• Beranda
  • Did You Know
  • Ekonomi
  • Jurnalistik
  • Politik
  • Religi
  • Science
  • Story
  • Surat Anda
  • Tentang Jurnal Goblong
  • Buku

Jurnal GoBlog

RSS Entri | Comments RSS
  • Arabian Dutch
  • Tulisan Terbaru

    • Balada Susno
    • Polisi, Suatu Waktu
    • Tim Independen, untuk Siapa?
    • Politik Baru Sektor Energi
    • Andai Ozawa Ikut Audisi Menteri
    • Skenario Runtuhnya WTC*
    • Bahasa Puasa dan Ramadan
    • Mengapa Harus Puasa?
    • Obama Bukan Warga Amerika?*
    • Mencari Bushro lewat Wicaksono (Catatan Jurnalistik)
    • David Oh David… (1)
    • David oh David… (2-habis)
    • Dicari: Jaksa Agung
    • Hakikat Pemimpin
    • Politikana, Akan ke Mana?
  • Arsip

  • counter
  • Manifesto

    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com
  • Blogroll

    • BudiPutra
    • Cinta Hakiki
    • FadliErlanda
    • Jacques Umam
    • Komunitas Lirih
    • PandaKecil
    • Petisikotbah
    • Phie13
    • Sumarwah
  • link saya

    • Facebookku
  • Jumlah Pembaca Juli 2009: 21.239

    8.073 komentar spam
    diblokir oleh
    Akismet
  • Almanak

    Juni 2009
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Wasiat Anas

Posted on Juni 22, 2009 by rusdi mathari

Dengarlah kemudian pengakuan Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur itu: mur dan baut Jembatan Suramadu bukan raib oleh pencurian melainkan memang belum dipasang karena peresmiannya yang diminta dipercepat.

oleh Rusdi Mathari
PADA waktunya saya akan mengenang kata-kata Anas Urbaningrum. Dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi, mantan Ketua Umum HMI itu pernah mengajarkan sebuah kebajikan:  setiap kali satu jari seseorang menunjuk orang lain, empat jari lainnya sebetulnya sedang mengarah kepada dirinya.

Lalu di Jembatan Suramadu yang diresmikan dua pekan silam, mur dan juga baut pengencang tiang-tiang jembatan dikabarkan telah banyak yang hilang. Ada puluhan mur, empat puluhan penerangan jalan dan rambu-rambu lalu lintas yang dilaporkan raib di jembatan sepanjang kurang lebih 5 kilometer itu yang semua katanya dicuri orang. Dan ini yang terjadi kemudian,  orang ramai tersenyum sinis sambil mengarahkan telunjuk ke orang-orang Madura.

Entah dari mana muasalnya, entitas Madura terutama yang bermukim di kota-kota besar, sejauh ini memang dikenal sebagai puak yang berdagang besi tua dan logam bekas. Mereka tinggal di sudut-sudut kota, memadati ruang dengan aroma karat dan bau sampah. Banyak di antara mereka yang lantas menjadi saudagar, menjadi bandar tukang loak itu, dan menjadi pemasok untuk pusat peleburan logam.

Namun tentu tak semua juga tahu, kesuksesan orang Madura, jika memang itu yang harus dikatakan, tak didapatkan dengan percuma: orang-orang itu mendapatkan semuanya dari jual-beli. Juga rumah-rumah sumpek yang mereka tempati di banyak sudut kota tak ditempati tanpa membayar upeti ke sejumlah oknum aparat, di kelurahan, kecamatan, polisi, tentara dan PLN. Tak ada yang gratis, dan itu telah menjadi alasan kuat bagi mereka untuk memilih mati ketimbang apa yang telah mereka anggap sebagai hak kemudian dirampas sewenang-wenang, tanpa pergantian.

Kesalahan dan kebodohan sebagian orang Madura terutama karena mereka tak paham, bangunan yang mereka tempati berdiri di atas tanah-tanah yang disebut milik negara. Dan perilaku aparat itu hanya kehendak oknum bukan resmi. Maka ketika negara dengan aparat yang resmi berkehendak dengan kekuasaan, orang-orang Madura lantas dianggap penyerobot, tak berpendidikan, dan cenderung mau menang sendiri.

Kasus penembakan di Alas Tlogo, Pasuruan, beberapa tahun silam semakin menguatkan sinisme sebagian orang, bahwa mereka orang Madura adalah kelompok yang tak tahu diuntung itu. Hanya sedikit yang berusaha mengerti, orang-orang di persil tandus itu, telah menghuni turun-temurun di sana sejak zaman Sakera menjadi mandor tebu. Sebagian dari mereka tinggal dengan jaminan Presiden Abdurrahman Wahid yang iba karena mereka terusir dari tanah konflik.

Sungguh pada orang-orang Madura, semuanya, berlaku sebuah ajaran hidup: tentang agama (keyakinan), wanita (keluarga) dan tanah. Bagi mereka tiga hal itu adalah kehormatan diri yang bisa menempatkan mereka pada posisi untuk lebih memilih poteh tolang atembang poteh mata (lebih baik mati daripada menanggung malu).

Jangan pernah kepada orang Madura dikatakan mereka bukan Islam kendati tak pernah menjalankan syariat kalau tak hendak bersentuhan dengan celurit kemarahan mereka. Tak usah mengganggu wanita dan keluarga mereka, kalau tak mau berhadapan dengan kenekatan mereka. Tragedi di Alas Tlogo dan juga di sudut-sudut kota itu terjadi, kurang lebih karena orang-orang Madura merasa kehormatan (atas tanah) mereka telah diganggu dan dirampas.

Kini atas raibnya mur dan baut di Jembatan Suramadu itu, hampir semua telunjuk telanjur mengarah kepada mereka. Sebuah tudingan yang sebetulnya niscaya telah ditolak keras oleh orang Madura, dan juga kemudian dua petinggi di Jawa Timur, Gubernur dan Kapolda. Dengarlah kemudian pengakuan Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur itu: mur dan baut Jembatan Suramadu bukan raib oleh pencurian melainkan memang belum dipasang karena peresmiannya yang diminta dipercepat.

Lalu kemarin seorang sahabat di Sumenep berkirim rasa gundah. Kata dia, bagaimana mungkin jembatan yang menjadi impian mereka sekian waktu, kemudian tidak akan mereka jaga dan lantas dirusakkan, hanya beberapa hari setelah jembatan itu diresmikan penggunaannya. Dalam suratnya yang sedih sahabat tadi mengakhiri dengan sebuah usulan yang terasa tak berdaya: agar di bentangan Jembatan Suramadu segera dituliskan pengumuman, “Jembatan ini milik NU.”

Seperti halnya Anas yang percaya untuk tidak mudah menunjuk jari kepada orang lain, saya juga sudah sejak lama meyakini, sebagian besar orang telah merasa berhak memonopoli kebenaran, dan juga ketidakbenaran.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Politikana dan Kompasiana.

DIarsipkan di bawah: Did You Know, Politik, Story, opini | Ditandai: Alas Tlogo, besi, Jawa Timur, jembatan, loak, Madura, NU, Pasuruan, Saifullah Yusuf, Sakera, Sumenep, Surabaya, Suramadu

« Debat Termehek-Mehek Mencari Pembayar Iklan Capres »

3 Tanggapan

  1. Om, di/pada Juni 22nd, 2009 pada 1:33 am Dikatakan: r

    Kebenaran adalah hakiki, tidak memandang suku manapun. Seperti makna ungkapan Anas dan Saifullah (Jangan menuduh dan tidak menuduh)
    Salut pada Prinsip orang Madura.
    Bang Rusdi, nama jembatannya gak usah diganti ya?
    Postingan abg keren.
    Salam.

    Balas
  2. petak, di/pada Juni 27th, 2009 pada 8:13 pm Dikatakan: r

    Setuju om
    postingan deri oreng pato’an?

    Balas
  3. toar, di/pada Juli 25th, 2009 pada 10:58 am Dikatakan: r

    SBY & timnya sama semua, ngak tau semuanya sudah didesain, ngak tau apa maunya. AWAS kualat!!!!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Klik di sini untuk membatalkan balasan.

  • Rusdi Mathari's Profile
    Rusdi Mathari's Facebook profile
    Create Your Badge
  • Jumlah Pembaca

    • 374,376 hits sejak 16 November 2007
  • Site Meter
  • Banyak Dibaca

    • Wajah Nabi Muhammad
    • Parade Telanjang di Madrid
    • Bokong Terindah dan Bokong Termahal
    • Situs Seks yang Diklik Sejuta Kali
    • Berfoto dengan Miss Porno Australia
    • Gambar Nabi, Sekali Lagi
    • Wasir, dr. Niko dan Pengalaman Saya
    • Susno Duadji, Harapan Baru Polisi*
    • Beberapa Cara Agar Blog Anda Terkenal
    • Fakta Flu Babi*
    • Balada Susno
    • Andai Ozawa Ikut Audisi Menteri
  • Komentar Pembaca

    lito di Wajah Nabi Muhammad
    lito di Wajah Nabi Muhammad
    cika di Parade Telanjang di Madri…
    iteem di Wajah Nabi Muhammad
    bukan susno di Susno Duadji, Harapan Baru…
    azid di Parade Telanjang di Madri…
    siiperantau di Beberapa Cara Agar Blog Anda…
    rusdi mathari di Wasir, dr. Niko dan Pengalaman…
    rusdi mathari di Mereka Mengidap AIDS, Mereka…
    bagol di Mereka Mengidap AIDS, Mereka…
    katrok di Susno Duadji, Harapan Baru…
    Ina di Wasir, dr. Niko dan Pengalaman…
    Bagus Saragih di Balada Susno
    benfrizsmalau di Beberapa Cara Agar Blog Anda…
    informasi peternakan… di Flu Burung telah Menyebar…

Blog pada WordPress.com. Theme: Digg 3 Column by WP Designer