Penjualan Indosat, dan Dosa PDIP-Laksamana


Kelak jangan disalahkan jika sejarah mencatat bahwa rezim reformasi merupakan rezim yang paling tak bertanggungjawab dan tidak becus terhadap kemajuan ekonomi bangsa karena hanya mampu menjual dan tidak bisa melakukan terobosan.

oleh Rusdi Mathari
KABAR mengejutkan itu tersiar pada Sabtu malam: PT Indosat Tbk. telah dijual oleh Asia Mobile Holding Pte.Ltd kepada Qatar Telecom. Asia Mobile merupakan anak perusahaan Temasek Holding. Perusahaan itu merupakan kongsi yang didirikan oleh Qatar Telecom dan Singapore Technologies Telemedia dan mayoritas saham kepemilikannya (75 persen) dimiliki Singapore Technologies Telemedia. Dengan pembelian seluruh saham Asia Mobile oleh Qatar Telecom (40,8 persen), maka Temasek Holding tidak memiliki keterlibatan di Indosat. Dari akuisisi itu, Asia Mobil menangguk untung hingga Rp 16 triliun lebih.

Disebut mengejutkan karena dua hal. Pertama, penjualan itu dilakukan pada akhir pekan, ketika pasar sedang libur dan karena itu tanpa tercium oleh media. Beberapa media yang memberitakan akuisisi tersebut pada Minggu hanya mendapatkan tembusan siaran pers yang dikeluarkan oleh Asia Mobile dan Qatar Telecom.

Kedua, nilai transaksinya yang mencapai Rp 16 triliun lebih. Nilai itu artinya melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan harga penjualan Indosat oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada Temasek Holding seharga Rp 5 triliun pada 2002.

Dengan kata lain dalam waktu lima tahun, modal Temasek Holding bukan saja telah kembali, tapi bahkan sudah menangguk untung berlipat. Jika rata-rata setiap tahun Indosat membukukan laba Rp 1 triliun bisa dibayangkan, keuntungan yang dikantongi oleh Temasek selama lima tahun.

Penjualan Indosat oleh Temasek kepada Qatar Telecom tentu tak bisa disalahkan. Bisnis adalah bisnis. Siapa yang pintar berdagang tentu dia yang akan meraih untung, dan Temasek dalam kasus penjualan Indosat adalah pedagang yang bukan saja beruntung, melainkan juga pedagang yang pintar.

Mereka sejak awal sudah paham, bisnis telekomunikasi adalah bisnis masa depan, yang tak akan segera padam bahkan bisa bertahan lama. Maka ketika Pemerintah Republik Indonesia di zaman Presiden Megawati melalui Menteri BUMN Laksamana Sukardi menjual Indosat dengan alasan penyehatan, Temasek menyambar kesempatan itu tanpa syarat. Harga Rp 5 triliun yang oleh beberapa kalangan dikatakan terlalu murah saat itu tak digubris oleh Laksamana dan tentu saja dibayar oleh Temasek. Sejak itu, separuh kepemilikan Indosat dikantongi oleh Temasek. Sebelum itu Temasek juga sudah membeli saham PT telkomsel Tbk.

Bagi para pembeli asing termasuk Temasek, Indosat adalah ibarat angsa yang dipastikan akan menghasilkan telur. Pada saat dibeli oleh Temasek, jumlah pelanggan seluler Indosat masih sekitar 3,5 juta namun hingga dijual kepada Qatar telecom, pelanggan Indosat sudah mencapai 16,7 juta pelanggan atau nyaris tujuh kali lipat jumlah penduduk Singapura.

Dari sisi laba, Indosat terus meraup angka paling sedikit 25 persen dari nilai investasi awal Temasek sebesar Rp 5 triliun, atau sekitar Rp 1,25 triliun. Hingga akhir 2006, BUMN Singapura itu mampu meraup pendapatan usaha Rp 12,3 triliun. Sebanyak 75,4 persen dari pendapatan itu disumbangkan oleh bisnis selulernya dan itu disumbangkan oleh Indosat. Maka bisa dibayangkan, berapa triliun rupiah yang dikeduk pemerintah Singapura dari Indosat selama lima tahun terakhir?

Andai dana itu masuk ke kas negara, barangkali sebagian bisa digunakan untuk “menyumbang” sekolah SD yang reot di Pandeglang. Membangun rumah sakit yang murah. Atau jika menggunakan logika pemerintah, paling tidak bisa digunakan untuk menambal kekurangan dan BLT yang katanya untuk pemerataan itu. Singkat kata banyak hal yang dilakukan dengan uang belasan triliun rupiah untuk sedikit memperbaiki keadaan.

Karena penjualan saham Indosat oleh Temasek kepada Qatar Telecom, maka peluang pemerintah Republik Indonesia untuk kembali mendapatkan Indosat akan semakin kecil kecuali ada upaya “keras” yang sungguh-sungguh. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla melalui Menteri Negara BUMN sudah menyatakan tidak akan atau tidak berminat membeli kembali saham Indosat. Alasannya ada tiga, pertama tidak punya hak membeli, kedua tidak punya uang, dan ketiga pemerintah takut dianggap melanggar ketentuan persaingan usaha yang sehat.

Namun penjualan Indosat itu seharusnya menyadarkan pemerintah yang sekarang bahwa menjual BUMN strategis bukanlah pekerjaan mendesak apalagi sebuah keharusan. Banyak pemerintah di dunia ini memiliki BUMN yang strategis dan bagus karena memang ada kemauan dari pemerintahannya untuk membuat bagus. Negara ini butuh BUMN yang meminjam istilah Renald Kasali, bisa menjadi powerhouse, seperti halnya setiap negara memilikinya. Bagi profesional yang bekerja BUMN, kasus Indosat seharusnya juga menjadi cambuk, untuk antara lain mengelola BUMN secara profesional, tidak bersedia diintervensi oleh pemerintah dan parlemen, dan memangkas biaya ekonomi tinggi dan perilaku tidak efisien.

Maka kalau kemudian BUMN strategis yang didirikan untuk kemajuan dan kebangsaan bangsa dijual satu demi satu karena alasan ekonomi dan politik segelintir orang dan kelompok, negara ini sebetulnya sedang meluncur kepada tubir kebangkrutan. Kelak karena itu jangan disalahkan, jika sejarah mencatat bahwa rezim reformasi termasuk rezim yang paling tak bertanggungjawab dan tidak becus memajukan ekonomi bangsa, karena hanya mampu menjual dan tidak bisa melakukan terobosan.

Sebuah predikat, yang sampai sekarang seharusnya telah dan tetap melekat kepada rezim Megawati [PDIP] dan juga kepada Laksamana Sukardi.

About these ads

13 pemikiran pada “Penjualan Indosat, dan Dosa PDIP-Laksamana

  1. Kebodohan orang-orang pintar yang hanya menggunakan otak yg dikaruniakan Allah hanya untuk mengisi perutnya …dan bukan untuk membangun hati dan otaknya agar lebih mumpuni….

  2. Serupa dengan yg terjadi di Bank Internasional Indonesia. BII dijual oleh pemerintah ke Temasek dengan harga hanya Rp 2 triliun tahun 2003 yang lalu. Dan tahun 2008, Temasek berhasil menjualnya ke investor Malaysia dengan harga Rp13,5 triliun.Untung Rp11,5 Triliun hanya dalam 5 tahun, belum lagi dividen yang diterima Temasek tiap tahunnya. Hmmm…idiot banget bangsa ini. Miris membacanya.

  3. kebodohan pemerintah ! gk bisa ngambil keputusan yg terbaik
    bingung saya dengan pejabat2 itu,, pendidikan tinggi tapi ilmunya gk dipake..

    apa ijasah palsu ya ???..

    sekalian aja jual indonesia ke negara maju,,biar rakyat indonesia dipimpin sama pemerintah yg kompeten

  4. Betul mas Januar, anak SMA ngurus OSIS aja ga bisa, ini ngurus negara yaa..siapa yang ngejadi-in do-i pemimpin ?
    Inilah kesalahan pola asuh dari Diknas kita yang berkurikulum mengunggulkan jurusan IPA daripada IPS..akibatnya begini…
    ketika alumninya jadi pemimpin yang di inget Matematika-nya bukan Ilmu Sosial, belum lagi soal Akhlaq yang yang sudah semangkin plural ini. Wah mumet….

  5. Kita kan gak tau sengaja atau tidak. Kalo gak sengaja, fitnah itu bukannya dosa?

    Bodoh/ pintar itu kan yang nentuin Doi di atas sono, bukan maunya sendiri. Bersyukur deh kalo ente2 pinter2. Bodoh2in org bukannya = bodoh2in Doi? Hati2 lho!

    Bodoh-pintar, jahat-baiknya para pejabat tanggung jawab siapa? Siapa yang bikin mereka bisa bercokol di sana? Emang penonton selalu lbh pinter, tapi sayang cuma sebatas penonton, belon cukup pinter untuk memperbaiki sistem.

  6. Itulah dilemanya. Tidak dijual kinerjanya melempem, inefisien, dan sering jadi sapi perah. Dijual tapi lewat skema yang kurang transparan dan diobral begitu saja.

    Mengenai Laksamana, saya pikir bagus juga kalau dilakukan penyelidikan tuntas ke arah itu. Tapi apa iya ada political will untuk membuka borok masa itu? Saya pesimis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s