Barongan Malaysia Bukan Reog Ponorogo


Meskipun temanya mirip, tari Barongan dari Malaysia tidak sama dengan Reog. Filosofi dan sejarah dua tarian itu juga berbeda. Sengketa tentang kesenian Indonesia yang katanya diklaim oleh Malaysia akhir-akhir ini sebenarnya cermin dari ketidakbecusan pemerintah Indonesia memelihara kesenian tradisional dan para senimannya.

Oleh Rusdi Mathari

TAK cukup hanya mengklaim lagu Rasa Sayange Malaysia kembali diberitakan mengklaim kesenian Reog sebagai kesenian asli mereka. Meski persoalan sebernarnya belum dibuktikan secara empiris apakah kesenian itu benar-benar Reog dari Ponorogo atau bukan, publik Indonesia terlanjur patah arang dengan Malaysia. Negara tetangga itu dinilai “tak tahu malu”, “selalu mencari gara-gara” dan sebagainya.

Protes dan nada kemarahan dari publik Indonesia bertebaran di banyak media tanah air, terutama dari seniman Reog Ponorogo dan penduduk Jawa Timur. Bupati Ponorogo bahkan menyempatkan untuk mengadakan konferensi pers dan memprotes klaim tersebut. Anak-anak muda di Bandung memproduksi kaos oblong bertuliskan “Visit Malingasia” plesetan dari ikon tahun kunjungan wisata Malaysia “Visit Malaysia.” Tapi apa benar Malaysia telah mengklaim Reog?

Dalam situs resmi Kementerian Pariwisata Malaysia tercantum Barongan, sebagai salah satu kesenian tradisional Malaysia. Tarian itu menggambarkan kisah di zaman Nabi Sulaiman ketika binatang-binatang bisa bercakap. Konon, seekor harimau telah melihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Karena terlihat oleh harimau merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Seorang pamong bernama Garong yang mengiringi puteri raja yang sedang menunggang kuda kebetulan melewati kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama dengan dua binatang tadi. Menurut situs tadi, tarian itu berkembang di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.

Jika benar apa yang ditulis oleh situs tersebut Barongan Malaysia tentu saja berbeda dengan Reog, baik dari latar belakang sejarah, tarian maupun filosofinya. Kesenian Reog adalah kisah kedigdayaan yang penuh aroma magis dan latar belakangnya sama sekali terbebas dari kisah-kisah keagamaan (Islam). Dari sejarahya, tarian ini sudah ada sejak abad ke 12 masehi di zaman Kerajaan Kadiri.

Dikisahkan di dalam Asal Usul Reog Ponorogo di situs Wikipedia.org telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.

Dalam tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.

Satu topeng singa bisa mencapai setengah kwintal (50 kilogram) bahkan lebih dan topeng itu hanya disanggah oleh penarinya dengan gigi-gigi: seutas bambu yang melintang di bagian dalam topeng digigit kuat-kuat. Sering pula dijumpai di atas topeng itu duduk seorang penari lain yang bergoyang-goyang. Teman saya, Canang Indriatmo dari Malang pernah ikut dalam rombongan tari Reog dan dia duduk di atas topeng singa yang disanggah oleh gigi-gigi seorang penari itu. Jika berat penari yang duduk di atas topeng singa itu berbobot 50 kilogram, maka penari yang menyangga topeng dengan gigi-giginya itu harus menahan berat sekitar 100 kilogram.

Dalam praktiknya, tarian Reog bisa dipentaskan untuk beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Tarian ini biasanya terdiri dari dua atau tiga rangkaian tarian pembukaan. Tarian pertama dibawakan oleh 6-8 pria yang berpakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.

Tarian berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Meskipun dinamakan tari jaran kepang tarian ini berbeda dengan seni tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Di sebutkan oleh situs Wikipidea.org setelah tarian pembukaan selesai baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita tentang pendekar. Dengan kata lain, adegan dalam seni tari Reog tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan.

Barongan Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya, Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.

Adapun soal lagu Rasa Sayange, klaim Indonesia sebagai pencipta lagu tersebut juga tidak kuat. Dalam pernyatannya Jero Wacik selaku Menteri Budaya dan Pariwisata menegaskan, Indonesia tidak memiliki bukti kuat yang menunjukkan lagu itu adalah karya warganya. Persoalan utamanya adalah pencipta lagu Rasa Sayange tertulis NN (no name) alias tidak diketahui penciptanya.

Kenyataan atas lagu Rasa Sayange yang tidak ditemukan penciptanya dan kemudian diklaim sebagai lagu milik Malaysia itu memang pahit bagi publik Indonesia. Lagu ini adalah lagu yang sering didendangkan oleh anak-anak muda di tanah air ketika mereka bersuka cita di bawah terang bulan pada musim panen, melakukan perjalanan pariwisata atau berkemah. Namun nasi telah menjadi bubur. Malaysia telah lebih dulu mendaftarkan lagu itu sebagai lagu negara mereka.

Dalam pernyataan yang dikutip harian The Star, Menteri Ke­budayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai pemilik lagu itu, karena la­gu itu merupakan lagu rakyat Malaysia. Rais juga meminta Indonesia untuk membuktikan lagu itu sebagai mi­lik­ny­a. “’Saya tidak mengerti. Saya sudah je­laskan kepada Jakarta Post, bahwa Rasa Sayange merupakan lagu rakyat untuk kepulauan nusantara (Malay archipelago). Jadi Indonesia tidak da­pat mengklaim bahwa itu lagu mereka,’’ ujar Rais seperti dikutip Antara.

Malaysia mungkin saja memang telah “mencuri” beberapa kesenian tradisional Indonesia. Namun yang semestinya harus disikapi adalah tindakan pemerintah Republik Indonesia. Sejak zaman Sukarno hingga SBY, pemerintah dan parlemen cenderung tidak pernah becus memberi perhatian dan mengurus kesenian-kesenian tradisional Indonesia misalnya dengan mendaftarkannya sebagai hak kekayaan intelektual. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mempertahankan kekuasaan politik, menumpuk kekayaan, melakukan korupsi, dan sebagainya. Sementara urusan kesenian dan juga nasib para seniman tradisional dibiarkan terlunta-lunta.

Suatu saat nanti, jangan terkejut jika Malaysia kemudian juga mendaftarkan permainan tradisional seperti Congkak, Ketinting dan sebagainya sebagai permainan tradisional mereka. Di situs Kementerian Pariwisata Malaysia nama-nama permainan tradisional itu sudah terpampang sebagai kesenian tradisional mereka. Jadi masihkah kita akan terus menyalahkan Malaysia, setelah dulu Indonesia juga tidak punya bukti atas klaim kepulauan Sipidan Ligitan?

About these ads

83 pemikiran pada “Barongan Malaysia Bukan Reog Ponorogo

  1. saya setuju dengan pernyataan bung yassaku..

    kata BARONGAN itu bukan lah kata bentukan di bahasa melayu…

    jadi kesimpulan nya sudah jelas…

  2. segala permasalahan yang terkait dengan malaysia baik itu dengan indonesia sendiri atau negara lain, telah dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sikap malaysia sebagai negara baru yang perkembangan ekonominya pesat penunjukan gejala sindrom orang kaya baru. yaitu sikap ingin memiliki segalanya dengan cara apapun (pulau, budaya, intelektual, dll). lihat masalah claim pulau baik dengan indonesia, singapura atau dengan china, atau masalah pencurian budaya dengan indonesia, dan pematenan hasil intelektual oleh pelajar/mahasiswa yang kuliah disana diambil sebagai milik pemerintah malaysia.. dari hal diatas saya ingin menyampaikan pendapat saya mengenai claim budaya indonesia lagu rasa sayange dan reog, mengenai lagu rasa sayange malaysia juga tidak dapat membuktikan bahwa itu asli dari malaysia, sedangkan indonesia sudah dapat bukti bahwa lagu tersebut dari indonesia dengan ditemukannya bukti rekaman piringan hitam (jika dua buah negara mengklaim suatu lagu tanpa bisa menunjukan buktinya maka yang mempunyai rekaman lagu tersebut pertama kali yang berhak memilikinya). dan untuk reog sudah dibuktikan dengan paten pada tahun 2004 serta adanya order pemesanan perangkap reog ke malaysia, dan bila dilihat dalam tarian barong tersebut atribut yang dipakai adalah yang dipesan dari indonesia dan itu sudah diakui oleh pembuatnya karena setiap pembuat mempunyai ciri khas tertentu, bagaimana suatu negara yang mempunyai budaya barongan tetapi tidak tahu cara membuatnya. dan dibeberapa pertemuan terakhir antara kementrian budaya malaysia dengan indonesia telah dikeluarkan pernyataan dari malaysia bahwa itu memang bukan budaya malaysia, dan itu berasal dari melayu (indonesia) yang dibawa oleh para TKI dan tenaga pengajar kita ke malaysia.
    sikap malaysia ini perlu dicermati.. karena mereka mempunyai agenda tersembunyi….

    ayo rapatkan barisan.. boikot produk malaysia
    merdeka…

  3. kasian ya malaysa enggak henti-hentinya mengklaim inventaris indonesia. mungkin karena malaysa mengira kita bangsa penakut ……………………………/…….. AWAS kamu para datok-datok bentar lagi aku GANYANG kalian semua …….. Fuck You orang malaysa

    • ganyang la, bahasa , agama kita sama. Yang datang dari dulu2 pun moyang dari tanah jawa kok nak diganyang.senang cakep ye

  4. Heran…..semua udah diambil ama negara Malingsia tapi kita kok diem aja…pulau diambil,laut diambil,harga diri diambil, budaya diambil……..kalo cuma diem entar negara kita diambil juga tuh dengan encik en datuk yang sok alim tapi maling itu….Cape deh….

  5. Apakah ini sudah waktunya bangun pagi.
    Tapi kok ayam lom terdengar berkokok yah.
    Hujan juga masih terus mengguyur deras.
    Ah…mending tidur aja lagi ampe bener pagi.

    Masih penasaran ama sambungan mimpi.
    Moga-moga mimpi baik aja yang muncul.
    Biar tidak terbangun lagi dari tidur malam.
    Met tidur dulu yah, ampe jumpa esok pagi.

  6. Siapapun bisa saja membuat versi sejarah, saling klaim ini punya kami, itu budaya asli kami. Andai urusan hak cipta sudah dipandang yang utama, mungkin saling aku, ini dan itu bisa terjawab jelas

  7. saya pernah melihat satu acara di satu stasiun televisi yg mmbahas mengenai barongan, duluuu banget sebelum malaysia klaim, disitu jelas disebutkan (berdasarkan wawancara reporter tv ke nara sumber) bahwa kesenian barongan dibawa oleh orang2 indonesia (org2 jawa ponorogo) yang migrasi ke malaysia, untuk menghilangkan rasa rindu tanah air, mereka membentuk kelompok kesenian reog ponorogo, yang pada akhirnya disebut sebagai barongan oleh orang melayu. maka tidak perlu penjelasan apa2 lagi untuk kesenian ini, benar masalah cerita bisa saja dibikin, tetapi tidak ada kesenian yang bisa sama persis tanpa ada riwayat yg menghubungkannya, apalagi malaysia kan budayanya melayu, ga ada hubungannya dengan jawa…, lucu ya…, pemerintah kita mesti memikirkan hal ini untuk kedepannya…jangan diem aja dong…

    • Setuju mbak.memang kami memainkan reog, tapi di sini popular dengan nama barongan. Ngak salah bukan.Barang2 nya pun kami order dari Ponorogo, membantu punca pendapatan org ponoroga juga.Usah ribut2 la tentang kesenian ini.apapun satu rumpun sama sahabat

  8. kenapa kita ndak mematenkan saja reog ponorogo seperti malaysia mematenkan “barongan” mereka?
    kalau benar malaysia memesan reog dari ponorogo untuk kepentingan mereka, ini bisa jadi publikasi besar2an untuk mengatakan bahwa “barongan” malaysia adalah dibeli dari Indonesia

  9. klo buat sy? seharusnya pemerintah indonesia hrs lebih tegas dan lebih arogan terhadap “malingasya” tp kenyataanya apa??? stlah banyak kejadian yg di lakukan “malingasya” pemerintah republik INDONESIA masih tetap berpegang teguh pd pendirianya yaitu:indonesia dan “malingasya” negara serumpun…
    untung aja indonesia msh sbr u/ menghadapi persoalan ini,klo tdk mngkin indonesia akan berperang dgn “malingasya”
    dasar malaysya “malingasya”!!!!!!!!!!!

  10. Barongan memang asli dari Indonesia, orang Ponorogo hijrah 150 tahun yang lalu ke Malaysia dan mengembangkan disana. Lihat saja dari kata2nya…… BARONGAN, sangat kental dengan bahasa Jawa.

    Sekarang di Negri Jiran juga sedang digalakan kesenian kita, yang mungkin anak2 muda sekarang sudah sangat jarang yang menyukainya, yaitu KERONCONG. Disekolah – sekolah disana diajarkan kesenian kita tersebut. Mungkin suatu saat jika lalai, bakal jadi Keroncong menjadi menjadi milik mereka.

    Kapankah stasiun2 TV kita mengadakan lomba Keroncong seperti AFI, Mama Mia atau yang lain2nya?

  11. kalo asal usulnya beda, napa bentuk barongan ma reog sama, panarinya juga, gamelannya juga, eh trus mereka beli gamelannya dari ponorogo gitu?wah kasian banget ya.., aduh sebaiknya kita bikin sumbangan pemikiran buat malaysia biar dia bisa bikin budaya sendiri biar gak niru2 negara lain, kasian banget sie lo malingsia….hiks…hiks…

  12. kasian banget deh, banyak yang kalian ga tau persis pokok permasalahan yang kalian omongi

    coba deh luangkan waktu untuk cari tau, jangan sekadar baca di media atau dari sumber2 dalam negeri

    apa yang dibilang oleh nasron.wordpress.com itu bener walau pedih dihati waktu membacanya.

    apakah kita lebih benarnya dari mereka? atau mereka lebih benar dari kita?

  13. asal usul tari barongan malaysia terlalu dibuat2, kalo cuma bikin cerita tu kan gampang,.,..bentuk & alat2nya itu loh,., sama persis.,. paling juga mereka beli dari orang ponorogo kn?????
    kaloo mo cari bukti,., udah jelas kan,., gak peru cari2 lagi,.,

  14. Waah..wah Malaysial memang sering memancing emosi bangsa kita, wilayah NKRI sudah dicaplok dan sekarang budaya kita. Itulah cermin orang pasti sombong krn PD. Sayang presiden kita itu cinta damai, coba kalo mbah No(Soekarno) atau mbah To(Soeharto) atau Singo Barong jadi Presiden Tengku2 atau Datuk2 di Malaysial akan di ajak Carok.

  15. yang namanya maling tetap maling..ehk..asalkan tau ajh yahk.. teman saya orang malaysia… dia selalu berkata pada saya bahwa malaysia itu emank suka mencuri kebudayaan indonesia,,,dia bilang barongan itu kesenian dari jawa( beda dengan reog). tetapi dia bilang. pemerintah malaysia hanya meniru nama barongan dari kebudayaan jawa saja….
    coba presiden soekarno masih hidup…pasti dia berkata = ganyang malaysia,,,,saya juga tidak rela batik asal jogjakarta yaitu batik motifparang di klaim sama maling sia..seharusnya pemerintah turun tangan..kalau saya diijinkan untuk pergi ke kedutaan besar malaysia di indonesia,,,saya hanya akan berkata = jika tidak adapresiden soekarno.tidak ada yang namanya malaysia,,,,,dan cita-cita saya adalah menjadi duta batik indonesia…trus saya akan ke malaysia…mengadakan fashion show batik disana,,,bahakan frashion show batik tingakat internasional…saya rela mati demi indonesia….

  16. pemerintah indonesia terlalu berbelit2, lama2 kita adalah bangsa yg di claim tdk punya seni budaya. alias tukang copy dr malaysia padahal sebaliknya. Cepat daftarkan semuanya kesenian kita trus Ayo kita ajak berunding malaysia maunya apa? Kalo tidak ada hasil. Rakyat indonesia siap mendukung!!

  17. Saya setuju dengan reza. Rela mati buat Indonesia.. Tanah Tumpah Darahku.. Masak cuma mempertahankan ini aja gak bisa. para pahlawan kita udah berjuang demi kita. Ganyang Malaysia!

  18. huh, jelas saja kalo barongan beda sama reog (sengaja dibedakan)
    soalnya klo sama, ntar di kira mengklaim kebudayaan indonesia tersebut, justru klo tdk sama maka malaysia(malingasia) akan di kira mengklaim, crita yang dibuat malingasia hanyalah karangan saja, bgitu slesai mengklaim langsung aja buat crita asal2an tentang barongan(menjijikkan), jangan2 budaya mencontek ditularkan oleh malingasia, tidak pantas nama negara mereka diakhiri dengan huruf “SIA”, mungkin itu juga meniru kata akhiran INDONE”SIA”, toh mereka bukan negara merdeka seutuhnya, mereka berada dibawah kendali inggris.
    tetapi sebagai WNI saya mrasa kecewa, bgitu bodohnya warga indonesia khususnya pemerintahnya sehingga mudah di tipu oleh negara tetangganya sendiri, jujur saja saya ingin pindah status kewarganegaraan klo indonesia terus ditipu oleh malingasia

  19. HOE MALINGASIA JANGAN CUMA COPY PASTE,,,, GAG KREATIF LHO. KAMI WARGA PONOROGO SIAP TEMPUR DENGAN KALIAN,,,,,,,, KALIAN PENGECUT……. EMG GOBLOK,,,GA BISA BUAT KESENIAN SENDIRI

    • Kalo lho iblang mau bertempur, bermakna kalian menghukum salasilah nenek moyang kalian sendiri dan darah keturunan mu..kalian gak tahu wong jowo dimalaysia terutama dr johor dan selangor emang original dari indonesia..sila ke muar,batu pahat,pontian,kuala selangor,banting..kalian akan ketahui kalian gak seperti di tanah asing..kerana cara hidup, jiwa dan dialek serupa tetap jawa..pemimpin pun majoriti darah indonesia,najib(bugis),muhyiddin(bugis),zahid haimdi(jawa ponorogo),sultan2 dr darah parameswara..percuma saja berperang darah sendiri..

  20. pada aku kalian ini terlalu emosi,hingga hilang pertimbangan yang waras. kalo berada pada jalan buntu untuk menyelesaikan masalah, ada kan aja musyarah di antara kedua negara. ahlinya biar terdiri dari sejarahwan dan penggiat seni tardisonal. hasil dari musyawarah itu dihebahkan kepada semua rakyat malaysia dan INDON. selesai. tidak usah ribut kalo kita sendiri jahil.

  21. dan ingin juga aku jelasin,di malaysia itu terdapat komuniti jawa. melayu disini juga berbilang ras. ada melayu jawa juga. maka,amat lah tidak mustahil sekiranya didalam budaya yang mereka lestarikan itu amat mirip atau memang sama dengan budaya masyarakat jawa di INDON. jelaslah malaysia tidak mencuri atau klaim.dan tidak timbul malaysia tidak kreatif. asal kalian semua tahu BARONGAN HANYA POPULAR PADA MASYARAKAT MELAYU JAWA.DAN BUKAN PADA MASYARAKAT MALAYSIA SECARA TOTAL.

  22. KENAPA YA MALAYSIA MENDAFTARKAN KEBUDAYAAN JAWA DALAM WEB RASMI TENTANG KEBUDAYAAN MALAYSIA??

    INI JAWAPANNYA

    Mereka masih cuba mengekalkan tata cara yang diwarisi leluhur mereka, tapi dalam bentuk yang sedikit beda kerena pembauran yang sudah sebati dengan masyarakat tempatan. Dengan peratus yang semakin berkurangan, mereka mulai tidak mengetahui leluhurnya. Persatuan dan perkumpulan semacam itu dapat mengekalkan warisan leluhur mereka selaras dengan agama yang dianuti dan konsep berbaik-baik di antara negara serumpun.
    RUJUKAN: SENI HIBURAN Minggu, 24 November 1996 Surabaya Post

  23. REOG vs BARONGAN

    Sejenis tarian yang disebut tarian Barongan yang ditarikan di Malaysia, terutama di Johor turut menyerupai tarian Reog. [3]. Tarian Barongan, memiliki prop yang sama dan utama yaitu topeng Dadak merak, topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu burung Merak. Rakyat Ponorogo, Indonesia sangat marah dengan hal ini dan memprotes Malaysia dan menganggap Malaysia telah meniru tarian Reog. Praktisi tarian Reog juga mengancam pengiriman Dadak merak ke Malaysia

    TAPI TARIAN NI BERASAL\DI COPY DARI

    Kavadi
    Kavadi terdiri dari dua semi loop yang terbuat dari besi atau kayu yang dibentuk dan dilekatkan pada struktur melintang yang dapat diletakkan di atas bahu penganut. Ia sering dihiasi dengan bunga, bulu merak (kendaraan Dewa Murugan) antara lain. Beberapa Kavadi mampu mencapai berat sehingga 30 kg
    Praktek yang paling mengagumkan adalah vel kavadi, pada dasarnya meja penyembahan dapat alih dengan ketinggian hingga dua meter, dihiasi dengan bulu merak dan dilekatkan pada penganut dengan 108 kait yang menembus kulit di dada dan belakang.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s