Kisruh Bisnis Adam Air

witart.wordpress.com

Perseteruan antara Bhakti Investama dengan Keluarga Adam Suherman, rupanya sudah berlangsung jauh sebelum kecelakaan pesawat Adam Air di Batam. Salah satu pemicunya adalah kepemilikan saham di antara kedua pihak yang porsinya sama besar. Lalu siapa akan menelan apa?

Oleh Rusdi Mathari

KISRUH manajemen Adam Air semakin keruh. PT Bhakti Investama bukan saja berencana akan menarik keikutsertaan dalam kepemilikan maskapai itu tapi juga mulai membeberkan kebobrokan lain dari Adam Air. Salah satunya tentang penyelewengan dana Rp 2,1 triliun oleh manajemen Adam Air. Penyelewengan itu kata Hotman Paris Hutapea, pengacara yang dibayar oleh PT Global Trasport Services dan PT Bright Star Perkasa, berpotensi merugikan keuangan negara karena sebesar Rp 50 miliar dari dana itu diperoleh Adam Air dari kredit BRI. Global Transport dan Bright Star adalah anak perusahaan Bhakti.

Kekisruhan yang terjadi “mendadak” itu merupakan buntut dari kecelakaan pesawat Adam Air di Bandara Hang Nadim, Batam, 10 Maret 2008. Adam Air lantas disebut-sebut sebagai maskapai yang tidak mengindahkan keselamatan penumpang dan penerbangan meskipun kasus kecelakaan pesawat yang dialami oleh Adam Air tidak seburuk yang dibayangkan oleh banyak orang. Dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi diperoleh data, selama periode lima tahun hingga Januari 2007 telah terjadi 143 kali kecelakaan pesawat di Indonesia. Rinciannya adalah Garuda Indonesia (14 kali), Mandala Airlines dan Merpati Nusantara Airlines (masing-masing 11 kali), Trigana Air Service dan Lion Air (masing-masing 9 kali), Pelita Air Service dan Dirgantara Air Service ( masing-masing 8 kali) (Lihat “Garuda Paling Banyak Alami Kecelakaan,” TempoInteraktif, 18 Januari 2007).

Nama Adam Air di persepsi buruk, ketika satu pesawat yang dioperasikan oleh maskapai itu hilang pada 1 Januari 2007 di sekitar perairan Teluk Majene, Sulawesi Selatan. Pesawat dengan nomor penerbangan KI 574 itu hilang di dalam perjalanan dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Bandara Sam Ratulangi Manado. Seluruh penumpang dan awak pesawat, yang kesemuanya berjumlah 102 orang dinyatakan tewas dan penyelidikan atas kasusnya hingga kini belum terungkap publik. Adam Air, sejak itu identik dengan maskapai yang mengabaikan keselamatan penerbangan dan keselamatan penumpang meskipun tiketnya tetap laris diserbu penumpang. Adam Air bahkan terpilih menjadi maskapai penerbangan swasta nasional untuk Official Carrier PON XVII-2008 di Kalimantan Timur dengan rencana membagi 1.200 tiket bagi PB PON, atlet, pelatih dan offisial dari sejumlah daerah selama berlangsungnya PON.

Namun Adam Air tampaknya memang sedang sial. Citranya yang telanjur buruk sejak peristiwa kecelakaan 1 Januari 2007, semakin memburuk setelah satu pesawatnya terpental (bouncing) hingga dua kali ketika hendak mendarat di Bandara Hang Nadim, pada 10 Maret 2008. Peristiwa di Batam itu, lalu seolah menyeret Adam Air ke pusaran masalah. Puncaknya adalah rencana penarikan dukungan Bhakti di kepemilikan saham di Adam Air. Alasan Bhakti hendak hengkang dari “kockpit” Adam Air karena maskapai itu dianggap tidak transparan dan mengabaikan keselamatan penumpang.

Akibat keputusan dari manajemen Bhakti, mudah ditebak, Adam Air segera terancam oleng karena separuh dari kekuatan modalnya sudah patah— melalui Global Transport dan Bright Star, Bhakti menguasai 50 persen saham PT Adam Skyconnection Airlines. Puncaknya adalah keputusan manajemen Adam Air yang memutuskan untuk tidak beroperasi sejak Senin 17 Maret 2008. Namun manuver Bhakti tak berhenti sampai di sana. Perusahaan yang menguasai PT Bimantara Citra itu, lantas membeberkan penyelewengan keuangan di tubuh Adam Air meskipun hal itu dibantah oleh Adam Adhitya Suherman, Direkttur Utama Adam Air.

Menurut Adam, selama ini pihaknya cukup transparan dalam mengelola keuangan perusahaan. Antara lain dengan menempatkan Gustiono Kustianto sebagai perwakilan Bhakti untuk duduk di di kursi Wakil Direktur Utama dan Direktur Keuangan. Maka kata Adam, “Tolong tanyakan pada direktur keuangan saya, ke mana uang itu hilang.” (Lihat “Adam Air Bantah Selewengkan Dana Rp 2,1 Triliun,” antara.co.id, 17 Maret 200 8)

Bhakti adalah perusahaan yang terkenal karena mengakuisisi saham PT Bimantara Citra. Nama yang disebut terakhir adalah perusahaan milik Bambang Trihatmojo, anak mendiang Suharto, Presiden RI kedua. Saham Bhakti antara lain dimiliki oleh Hary Tanoesudibjo dan Bambang duduk di jajaran komisaris. Bisnis yang dikembangkan oleh Bimantara antara lain bisnis media antara lain RCTI, TPI, Global TV, koran Seputar Indonesia, situs Okezone, dan kabarnya majalah Trust. Raksasa bisnis ini juga mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui PT Mobile-8 Telecom (Telecom).

Pada 12 April 2007 atau sekitar 3 bulan setelah peristiwa kecelakaan Adam Air pada 1 Januari 2007, Bhakti kemudian mengakuisisi 50 persen saham Adam Air melalui Global Transport dan Bright Star. Penandatanganan perjanjian transaksi akuisisi saham dilakukan oleh Dirut PT Global Transport Services Hartono Tanoesoedibjo dengan Dirut Adam Air Adam Adhitya Suherman di Menara Kebon Sirih, Jakarta. Hartono adalah saudara dari Hary Tanoesudibjo. “Kami telah mencapai kesepakatan dengan pendiri Adam Air, 50 persen saham yang kami investasikan merupakan saham baru yang diterbitkan oleh AdamAir, sehingga dananya akan masuk ke Adam Air,” kata Hary Djaja, Direktur Utama Bhakti (Lihat “Bhakti Resmi Akuisisi 50% Saham Adam Air,” adamair-indonesia.blogspot.com, 15 April 2007)

Jika alasan Bhakti akan menarik diri dari kepemilikan Adam Air adalah karena faktor tidak adanya transparansi dan pengabaian keselamatan penumpang oleh Adam Air, maka pertanyaannya sekarang, mengapa Bhakti justru mengakuisisi Adam Air pada saat maskapai itu baru saja dirundung persoalan besar: kehilangan pesawat dan menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat pada 1 Januari 2007? Tidakkah peristiwa itu, pada waktu itu, lebih dahsyat menyita perhatian publik dan karena itu patut dicurigai Adam Air memang tidak mengindahkan keselamatan penumpang, dibanding misalnya insiden di Batam, sepuluh hari lalu? Hal yang juga tidak kalah menarik adalah langkah dari orang-orang Bhakti yang kemudian juga membeberkan “kejelekan” Adam Air, sementara di sisi lain, orang-orang Bhakti juga duduk di kursi manajemen Adam Air.

Menurut Bisnis Indonesia, perseteruan antara pihak Bhakti dengan Keluarga Adam Suherman terjadi jauh sebelum insiden tergelincirnya pesawat Boeing 737-400 Adam Air di Bandara Hang Nadim. Perseteruan itu antara lain dipicu oleh akuisisi saham Adam Air oleh Bhakti yang ternyata membagi porsi kepemilikan saham Adam Air sama besar antara Keluarga Suherman dan pihak Bhakti yaitu 50:50. Koran itu meniupkan rumor, porsi kepemilikan saham yang berimbang itulah yang menyulitkan kedua belah pihak dalam mengambil keputusan. Contohnya, pada saat para lessorpesawat Adam Air meminta kepastian perpanjangan masa sewa pesawat, kedua belah pihak tak mencapai kata sepakat hingga krisis keuangan menimpa Adam Air (Lihat “Nasib AdamAir setelah Ditinggal Bhakti,” bisnis.com, 17 Maret 2008).

Rumor dari Bisnis Indonesia itu, bisa saja sekadar gosip tapi logikanya, sangat mustahil ada dua matahari di muka bumi. Dengan logika semacam itu, salah satu pihak dari pemilik saham di Adam Air yang porsinya sama besar itu, kemungkinan besar sedang memainkan jurus untuk menguasai maskapai itu dengan menumpang isu kecelakaan pesawat Adam Air –meskipun kemungkinan untuk benar-benar meninggalkan Adam Air dari salah satu pihak, juga sama besarnya, tentu saja. Maka siapa akan menelan apa, dalam waktu yang tak lama, pasti akan ketahuan oleh publik. Satu hal yang sering dilupakan dari peperangan bisnis semacam itu, yaitu kesadaran untuk menegakkan etika bisnis dan memperjuangkan nasib karyawan.

8 Responses to “Kisruh Bisnis Adam Air”

  1. semoga semua mau belajar , sehingga masa depan airlines lokal kita bisa lebih baik lagi

  2. Wah betul itu pak, kesadaran untuk menegakkan etika bisnis dan memperjuangkan nasib karyawan. Bukan hanya menambah pundi2 sendiri tanpa mau melihat stakeholder perusahaan yang lain.

  3. Waduh mengerikan sekali hiks

  4. [...] Ulasan menarik tentang Adam Air bisa dilihat di alamat http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/18/kisruh-bisnis-adam-air/ [...]

  5. Dibalik itu semua konglomerasi di Indonesia = sama buruknya ketika kapitalisme di Eropa-Amerika, Pada saat itu pemilik saham menyetujui untuk injeksi Dana dengan syarat bahwa sahamnya bertambah dan jajaran direksi Adam Air dicopot alias diganti, para pendahulu Adam Air tidak setuju sehingga dirut keuangan yg selama ini menduduki porsi direksi dgn para manajer adalah = sebagai informan berdasarkan informan internal perusahaan yg blm tentu tahu benar krn blm ada FAKTA mengenai masalah penggelapan sehingga misi untuk menjatuhkan AA ibarat menjadi kasus penyelewengan Dana sehingga pemilik saham mau menjual dan pembeli menjatuhkan nilai jual saham sehingga mayoritas akan menjadi bagian dari Bhakti Investama hal ini merupakan cerita klasik tetapi apa peran PEMERINTAH dalam hal ini - cerita berakhir dalam theatre DIMANA para pegawai akan menjadi Korban, Nahh apakah ini yg disebut bahwa Hidup di Indonesia itu mudah…? dan serta tidak mengindahkan tatanan ETIKA maupun Profesi akibat dari para pemilik Modal yg RAKUS? Demikian tanggapan saya
    Thanks semoga para pemimpin di negara ini mampu membuat Citra dalam negri yg baik.

  6. [...] Get the entire post from here. [...]

  7. Pada pertengahan bulan Maret 2008 yang lalu saya membeli tiket Adam Air dengan tujuan Jakarta - Surabaya untuk tanggal 19 Maret 2008 di Kantor Adam Air Bandara Soekarno-Hatta.
    Beberapa hari setelahnya saya membatalkan tiket tersebut karena ternyata jadual acara saya di Surabaya dimajukan.Akhirnya selama saya di Surabaya, yakni pada tanggal 12 Maret 2008 saya menyempatkan untuk membatalkan tiket tersebut di Kantor Adam Air Surabaya.Tiket tersebut bisa dibatalkan dengan potongan Rp 50.000,- namun uang bisa dikembalikan setelah 1 bulan berikutnya dengan alasan masih banyak orang yang juga ingin mengembalikan tiket.
    Oleh karena itu, pada tanggal 14 April 2008 saya mendatangi kantor Adam Air Surabaya tersebut untuk menagih janji atas hak saya untuk mendapatkan uang saya kembali yang bagi saya tidak sedikit nilainya.
    Namun yang terjadi adalah uang saya belum dapat dikembalikan karena Adam Air belum mendapat dana dari Kantor Pusat Adam Air. Ditanyakan sampai kapan hal ini akan ters menggantung, pihak Adam Air menyatakan tidak tahu.
    Lalu bagaimana nasib kami yang belum memperoleh hak kami berupa uang pengembalian tiket tersebut? Mohon tanggung jawab Adam Air untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan baik kepada customer.

  8. sama pak, saya juga refund tiket 1jt, blum ada kejelasan sampai sekarang. mari kita sama2 menuntut adam air !

Leave a Reply