Sebagian besar warga Amerika Serikat yang konon berpendidikan, bermartabat dan menganggap negara mereka sebagai biang demokrasi itu, ternyata bersikap ambigu ketika menyikapi perbedaan ras dan agama. Kali ini mereka mencoba berkampanye untuk menolak Barack Obama sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat, karena Obama dianggap sebagai pemeluk Islam. Sikap warga Amerika itu mirip dengan sikap kelompok-kelompok Islam tertentu di tanah air, yang selalu menolak kandidat Presiden RI yang beragama selain Islam.
oleh Rusdi Mathari
KETIKA diwawancarai oleh jaringan kantor berita ABC News, pada Senin (25 Februari 2008), Hillary Clinton menolak laporan dari situs DrudgeReport yang menyebutkan pihaknya telah dengan sengaja menyebarkan foto bergambar Obama yang mengenakan baju tradisional Somalia. Hillary bahkan balik menuduh saingannya itu sengaja menciptakan kontroversi soal foto itu untuk menarik perhatian. “Saya tidak tahu apa pun tentang (foto) itu,” kata Hillary (lihat “Clinton on photo: ‘Why is anybody concerned about this?” ABC New’s, 25 Februari 2008).
Nyonya Clinton memang sudah seharusnya menyangkal pertanyaan dari dua wartawan ABC News, Teddy Davis and Jacqueline Klingebiel yang mempersoalkan keterlibatan pihaknya dalam penyebaran foto Obama tersebut, karena situs Drudge Report yang kali pertama menampilkan foto itu mengaku mendapat kiriman email dari “staf Hillary.” “Tidak satu pun di antara kami yang melihat email itu. Jika ada penyelidikan independen soal itu, kami akan menyambutnya,” kata Howard Wolfson, juru bicara dari kubu Hillary (lihat “Obama Photo Causes StirObama Photo Causes Stir,” ABC News, 25 Februari 2008).
Dalam minggu terakhir kampanye sebelum pemilihan di Texas dan Ohio, foto Obama yang mengenakan baju tradisional Somalia telah menjadi “persoalan” besar di kalangan publik Amerika. Foto itu menampilkan gambar Obama sedang mengenakan baju tradisional Somalia lengkap dengan jubah dan serban putih. Foto itu sendiri disebut-sebut diabadikan pada 2006 ketika Obama melawat ke Kenya, negara asal dari ayah kandung Obama
Menurut kantor berita BBC London, kubu Clinton sejauh ini memang berupaya untuk mengangkat latar belakang Obama. Tujuannya agar para pemilih bisa dipengaruhi dan tidak memilih Obama, tentu saja. Tahun lalu, para sukarelawan mereka melakukan kampanye yang menyerang Obama setelah muncul berita email yang menyebutkan bahwa Obama pemeluk Islam (lihat “Foto Obama Timbulkan Sengketa,” www.bbc.co.uk, 25 Februari 2008).
Tentang foto itu, menurut Obama, siapa pun tahu, ketika berkunjung ke sebuah negara seseorang tak bisa menolak untuk didaulat mengenakan baju yang diberikan oleh penduduk negara itu sebagai hadiah. “Adalah menyedihkan jika dugaan (foto) itu benar beredar dari kubu Clinton (Hillary), karena pada saat yang sama dia menekankan perlunya memperbaiki hubungan yang lebih baik di seluruh dunia,” kata Obama.
Kampanye dan tuduhan terhadap Obama, andai benar dia pemeluk Islam, mengingatkan kepada musim Pemilu Presiden di Indonesia. Sebagian besar umat Islam di negara ini niscaya selalu menolak jika Presiden dan Wakil Presiden adalah pemeluk agama di luar Islam. Sebagian yang lain malah beranggapan, Presiden RI harus berasal dari Jawa. Dulu pada masa Presiden BJ Habibie, Johny Lumintang yang naik menjadi Pangkostrad menggantikan Prabowo saja sudah disoal banyak kelompok Islam karena Lumintang beragama Kristen. Hasilnya, Lumintang menjabat Pangkostrad hanya dalam waktu 17 jam.
Sikap-sikap penolakan semacam itu, sesungguhnya merupakan gambaran dari cara berpikir kolektif kelompok mayoritas yang selalu dirundung ketakutan dianggap tidak penting. Anggapan ini mungkin terlalu berlebihan tapi cara berpikir dari sebuah kelompok mayoritas, kecenderungannya adalah selalu hendak melakukan monopoli dan menganggap kelompok mereka adalah yang paling penting dan paling harus mendapat prioritas. Sejarah dunia telah memberikan contoh banyak akan hal itu dan kemudian terbukti hanya berujung pada penderitaan manusia, permusuhan dan saling membenci.
Di masa lalu, mayoritas Aria di Jerman menganggap mereka jauh lebih unggul dari ras mana pun dan kemudian terbukti menjadi pemicu runtuhnya sebagian peradaban. Mayoritas Jepang yang sombong merasa sebagai pemimpin Asia dan karena itu telah membawa penderitaan kepada berjuta-juta penduduk di Asia. Amerika yang mayoritas warganya berkulit putih dan beragama Protestan “mengantar” John Fitzgerald Kennedy yang beragama Katolik kepada ujung bulat sebutir peluru. Hal yang serupa kemudian terjadi di Yusgoslavia pada awal 1990-an. Negara yang dipenuhi mayoritas Serbia itu, akhirnya memunculkan perang saudara dan perpecahan karena faktor dominannya Serbia.
Pada dasawarsa 2000-an, dunia menyaksikan, seorang megaloman bernama George W. Bush yang merasa negaranya memiliki kekuatan ekonomi dan senjata, lalu seenak perutnya memberikan cap kepada Islam sebagai sumber teroris dunia sembari melupakan tindakan-tindakan biadab yang dilakukan oleh pemerintahannya. Akibat sikap Bush, dunia lantas bukan saja hingar bingar oleh ledakan bom di mana-mana, tapi kemudian juga semakin dipenuhi mesiu kebencian dan saling curiga.
Di Indonesia kita menyaksikan, mayoritas penguasa modal (Cina) di zaman Orde Baru yang dianggap sebagai penggerak utama ekonomi negara terbukti mewariskan korupsi dan utang bernilai ratusan triliun rupiah. Warisan itu celakanya, kini harus ditanggung oleh oleh rakyat yang menjadi minoritas dalam mengakses modal. Dan yang kini sedang terjadi, beberapa kelompok Islam yang merasa mayoritas, dengan seenaknya menghakimi kelompok atau agama lain sebagai sesat dan sebagainya (lihat “MUI dan GUII Desak Pemerintah“).
Minoritas, mayoritas, mereka, kita, agama, ras, suku, bangsa, sekte dan sebagainya— sesungguhnya hanyalah predikat yang tidak berdiri sendiri dan tidak berarti. Predikat itu akan bermakna, bila manusianya juga bisa memberi makna kepada kehidupan manusia lain yang lebih banyak dan lebih luas melampaui sekat-sekat predikat itu sendiri agar menjadi lebih baik. Dan apa yang kini sedang terjadi di Amerika dengan penyebaran foto Obama, pria berkulit hitam, yang berasal dari keluarga multi ras dan agama itu— sesungguhnya tidak lebih dari sebuah sikap mayoritas yang gagap yang selalu ketakutan dianggap tidak penting karena mereka selalu merasa paling penting.
DIarsipkan di bawah: Did You Know, Politik, Story, Tentang












Kasihan publik Amerika harus menyaksikan pertarungan tidak penting seperti ini, negara demokrasi gituloh. Bagi saya insiden seperti ini lebih mirip orang kehabisan amunisi.
ups keliatan kan, parnonya Amrik sama Islam…
Dan yang kini sedang terjadi, beberapa kelompok Islam yang merasa mayoritas, dengan seenaknya menghakimi kelompok atau agama lain sebagai sesat dan sebagainya (lihat “MUI dan GUII Desak Pemerintah“).
Kalo untuk yang diatas kayaknya perlu dikaji lagi pak…kenapa MUI mendesak pemerintah.
Contoh kasus:
Suatu aliran yang menghalalkan untuk tidak sholat, menghalalkan mencuri, menganggap selain ajaran dia halal dibunuh..tp menamakan dirinya aliran Islam yang plg benarso., apa dong fungsi MUI kalo aliran tersebut tetap jalan dgn embel2 aliran islam?
Ok pak, kita cari tau dulu dari dua sisi…
tapi nggak mempan juga sebenernya karena setelah rumor itu beredar he still won at Washington, Wisconsin dan mayoritas pendukung Obama justru White People dan melihat isue itu ga mempan Clinton akhirnya cari cara lain sebelum Vote Texas berlangsung karena Texas akan menjadi kunci kemenangan antara Obama and Clinton…
Obama doesn’t care about it, and American people still believe in change. Go Obama, yes you can!
[...] Obama bersaing dengan John McCain dari Partai Republik, dalam pilpres November 2008. (lihat “Foto Obama dan Kegagapan Mayoritas,” Rusdi GoBlog, 26 Februari [...]