Gelombang Pasang di Jakarta

Bank Dunia mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan terjadinya gelombang laut besar yang akan menerjang wilayah pesisir Jakarta.

Anindya Bakrie dan Sang Kakek

Hari ini genap dua tahun lalu tanah Porong tenggelam oleh lumpur Lapindo. Para korban lumpur Lapindo sebagian kemudian mengalami tekanan jiwa, kehilangan pekerjaan, menjadi pelacur, dan menjadi preman.

Usai Dinas, Mabuk di India

Setiap tahun, setelah selesai dinas militer, 30 ribu pemuda Israel bertolak ke India untuk gila-gilaan mengkonsumsi narkoba. Selama dua tahun, sutradara Yoav Shamir mengikuti kelompok anak muda ini dan membuat dokumenter tentang ulah mereka.

Ini Sarinah Bukan Dakocan

Entah apa yang akan dikatakan Sukarno, andai kini melihat Sarinah dengan McDonald, Hard Rock dan barang-barang mewah itu— Hard Rock Café sekarang sudah tidak menempati Gedung Sarinah— yang justru berasal dari pusat kapitalisme dunia yang pernah hendak dilawannya, Amerika Serikat. Beban sejarah Sarinah memang berat.

Dicari: Joko Suprapto

Dia adalah penemu Blue Energy bahan bakar alternatif pengganti BBM. Namun sejak 7 Mei 2008, Joko tak diketahui keberadaannya. Ke mana Joko pergi?

Dua Tokoh Petisi 50 Tutup Usia

Ali Sadikin dan SK Trimurti adalah dua tokoh yang memiliki sikap keras dan pernah memberikan catatan tersendiri pada bangsa ini. Keduanya tutup usia dalam waktu yang hampir bersamaan hari ini.

Sophan Sophiaan Tewas Dalam Kecelakaan Motor

Sehari sebelum meninggal dunia, Sophan yang merupakan ketua penyelenggara kirab Jalur Merah Putih keliling Jawa sempat berang ketika dia memberikan pidato sambutan di Surabaya.

Walikota Muskogee, Walikota Termuda di Dunia

Inilah John Tyler Hammons, wali kota Muskogee, Oklahoma— wali kota termuda di dunia.

Ke Eropa, 10 Wartawan Diundang Mittal

Sepuluh media dari Jakarta telah diundang oleh Arcelor-Mittal untuk mengirimkan wartawannya mengikuti kunjungan jurnalistik ke Eropa. Tujuannya agar 10 wartawan itu mendapat gambaran utuh tentang Arcelor-Mittal.

66 Partai dan Habisnya Uang Negara

Subsidi kepada partai politik tidak lagi diberikan berdasarkan kursi melainkan dihitung berdasarkan jumlah suara yang diperoleh masing-masing partai politik sama persis seperti yang pernah diberlakukan pada Pemilu 1999. Uang negara yang akan habis bisa mencapai triliunan rupiah.