Wajah Nabi Muhammad


Wajah Nabi Muhammad saw. dilukiskan dengan kata-kata sebagai wajah yang berkulit putih, bermata hitam, beralis tebal, gigi putih teratur dan rambut bergelombang. Tapi jika tidak pernah sekalipun melihat wajah Nabi lalu bagaimana seseorang begitu sangat yakin telah bertemu dan melihat wajah Nabi dalam mimpi, atau sebagian yang lain lalu melukiskan wajahnya?

oleh Rusdi Mathari
SUATU hari, kira-kira empat sampai lima tahun silam, saya berkunjung ke rumah seorang aktivis partai politik untuk keperluan sebuah wawancara. Di rumahnya di Depok, pinggir selatan Jakarta, saya diajak masuk ke ruang kerjanya. Banyak buku, literatur, dan jurnal. Orangnya juga berapi-api menjelaskan pendirian partai politiknya yang kala itu bermaksud mencalonkan SBY-JK menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI dan fasih menjelaskan ajaran dan dalil agama. Di akhir wawancara, ketika saya hendak keluar dari ruang kerjanya, di samping pintu masuk, saya bertatap dengan sebuah foto atau tepatnya lukisan wajah seseorang.

Kepala orang itu tertutup sebagian oleh serban, warnanya polos dan tak bermotif. Wajahnya terlihat bagai pemuda yang matang dan ganteng mirip wajah-wajah orang Arab berkulit putih bersih. Hidungnya mancung, sorot matanya tajam dan bibir tipisnya tampak tersenyum dengan kumis dan jenggotnya terlihat tipis dan terawat.

Secara umum, gambarannya hampir mirip dengan gambar-gambar wajah Yesus yang pernah beberapa kali saya lihat di rumah-rumah beberapa teman saya yang beragama Nasrani. Tapi aktivis partai politik itu beragama Islam. “Siapa orang ini,” tanya saya kemudian.

Semula saya menduga orang itu akan menjawab Syekh Abdul Qadir al Jailani seorang sufi besar atau Ali bin Abi Thalib ra., sepupu Nabi saw. Dugaan saya terutama didasari oleh pengalaman bahwa gambar-gambar dari dua orang itu, pernah saya jumpai di beberapa rumah teman-teman saya yang beragama Islam.

Tapi dugaan saya salah. “Itu Nabi,” jawab dia serius meskipun tetap berusaha tersenyum.

“Oh, wajah Nabi?” saya bertanya kembali sambil berusaha membungkus mimik wajah saya yang sedikit terkejut. Aktivis tadi tak bersedia menjawab lebih jauh.  Saya pulang.

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa orang Islam mengharamkan wajah Nabi untuk digambar atau divisualkan. Setiap kali ada peristiwa yang berhubungan dengan penggambaran wajah Nabi, karena itu hampir bisa dipastikan mayoritas umat Islam juga akan selalu marah dan melakukan protes. Penggambaran wajah Nabi lantas akan dianggap sebagai penghinaan terhadap ajaran Islam, dianggap tidak menghormati ajaran Islam dan Nabi itu sendiri.

Itu sebabnya dalam setiap cerita bergambar seperti komik ataupun film, keseluruhan bentuk fisik Nabi selalu digantikan oleh cahaya. Kadang di tengah cahaya itu ditulis lafal Arab “Muhammad.” Sungguh saya sendiri tak paham dasar pengharaman tersebut, karena sejauh pengetahuan saya tidak ada dalil Alquran dan hadis yang secara benar melarang penggambaran bentuk fisik Nabi termasuk wajahnya.

Dahulu ketika bersekolah di madrasah, ustad atau kiai yang saya tanya akan hal itu hanya menjelaskan, wajah Nabi diharamkan digambar agar Nabi tidak dikultuskan. Pengkultusan terhadap seseorang bahkan meski pun dia berpredikat sebagai nabi dan kekasih Allah akan menyebabkan orang tergelincir pada jurang syirik, sebuah perbuatan yang justru ditentang keras oleh Nabi.

Menurut para kiai itu, Nabi sejak awal memang tidak mau dikultuskan karena hanya menginginkan manusia mengkultuskan Allah. Jawaban yang sederhana dan cukup masuk akal, meski pun tentu saja membuat saya terus penasaran.

//yesaya.indocell.net/id532.htm
Kejadian sampul majalah Tempo edisi 50/XXXVI/04 – 10 Februari 2008 yang menukil lukisan Leonardo da Vinci berjudul The Last Supper atau “makan malam terakhir” dan mengganti wajah Yesus dengan Soeharto dan murid-murid Yesus dengan anak-anak Soeharto— yang lantas menuai protes dari beberapa orang yang mengatasnamakan umat Katolik, mengingatkan saya pada larangan untuk menggambar wajah Nabi.

Saya lalu ingat akan lukisan wajah yang disebut-sebut sebagai wajah Nabi di rumah aktivis partai politik, di Depok itu dan ingat akan penjelasan para kiai.

Seorang teman bercerita, suatu malam dia bermimpi bertemu dengan Nabi. Benar tidaknya wajah di mimpi itu lantas disampaikan kepada seorang kiai yang lantas menjawab, bahwa jika benar bermimpi bertemu dengan Nabi, maka orang dan tentu saja wajah yang hadir dalam mimpi itu adalah benar Nabi karena iblis tidak bisa meniru wajah Nabi. “Jaminannya adalah surga,” kata kiai itu.

Saya tersenyum mendengar penjelasan kiai itu bukan karena soal jaminan surga itu. Saya hanya berpikir, iblis mungkin saja memang tak bisa menyamar dan mengganti wujud menjadi Nabi tapi bagaimana mungkin seseorang bisa yakin bahwa dia bermimpi telah bertemu dengan Nabi sementara dia sendiri seumur hidupnya belum pernah melihat wajah Nabi?

Tidakkah dalam kasus mimpi semacam itu, bisa saja iblis atau khayalan lain yang datang dan kemudian mengaku-aku sebagai Nabi, karena si pemimpi itu sendiri tak tahu atau tidak pernah melihat wajah nabinya? Dan tidakkah wajah Nabi selama ini, hanya bisa dilukiskan lewat kata-kata dan tidak dalam bentuk fisiknya?

Namun saya juga paham di antara ketaatan untuk tidak menvisualkan wajah Nabi, sebagian untuk tidak menyebut seluruh umat Islam juga selalu merindukan dan karena itu ingin melihat wajah nabinya. Mungkin karena itu, di Iran banyak orang yang menyimpan poster atau lukisan wajah seseorang yang diakui sebagai wajah Nabi ketika masih remaja belia. Sebagian menyebutkan bahwa gambar itu dilukis oleh pendeta Bahira yang sempat mengiringi Nabi bersama pamannya ke Siria (dulu berjuluk negeri Syam).

Mengutip artikel dari majalah ISIM Review 17, Spring 2006, berjudul “The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont” situs madinah-al-hikmah.net menyebutkan, kaum Syiah di Iran memang mempunyai pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90–an poster yang menggambarkan wajah Nabi di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi.

Bagi mereka yang selalu memandang curiga terhadap orang dan ajaran Islam, pengharaman untuk menggambarkan wajah Nabi niscaya juga menjadi peluang untuk mengolok-olok. Kasus karikatur Nabi yang dimuat oleh harian Jylland-Posten Denmark pada kuartal terakhir 2005 adalah salah satu contohnya. Banyak orang Islam protes, sembari diam-diam tetap merindukan untuk melihat wajah Nabi.

Sebuah wajah yang diceritakan oleh banyak hadis berkulit putih, bermata hitam, beralis tebal, gigi putih teratur dan rambut bergelombang. Wajah yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian yang bahkan konon mengalahkan ketampanan Nabi Yusuf a.s., seorang nabi yang telah membuat banyak perempuan tergila-gila hanya dengan melihat wajahnya.

Tiba-tiba Voja Alfatih, anak saya yang berumur enam setengah tahun menghampiri saya. Dia membawa komik yang menceritakan kisah hidup Nabi. Tergambar di komik, wajah Nabi yang “diwakili” lafal Arab “Muhammad” itu.

Dia pun bertanya kepada saya kenapa wajah Nabi tak seperti wajah kita? Saya jawab, “Bukan berbeda tapi kita diminta untuk tidak menggambarnya.”

Wajah Voja tampak semakin bingung.

Artikel terkait “Soal Gambar Nabi, Sekali Lagi.”

About these ads

404 pemikiran pada “Wajah Nabi Muhammad

  1. kita semua umat islam
    pasti akan bertemu rosululloh
    jdi kita hidup didunia
    harus menjlankan perintah Allah
    & menjahui larangan`y, supya ntar di surga kita bisa
    berjumpa rosululloh oce……….,

  2. sdr2 non kristiani saya sarankan sebaiknya anda baca kristen orthodox ( kristen yg asli /tdk berubah bs di liat di google, soal : sujud, kiblat , airwudu,puasa, 40 hr, puasa senin , kamis , doa lima waktu, tiga waktu, bentuk rmh ibadah, ngaji baca injil ) semuanya ada dlm beribadah.. komplit .., bukan hal yg baru..,yg anda tau mungkin hanya ajaran kristen dr Barat ..pelajarilah dan nanti anda akan tau menilai ajaran anda sendiri , selamat belajar..

    • saya setuju dengan anda…emang mereka semua itu pembual, lain perkataan dan perbuatan, laknatlah para hamba hamba syaiton..ngomongnya aja selangit, tapi tindakannya nol besar..astgfirlh..laknatlah wahai engkau pengikut syaiton

  3. islam melarang keras gambar nabi di lukiskan
    karna islam takut itu akan mengurangi iman umat
    dan menjurus pada sirik
    islam takut gambar tersebut akan di jadikan
    objek sembahyang
    perti agama laen yg slalu menyembah gambar tuhan nya

  4. masalah benar tidaknya bahwa itu gambar nabi atau buka bagi aku sangat tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana ajaran-Nya bisa kita aplikasikan. gitu aja kok repot..

  5. aslm,bwt smua aja,yg pasti lakum dinukum waliyadin…rasulullah jg pernah bsbda maukah km q tnjukkn yg apabila kau berpedman pdnya tdk akan sesat selama2nya,yaitu al-qur an dan hadist.

    • astgfirlh…, sudah cukup wahai saudaraku…marilah kita semua membuka hati nurani…bismillah iroman irohim…semoga para pengikut syaiton sesat itu bertobat dari jalan kafir yang sesat dan semoga kesesatannya berubah menjadi ketentraman..alhamdulilah irobil alaminn..engkau para pengikut mazhab sesat kembalilah ke alam yang nur seperti cahaya yang berkilau di angkasa maka raihlah nur itu sebagai rohman yang insyaalloh menjadi penuntun dalam kegelapan..saya tidak akan menghancurkan saudara tapi saya akan menuntun kepada nur itu yaitu berdasarkan al-quran dan hadist yang niscaya adalah tuntunan yang hakiki…bismilah irohman irohim…asllmualaikum warhmtloh iwabaroktul…

  6. ajah Nabi Muhammad
    Posted on Februari 7, 2008 by rusdi mathari

    i
    61 Votes

    Quantcast

    Wajah Nabi Muhammad saw. dilukiskan dengan kata-kata sebagai wajah yang berkulit putih, bermata hitam, beralis tebal, gigi putih teratur dan rambut bergelombang. Tapi jika tidak pernah sekalipun melihat wajah Nabi lalu bagaimana seseorang begitu sangat yakin telah bertemu dan melihat wajah Nabi dalam mimpi, atau sebagian yang lain lalu melukiskan wajahnya?

    oleh Rusdi Mathari
    SUATU hari, kira-kira empat sampai lima tahun silam, saya berkunjung ke rumah seorang aktivis partai politik untuk keperluan sebuah wawancara. Di rumahnya di Depok, pinggir selatan Jakarta, saya diajak masuk ke ruang kerjanya. Banyak buku, literatur, dan jurnal. Orangnya juga berapi-api menjelaskan pendirian partai politiknya yang kala itu bermaksud mencalonkan SBY-JK menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI dan fasih menjelaskan ajaran dan dalil agama. Di akhir wawancara, ketika saya hendak keluar dari ruang kerjanya, di samping pintu masuk, saya bertatap dengan sebuah foto atau tepatnya lukisan wajah seseorang.

    Kepala orang itu tertutup sebagian oleh serban, warnanya polos dan tak bermotif. Wajahnya terlihat bagai pemuda yang matang dan ganteng mirip wajah-wajah orang Arab berkulit putih bersih. Hidungnya mancung, sorot matanya tajam dan bibir tipisnya tampak tersenyum dengan kumis dan jenggotnya terlihat tipis dan terawat.

    Secara umum, gambarannya hampir mirip dengan gambar-gambar wajah Yesus yang pernah beberapa kali saya lihat di rumah-rumah beberapa teman saya yang beragama Nasrani. Tapi aktivis partai politik itu beragama Islam. “Siapa orang ini,” tanya saya kemudian.

    Semula saya menduga orang itu akan menjawab Syekh Abdul Qadir al Jailani seorang sufi besar atau Ali bin Abi Thalib ra., sepupu Nabi saw. Dugaan saya terutama didasari oleh pengalaman bahwa gambar-gambar dari dua orang itu, pernah saya jumpai di beberapa rumah teman-teman saya yang beragama Islam.

    Tapi dugaan saya salah. “Itu Nabi,” jawab dia serius meskipun tetap berusaha tersenyum.

    “Oh, wajah Nabi?” saya bertanya kembali sambil berusaha membungkus mimik wajah saya yang sedikit terkejut. Aktivis tadi tak bersedia menjawab lebih jauh. Saya pulang.

    Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa orang Islam mengharamkan wajah Nabi untuk digambar atau divisualkan. Setiap kali ada peristiwa yang berhubungan dengan penggambaran wajah Nabi, karena itu hampir bisa dipastikan mayoritas umat Islam juga akan selalu marah dan melakukan protes. Penggambaran wajah Nabi lantas akan dianggap sebagai penghinaan terhadap ajaran Islam, dianggap tidak menghormati ajaran Islam dan Nabi itu sendiri.

    Itu sebabnya dalam setiap cerita bergambar seperti komik ataupun film, keseluruhan bentuk fisik Nabi selalu digantikan oleh cahaya. Kadang di tengah cahaya itu ditulis lafal Arab “Muhammad.” Sungguh saya sendiri tak paham dasar pengharaman tersebut, karena sejauh pengetahuan saya tidak ada dalil Alquran dan hadis yang secara benar melarang penggambaran bentuk fisik Nabi termasuk wajahnya.

    Dahulu ketika bersekolah di madrasah, ustad atau kiai yang saya tanya akan hal itu hanya menjelaskan, wajah Nabi diharamkan digambar agar Nabi tidak dikultuskan. Pengkultusan terhadap seseorang bahkan meski pun dia berpredikat sebagai nabi dan kekasih Allah akan menyebabkan orang tergelincir pada jurang syirik, sebuah perbuatan yang justru ditentang keras oleh Nabi.

    Menurut para kiai itu, Nabi sejak awal memang tidak mau dikultuskan karena hanya menginginkan manusia mengkultuskan Allah. Jawaban yang sederhana dan cukup masuk akal, meski pun tentu saja membuat saya terus penasaran.

    //yesaya.indocell.net/id532.htm
    Kejadian sampul majalah Tempo edisi 50/XXXVI/04 – 10 Februari 2008 yang menukil lukisan Leonardo da Vinci berjudul The Last Supper atau “makan malam terakhir” dan mengganti wajah Yesus dengan Soeharto dan murid-murid Yesus dengan anak-anak Soeharto— yang lantas menuai protes dari beberapa orang yang mengatasnamakan umat Katolik, mengingatkan saya pada larangan untuk menggambar wajah Nabi.

    Saya lalu ingat akan lukisan wajah yang disebut-sebut sebagai wajah Nabi di rumah aktivis partai politik, di Depok itu dan ingat akan penjelasan para kiai.

    Seorang teman bercerita, suatu malam dia bermimpi bertemu dengan Nabi. Benar tidaknya wajah di mimpi itu lantas disampaikan kepada seorang kiai yang lantas menjawab, bahwa jika benar bermimpi bertemu dengan Nabi, maka orang dan tentu saja wajah yang hadir dalam mimpi itu adalah benar Nabi karena iblis tidak bisa meniru wajah Nabi. “Jaminannya adalah surga,” kata kiai itu.

    Saya tersenyum mendengar penjelasan kiai itu bukan karena soal jaminan surga itu. Saya hanya berpikir, iblis mungkin saja memang tak bisa menyamar dan mengganti wujud menjadi Nabi tapi bagaimana mungkin seseorang bisa yakin bahwa dia bermimpi telah bertemu dengan Nabi sementara dia sendiri seumur hidupnya belum pernah melihat wajah Nabi?

    Tidakkah dalam kasus mimpi semacam itu, bisa saja iblis atau khayalan lain yang datang dan kemudian mengaku-aku sebagai Nabi, karena si pemimpi itu sendiri tak tahu atau tidak pernah melihat wajah nabinya? Dan tidakkah wajah Nabi selama ini, hanya bisa dilukiskan lewat kata-kata dan tidak dalam bentuk fisiknya?

    Namun saya juga paham di antara ketaatan untuk tidak menvisualkan wajah Nabi, sebagian untuk tidak menyebut seluruh umat Islam juga selalu merindukan dan karena itu ingin melihat wajah nabinya. Mungkin karena itu, di Iran banyak orang yang menyimpan poster atau lukisan wajah seseorang yang diakui sebagai wajah Nabi ketika masih remaja belia. Sebagian menyebutkan bahwa gambar itu dilukis oleh pendeta Bahira yang sempat mengiringi Nabi bersama pamannya ke Siria (dulu berjuluk negeri Syam).

    Mengutip artikel dari majalah ISIM Review 17, Spring 2006, berjudul “The Story of Picture Shiite Depictions of Muhammad, Pierree Centlivre & Micheline Centlivres-Demont” situs madinah-al-hikmah.net menyebutkan, kaum Syiah di Iran memang mempunyai pengalaman yang cukup panjang dalam menggambarkan keluarga Nabi saw dan Nabi sendiri. Pada akhir-akhir dekade 90–an poster yang menggambarkan wajah Nabi di cetak di Iran dan menjadi salah satu poster terlaris. Dalam poster itu menggambarkan wajah masa muda dari Nabi.

    Bagi mereka yang selalu memandang curiga terhadap orang dan ajaran Islam, pengharaman untuk menggambarkan wajah Nabi niscaya juga menjadi peluang untuk mengolok-olok. Kasus karikatur Nabi yang dimuat oleh harian Jylland-Posten Denmark pada kuartal terakhir 2005 adalah salah satu contohnya. Banyak orang Islam protes, sembari diam-diam tetap merindukan untuk melihat wajah Nabi.

    Sebuah wajah yang diceritakan oleh banyak hadis berkulit putih, bermata hitam, beralis tebal, gigi putih teratur dan rambut bergelombang. Wajah yang mencerminkan keindahan, keremajaan dan keserasian yang bahkan konon mengalahkan ketampanan Nabi Yusuf a.s., seorang nabi yang telah membuat banyak perempuan tergila-gila hanya dengan melihat wajahnya.

    Tiba-tiba Voja Alfatih, anak saya yang berumur enam setengah tahun menghampiri saya. Dia membawa komik yang menceritakan kisah hidup Nabi. Tergambar di komik, wajah Nabi yang “diwakili” lafal Arab “Muhammad” itu.

    Dia pun bertanya kepada saya kenapa wajah Nabi tak seperti wajah kita? Saya jawab, “Bukan berbeda tapi kita diminta untuk tidak menggambarnya.”

    Wajah Voja tampak semakin bingung.

    • kenapa anda harus bingung kalo anda mengkaji alqur`an & alhadist pasti anda bisa menjelasakannya,kalo yang anda baca itu kitab buatan si A lalu baca kitab buatan si B yaaa ga akan ketemu titik terangnya.perlu anda ketahui alqur`an & alhadist lafaztnya/tulisannya dari dulu sampai sekarang dan insya allah sampai kiamat tidak akan berubah meskipun penerbitnya berbeda.lain halnya dengan kitabnya yang di luar sana,mereka sama agamanya(sama sama gama A) tapi coba lihat kitabnya antara kitab daerah satu dengan daerah lainnya,antara kitab negara satu dengan negara yanga lain tulisan dan penjelasannya saja perbeda apalagi pemahamannya.insya allah didalam agama islam yang sangat saya cintai ini hal seperti itu tidak akan terjadi ila yaumilkiyamah amiiiin….

  7. lebih baik kita tidak usah
    Lebih penting kita ketahui sifat2nya, ajarannya, pandangan hidupnya, biografinya dst dst,karnna itu lebih bermanfaat dan positif, abadi sepanjang masa.Menurut saya sesuatu yang abstrak lebih tinggi nilainya dan lebih tahan daripada yang nyatatahu bagaimana jah waNabi atau bahkan wajah para nabi2 itu.Memang dan dibatasi dengan dimensi2 ruang.Gambar2 para tokoh manusia dahulu, menurut saya tidak pas, kali hanya inspirasi dan imaginasipendukungnya, bahkan kali juga musuhnya untuk tujuan2 tertentu.Dulu kan belum ada potret dan juga juga untuk jangka waktu berabad2, apakah masih bisa di jamin keutuhannya?Contohnya lukisan2 para firaun juga berbentuk sketsa, memang bernilai seni tinggi ya. Sedangkan mumi2 yang ada tidak bisa kita rekonstruksi seperti aslinya. Kali juga meleset jauh. Misal juga rekonstruksi binatang2 purba berdasarka fosil2 tulang. Kita angkat topi bagaimana berhasil diciptakan gambar2 yang barangkali mirip dengan binatang dulunya, tapi apakah betul seperti animasi2 yang sekarang banyakn kita jumpai? Ya Wallahu Alam. Maka sudah sangat bijaklah larangan menggambar wajah para nabi khususon Nabi Muhammad, walau dulu pasti ada juga para sahabat yankukannya.g bisa menggambar, tapi tidak dila

  8. lebih baik tak perlu membanyangkan wajah nabi .nt di surga kita juga bakal ketemu dan melilat nabi .

  9. Itu semua atas hidaya Allah Ta’ala yang diberkan kepada kita,………
    Munkin saja, kalu Allah Ta’ala Menghendaki……..

  10. KEBERSIHAN HATI BAGINDA RASUL MERUPAKAN GAMBARAN YG SANGAT JELAS SEBAGAI IMAMULLOH KEPADA UMAT NYA.

  11. maaf, untk yg menyarankan membaca kitab nasrani,..

    Saya jg menyarankan anda membaca alquran apa anda bersedia.?? Jika tidak, maka jgan mengharap kami membacanya, krna bacaan umat islam adalah alquran dan alhadis. Sekian.

    • aslmualaikum..,wahai saudara-saudaraku marilah kita berkumpul bersama memerangi mereka yang sesat dan terpenjara dalam kegelapan..semoga nur yaitu cahaya itu yang adalah kurnia yang sesungguhnya melalui hidayah yang tidak terbantahkan dan tidak terkirakan besarnya faedah bagi umat islam sedunia.. inilah kesaksian nabi dan sahabat-sahabatnya yang dapat kita jumpai dari hadist yang sudah tidak asing lagi bagi kita umat islam sedunia.., sekarang marilah kita memerangi kebodohan, kesombongan, dan kemurtadan,,bismillah irohman irohim…dengan ini saya menyatakan perang terhadap kebodohan dan kesesatan amin yarobal alamin

  12. Mayoritas orang indonesia yg berkeyakin bhw dirinya islam jg msh blm Menyembah Diri-Nya. Mereka Msh Menyembah Asma-Nya,Bukan Dzat-Nya. Allah itu Asma (nama) Dzat-Nya. Manusia Memberikan Predikat Asma/Nama Allah pada Dzat(Diri/Hidup)-Nya agar memudahkan dlm Mengingat&mengenal-Nya. Allah SWT Asma-Nya MenuruT yg Muslim. Brahma menuruT yg Hindu. Saya Memohon Ampun kpd Dzat YM Mengajari Yang Ada Pada Tiap Diri..

  13. kl menurut saya, kita mengharamkan menggambar wajah nabi karena kela yg ditakutkan adalah jika hasil gambar tsb. menyerupai wajah seseorang yg masih hidup dan dengan gampang klompok2 trtentu menggunakannya untuk kepentingan klompoknya.
    dan jika seseorang mengatakan dirinya brmimpi brtemu dengan Nabi Besar Muhammad SAW. sebaiknya tidak usah di bicarakan dan kita pndengar lebih baik tidak usah mndengarkannya, takut timbul FITNAH.

  14. ya memang dilarang keras menggambar foto nabi karena ada kemungkinan orang orang bisa mengkultuskan secara berlebihan sebagaimana kaum nasroni mengkultuskan isya ( yesus ) Sehingga dibuat patung dan gambarnya lalu disembah sembah

  15. Jika wajah beliau dilukiskan, maka hanya kemurtadan yang akan diikuti oleh umatnya. Karena sangat ditakutkan oleh para umat terdahulu, bahwa yang kita sembah bukanlah gusti Allah SWT, melainkan Rasulullah SAW, sebagaimana yang tengah terjadi pada segelintir umat manusia dengan kepercayaan yang berbeda.

    Lagipula Rasulullah SAW pernah berkata, “Wahai sahabatku, siapakah umat yang terbaik imannya menurut kalian?”
    Sahabat menjawab, “Tentu umat yang mengikuti petunjukmu yang rasul”
    Rasulullah SAW membalas, “dan siapakah itu?”
    Sahabat Menjawab, “Para sahabatmu ya nabi…”
    Rasulullah SAW kemudian tersenyum dan menjawab seraya berkata, “Umat yang kumaksud adalah umatku yang tengah beriman dengan kesungguhan hati ketika aku telah tiada, namun mereka tetap beriman kepadaku dan Allah SWT”

    Surga dan Neraka, apakah benar ada? Keyakinanlah yang dibutuhkan, sama halnya ketika anak cucu kita nanti berkata…
    “Kakek, benarkah dulu negara kita itu miskin dan banyak hutang??”
    Sang kakek jawab, “Cucuku sayang, kemegahan dan kemewahan tanah air kita tercinta yang kau lihat saat ini adalah bukti dari hasil perjuangan kakek dan buyutmu terdahulu :)”

  16. assalmualikum wr wb.

    masukan singkat mengenai mimpi ketemu dengan nabi saw.
    kita akan meyakini pertemuan bersama nabi itu disebabkan dengan keimananan kita sekalipun kita semua tidak pernah melihat beliau.
    semoga kita semua bisa ketemu dan bisa di akui sebagai ummatnya kelak .amin

  17. assalamualiku wr wb.

    jika orang pernah bermimpi ketemu dengan nabi muhammad saw sekalipun tidak pernah bicara lewat mimpinya.
    dia akan merasakan kebenaranan mimpinya ketemu dengan nabi berdasarkan keimanan kita.
    semoga kita dapat berjumpa selagi masih ada didunia walu lewat mimpi dan diakui sebagai ummatnya.amin.

  18. Assalmualaikum! Mnrt sy, Ya, soal wajah gak penting. bg orang yg suda tawadu merunduk/mentaati ajaran allah, ykni otomatis mengidolakan nb Muhammad sbg uswah hasanah, pasti ada emosi ingatannya akan selalu ingat dg prestasi/sikap nb Muhammad, shg dibenaknya btul2 bhw nb Muhammad sbg idola/publik pigur. Dg bgt hidupnya akan slalu rindu trhdp idolanya, dan akan terciptalah mimpi ktmu dg beliau. Adapun benar gaknya itu wajah yg dtg, tntunya kl yg diimpikan dia ngaku sbg nb Muhammad, ya sbg org yg ta’at mau tk mau hrs mengakui kbenaran trsbt,krn Nb Mhmd, pernah mengucapkan ‘barang siapa brmimpi ktmu dg Ku, btul itu adlh aku, krn Jin tk bisa mnyerupaiKu’. Persoalannya skrg, bukan masalah wajahnya, Mudah2n sy/kita jd bagian dr org2 yg meng Idolakan NB Mhmad.( Patuh dg sgala tuntunan dr Allah yg tlah diwujudkan jd Khdupan Nb Muhammad.mohon Ma’af kl salah. Assalamualaikum!

  19. “Itu Nabi,” jawab dia serius meskipun tetap berusaha tersenyum.
    “Oh, wajah Nabi?” saya bertanya kembali sambil berusaha membungkus mimik wajah saya yang sedikit terkejut. Aktivis tadi tak bersedia menjawab lebih jauh. Saya pulang.

    kenapa jadinya diartikan nabi Muhammad yaa??
    padahal jawaban “teman aktivis” tadi hanya : “itu Nabi” :-)

  20. AGAMA ITU IMAN SULIT UNTUK BERBICARA AGAMA ISLAM ,NABI MUHAMMAD KALAU IMANNYA DIKIT.KALAU BERBICARA SOAL BANGUNAN TANYA TUKANG BATU, KALAU MOBILNYA RUSAK TANYA MEKANIK MOBIL, KALAU SOAL TANAMAN TANYA PETANI. ( WALAUPUN TUKANG BATU DI TANYA SOAL MOBIL BISA SAJA ADA YG DI TAU TAPI ITUPUN SEDIKIT ) BEGITU JUGA AGAMA TANYA AHLINYA YG SIFATNYA OBJEKTIF TERHADAP ISLAM . JANGAN TANYA DG ORANG YG ISLAM KTP.

  21. seandainya wajah nabi di gambarkan sejak dulu…. tiba2 nanti ketika di akhirat ternyata wajahnya berbeda dgn apa yg pernah di gambarkan gimana?

  22. saya tetap mencintai nabi muhamad….
    meskipun saya tak pernah melihat nabi muhamad,,
    tpi saya teteap percaya bahwa nabi muhamad itu ada..??

  23. Masyaallah….
    Nabi muhammad adalah mahluk yg paling suci di dunia maupun di akhirat….
    Segala puja dan puji kita panjatkan atas kehadirat mu rasulullah saw…

  24. Saya sangat heran dengan aturan ini.padahal di Qur’an gak ada pelarangan penggambaran wajah nabi.Ini kok terkesan membodohi umat gitu.Lantas siapakah yang pertama kali memlopori gerakan anti penggambaran wajah nabi???apakah dia bener2 orang suci mulia???sehingga dapat membuat aturan yang mengikat Islam seluruh dunia.Bagi saya tidaklah salah menggambar wajah nabi.Malah nabi akan sangat bahagia disorga melihat kaumnya bisa melihat wajahnya.bagaikan pepatah,tak kenal maka tak sayang.Bagaimana mencintai seseorang kalau wajahny aja gak pernah tau.Nah sangat rasional kan..???Aneh banget sih pemikiran orang Islam.Padahal udah dikasih akal pikiran dan kesadaran lho ama Tuhan kenapa kok gak dipake.

    • justru kami orang islam sangat mengedepankan akal dan pikiran,kami tidak mau menjalankan ibadah yang tidak ada dasar dalil dari alqur`an & alhadistnya dan kami tidak pernah menjalankan agama dengan ajaran yagng tidak masuk akal.anda bukan orang islam jadi wajar anda tidak mengerti penjelasannya,tentang itu semua sudah ada didalam alqur`an dan di perinci oleh sabda nabi yang tertuang di dalam alhadist.kalo anda tidak mengerti ya wajar orang anda tidak pernah mengkaji alqur`an & alhadist secara spesifik kaaaan.kalo anda memang menggunakan akal dan pikiran kenapa anda menyembah seseuatau yang awalnya dulu ada wujudnya,yang mana wujud tersebud juga dulunya mahluk….Apa karena atas dasar mahluk itu punya jasa,karena telah menebus semua dosa manusia..kalo begitu anda berbuat dosa aja seumur hidup anda,tooooh sudah ada yang akan menanggung dosa anda kaaan….

    • kalau ada yang menggambarakan wajah nabi,apa lagi itu wajah nabi muhammad.maka dengan seirang berjalannya waktu gambaran itu pasti lama kelamaan akan ada pebedaan karena setiap manusia punya opsi berbeda,contoh gambar nabi isya…perbedaan gambar nabi isya antara yang satu dengan yang lainnya itu di sebabkan oleh tangan tangan yang sook mengagungkan padahal dengan dia berani menggoreskan tinta lalu membentuk wajah seorang nabi itu sama dengan halnya dia menghina orang yang sudah dimuliakan oleh allah tuhan yang menciptakan langit dan bumi,serta tuhan yng telah menciptakan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s