manusia luar biasa, bagi mereka berarti pilihan untuk mengabdi tanpa harus menempelkan pamflet di setiap dinding kota. Dan untuk apa pula pamflet itu jika hanya akan lantak oleh hujan atau menjadi tempat orang meludah?

Lalu di negara ini, Presiden SBY terlihat produktif menulis dan menggubah lagu. Sudah empat album dikeluarkannya, sejak dia berkuasa tujuh tahun yang lalu. Tak ada yang keliru dengan itu semua. Sebagai presiden yang super sibuk, SBY juga berhak mengungkapkan perasaannya menjadi lagu-lagu, dan itu luar biasa kata Iwan Fals.

Hanya saja, ketika SBY menggelar pentas untuk album lagu keempatnya pekan lalu, justru pada saat orang-orang Papua [yang sebagian sudah tewas ditembus peluru] menunggu keputusan pentingnya untuk memperbaiki keadaan Papua menjadi lebih baik dan nasib orang-orang Papua lebih bermartabat—  orang-orang tentu juga pantas berseru: keajaiban dunia memang ada di mana-mana.

Dan kata Iwan Fals yang penyanyi itu, “Saya dengar album SBY, sudah bukan [tercatat] sebagai Tujuh Keajaiban Dunia, melainkan Delapan Keajaiban Dunia.”

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Hheheheh luaaaar biasaaaa…. :) :D
    Penasaran dengan lagunya pak SBY .(¬˛¬”) cĸ.. cĸ.. cĸ.. ƪ(ˇ-ˇ)ʃ. *belum sempet denger*

    Salammm geniusss! :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.049 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: