Barongan Malaysia Bukan Reog Ponorogo
Ditulis pada Nopember 25, 2007 oleh rusdi mathari
Meskipun temanya mirip, tari Barongan dari Malaysia tidak sama dengan Reog. Filosofi dan sejarah dua tarian itu juga berbeda. Sengketa tentang kesenian Indonesia yang katanya diklaim oleh Malaysia akhir-akhir ini sebenarnya cermin dari ketidakbecusan pemerintah Indonesia memelihara kesenian tradisional dan para senimannya.
Oleh Rusdi Mathari
TAK cukup hanya mengklaim lagu Rasa Sayange Malaysia kembali diberitakan mengklaim kesenian Reog sebagai kesenian asli mereka. Meski persoalan sebernarnya belum dibuktikan secara empiris apakah kesenian itu benar-benar Reog dari Ponorogo atau bukan, publik Indonesia terlanjur patah arang dengan Malaysia. Negara tetangga itu dinilai “tak tahu malu”, “selalu mencari gara-gara” dan sebagainya.
Protes dan nada kemarahan dari publik Indonesia bertebaran di banyak media tanah air, terutama dari seniman Reog Ponorogo dan penduduk Jawa Timur. Bupati Ponorogo bahkan menyempatkan untuk mengadakan konferensi pers dan memprotes klaim tersebut. Anak-anak muda di Bandung memproduksi kaos oblong bertuliskan “Visit Malingasia” plesetan dari ikon tahun kunjungan wisata Malaysia “Visit Malaysia.” Tapi apa benar Malaysia telah mengklaim Reog?
Dalam situs resmi Kementerian Pariwisata Malaysia tercantum Barongan, sebagai salah satu kesenian tradisional Malaysia. Tarian itu menggambarkan kisah di zaman Nabi Sulaiman ketika binatang-binatang bisa bercakap. Konon, seekor harimau telah melihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Karena terlihat oleh harimau merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Seorang pamong bernama Garong yang mengiringi puteri raja yang sedang menunggang kuda kebetulan melewati kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama dengan dua binatang tadi. Menurut situs tadi, tarian itu berkembang di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.
Jika benar apa yang ditulis oleh situs tersebut Barongan Malaysia tentu saja berbeda dengan Reog, baik dari latar belakang sejarah, tarian maupun filosofinya. Kesenian Reog adalah kisah kedigdayaan yang penuh aroma magis dan latar belakangnya sama sekali terbebas dari kisah-kisah keagamaan (Islam). Dari sejarahya, tarian ini sudah ada sejak abad ke 12 masehi di zaman Kerajaan Kadiri.
Dikisahkan di dalam Asal Usul Reog Ponorogo di situs Wikipedia.org telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.
Dalam tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.
Satu topeng singa bisa mencapai setengah kwintal (50 kilogram) bahkan lebih dan topeng itu hanya disanggah oleh penarinya dengan gigi-gigi: seutas bambu yang melintang di bagian dalam topeng digigit kuat-kuat. Sering pula dijumpai di atas topeng itu duduk seorang penari lain yang bergoyang-goyang. Teman saya, Canang Indriatmo dari Malang pernah ikut dalam rombongan tari Reog dan dia duduk di atas topeng singa yang disanggah oleh gigi-gigi seorang penari itu. Jika berat penari yang duduk di atas topeng singa itu berbobot 50 kilogram, maka penari yang menyangga topeng dengan gigi-giginya itu harus menahan berat sekitar 100 kilogram.
Dalam praktiknya, tarian Reog bisa dipentaskan untuk beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Tarian ini biasanya terdiri dari dua atau tiga rangkaian tarian pembukaan. Tarian pertama dibawakan oleh 6-8 pria yang berpakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Tarian berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Meskipun dinamakan tari jaran kepang tarian ini berbeda dengan seni tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Di sebutkan oleh situs Wikipidea.org setelah tarian pembukaan selesai baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita tentang pendekar. Dengan kata lain, adegan dalam seni tari Reog tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan.
Barongan Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya, Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.
Adapun soal lagu Rasa Sayange, klaim Indonesia sebagai pencipta lagu tersebut juga tidak kuat. Dalam pernyatannya Jero Wacik selaku Menteri Budaya dan Pariwisata menegaskan, Indonesia tidak memiliki bukti kuat yang menunjukkan lagu itu adalah karya warganya. Persoalan utamanya adalah pencipta lagu Rasa Sayange tertulis NN (no name) alias tidak diketahui penciptanya.
Kenyataan atas lagu Rasa Sayange yang tidak ditemukan penciptanya dan kemudian diklaim sebagai lagu milik Malaysia itu memang pahit bagi publik Indonesia. Lagu ini adalah lagu yang sering didendangkan oleh anak-anak muda di tanah air ketika mereka bersuka cita di bawah terang bulan pada musim panen, melakukan perjalanan pariwisata atau berkemah. Namun nasi telah menjadi bubur. Malaysia telah lebih dulu mendaftarkan lagu itu sebagai lagu negara mereka.
Dalam pernyataan yang dikutip harian The Star, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai pemilik lagu itu, karena lagu itu merupakan lagu rakyat Malaysia. Rais juga meminta Indonesia untuk membuktikan lagu itu sebagai miliknya. “’Saya tidak mengerti. Saya sudah jelaskan kepada Jakarta Post, bahwa Rasa Sayange merupakan lagu rakyat untuk kepulauan nusantara (Malay archipelago). Jadi Indonesia tidak dapat mengklaim bahwa itu lagu mereka,’’ ujar Rais seperti dikutip Antara.
Malaysia mungkin saja memang telah “mencuri” beberapa kesenian tradisional Indonesia. Namun yang semestinya harus disikapi adalah tindakan pemerintah Republik Indonesia. Sejak zaman Sukarno hingga SBY, pemerintah dan parlemen cenderung tidak pernah becus memberi perhatian dan mengurus kesenian-kesenian tradisional Indonesia misalnya dengan mendaftarkannya sebagai hak kekayaan intelektual. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mempertahankan kekuasaan politik, menumpuk kekayaan, melakukan korupsi, dan sebagainya. Sementara urusan kesenian dan juga nasib para seniman tradisional dibiarkan terlunta-lunta.
Suatu saat nanti, jangan terkejut jika Malaysia kemudian juga mendaftarkan permainan tradisional seperti Congkak, Ketinting dan sebagainya sebagai permainan tradisional mereka. Di situs Kementerian Pariwisata Malaysia nama-nama permainan tradisional itu sudah terpampang sebagai kesenian tradisional mereka. Jadi masihkah kita akan terus menyalahkan Malaysia, setelah dulu Indonesia juga tidak punya bukti atas klaim kepulauan Sipidan Ligitan?
DIarsipkan di bawah: opini | yang berkaitan: Barongan, budaya, Indonesia, Jero Wacik, Kesenian, Malaysia, Nusantara, Pariwisata, Rasa Sayange, Reog Ponorogo




Buat saya sih pas pertama kali baca keterang tentang tari barongan bahwa ceritanya tentang Nabi Nuh terasa sekali terlalu dihubung2kan antara cerita dengan tarian itu. Dan orang2 ponorogo juga bilang kalau malaysia pesan perlengkapan tarian itu dari ponorogo, kalau itu memang asli milik mereka seharusnya bisa buat sendiri dong perlengkapannya.
Soal cerita, semua orang bisa bikin. Kalau ceritanya sama justru Malaysia yang konyol. Saya memandang perang budaya kedua negara adalah konyol. Tapi tulisan Anda terlalu prematur.
madbud@gmail.com
saya sepakat dengan Khaim, sebuah kebudayaan macam Tarian Barongan diklaim milik Malaysia itu tak bisa persis sama dengan Reog Ponorogo.
mengapa tidak dituliskan bahwa ada pernyataan yang dapat menguatkan bahwa warga Malaysia membuat alat-alat Tarian Barongan itu di negeri mereka sendiri?
saya tidak banyak menemukan sumber resmi berita-berita Malaysia yang menguatkan bahwa Tarian Barongan milik Malaysia dan bukan tiruan dari Reog Ponorogo. apakah media di Malaysia telah dikekang oleh kerjaan/pemerintahannya?
Reog yg kemudian menjadi Barongan di Malaysia, di bawa oleh para TKI yg berasal dari Ponorogo. Dulu mereka hanya boleh tampil kalo ada bendera UMNO-nya. Setelah berkembang pesat, malah diklaim sbg kesenian asli Malaysia. Hwalah…
ganyang!!!
http://papabonbon.wordpress.com/2007/11/05/paten-dan-bisnisan-pariwisata-ala-malaysia/
dari seorang teman …
===
Begini seharusnya malaysia memberikan informasi ttg
Barong atau (reog):
Kesenian Barong adalah khas daerah…..
yang diadaptasi atau dikembangkan oleh ….
dari kesenian reog di ponorogo, suatu daerah di
eastern java..(seandainya mereka enggan menyebut
indonesia)……itu lebih wise.
Sama dg cwie mie kalau mau disajikan dalam informasi
formal..juga harus menceritakan asal-usul yg jkelas.
Ingat malaysia menampilkan informasi produk kesenian
secara formal melalui website department atau buku
perjalanan wisata. Jadi memang sepatutnya dalam formal
information utk menampilkan penjelasan yg jujur dan
jelas karena ada unsur pendidikan (keilmuan) di dalam
suatu formal information.
— Perdana Rahadhan wrote:
ya kalau begitu malaysia bukan contoh yang baik..kalau
ingin menampilkan suatu produk harus lengkap dg
sejarahnya. Contoh jeans yg konon budaya amerika, org
amerika mengakui bahwa jeans berasal dari Genoa..so
that mereka menyebutnya jeans.
Terus ttg Burrito..makanan yg mirip2 kebab (daging
dibungkus dg roti ceper seperti serabi tapi rotinya
dari tepung maizena..amerika mengakui itu patent
amerika tetapi merupakan makanan meksiko atau adaptasi
dari makanan meksiko.
Jd klo ada riset mengenai burrito, si periset tdk
hanya berkutat pada warga meksiko pembuat burrito yg
tinggal di amerika tapi juga mengunjungi meksiko
apabila ingin lebih mendalam. Setidaknya informasi itu
dicantumkan. Inggris juga mengakui badminton nya
berasal dari poona..India.
Jujur itu mujur…bukan tidak aturan macam bisnis di
malaysia juga di indonesia. Menjual produk budaya
(acara adat, makanan, kerajinan, dsb) lebih baik
menyertakan asal-usul dan informasi yg jelas mengenai
produk budaya tsb, krena berkaitan dg sejarah dan
keilmuan. Ingat lho sesuatu yg dipublished itu berarti
sudah bertujuan memberikan informasi yang jujur dan
sarat akan makna serta ilmu pengetahuan.
Oya Encik Aulia Fuad Rahman..Kandidat Doktor Akuntansi
dari University Kebangsaan Malaya (AK 94)..punya
banyak pengalaman dan pemahaman, serta berdiskusi ttg
hal2 ini.
Tak perlu diperdebat kan siapa punya apa, toh kita bangsa serumpun jadi wajar jika ada kesamaan, masalahnya kita tidak peduli dengan keberadaan kesenian tradisional saja, contoh lain bagai mana orang sunda dan orang betawi yang serumpun tidak mempermasalahkan milik siapa tari jaipong atau yapong kata orang betawi.
Andaikan di Malaysia memang ada warganya yang mengadaptasi tarian reog itu, ya mestinya tidak sama persis. Atau kalau pemerintah negara itu punya niat baik, ya cantumkanlah asal-usul tarian itu dan juga kalau kostumnya memang pesanan dari Ponorogo. Ya, jujur saja, NGAKU.
Dilihat dari sudut kebahasaan juga nama TARI BARONGAN adalah murni struktur bahasa JAWA. Sekali lagi BAHASA JAWA, DAN ITU BUKAN CARA-CARA PEMBENTUKAN sebuah KATA DALAM BAHASA MELAYU. Bahasa juga adalah produk budaya. Antara bahasa dan proses penamaan sesuatu yang linear. Dari sisi ini saja TARI BARONGAN yang diklaim asli Malaysia itu gugur dengan sendirinya.
Kejujuran mereka, para encik ini, yang tampaknya menghalangi niat baik mereka sebagai bangsa bertetangga dan se rumpun. Jangan jadi saudara yang bandel dan kurang ajar sama saudara lainnya Bunggg.
Rasa-rasanya bangsa (t ?) Malaysia ini senantiasa meniup-niup api yang ada di dalam sekam secara terus menerus. Kita kok masih saja kalem menanggapinya ya???
[...] http://rusdimathari.wordpress.com/2007/11/25/barongan-malaysia-bukan-reog-ponorogo [...]
Nah ini pekerjaan baru bagi pemerintah, ayo di data ulang berapa dan apa saja sih budaya asli negeri kita… ayoo kerja pemerintah.. jangan santai-santai melulu
Awalnya mungkin ada warga negara Indonesia yang pindah ke Malaysia dan kemudian mengembangkan bakat keseniannya di Malaysia, lama kelamaan mengajak lembaga yang berkompeten di Malaysia untuk mempatenkan kesenian yang dikembangkannya itu. Alasannya karena selama ini pemerintah Indonesia memang gak becus ngurusi kesenian dan kebudayaannya.
Barangkali itu memang khas kebiasaan pemerintah Indonesia yang kurang proaktif tetapi hanya bisa responsif. Kasus pulau-pulau terdepan Nusantara juga modelnya dem,ikian, kalau sudah terancam baru kebakaran jenggot. Kalau tak ada ancaman boro-boro dikasi perhatian.
Ada wacana someday Malaysia bakal meng”akuisisi” Indonesia menjadi bagian negaranya? Wallahualam.
Gimana ya…??
kalo menurutku, tetangga sebelah aja yang ga kreatig. Kata Andre Hehanusa, dari 10 lagu di top chart-nya Malaysia, 8 lagu itu dari kita.
Kalo soal Reog dan Barongan itu juga, Ceritanya ga kreatif. Masak ada macan ketemu Merak terus langsung nari….
Beda sama kita yang punya cerita berdasar legenda yang udah hidup berpuluh bahkan mungkin beratus tahun lamanya…..
justru kita dong yang menjadikan malaysia negara bagian, kan sudah berhasil menginvasi secara budaya, tinggal maju ke tahap berikutnya :p
malaysia..malaysia..dasar kau ni tak punya malu…
indonesia..indonesia…kenapa kau tak punya Mau, uruslah budaya bangsa ini…
agar kita tak diperMalu oleh bangsa sebelah yang tak punya Malu itu….
Bagi saya wajar kalau kekayaan budaya, alam atau hasil karya bangsa ini dicuri orang karena kita sendiri tidak pernah menghargai budaya dan kekayaan alam kita, dan kalau kaya malaysia memang bangsa yg tidak tau diri, nanti lama-lama KOTEKA dari Papuapun diakuinya sebagai warisan nenekmoyangnya.
Dunia ber pihak pada yang memelihara budaya, bukan pemilik budaya.
yah, malingsia kan emang gak punya budaya, contek sana contek sini, yang penting devisa masuk,
wong merdeka aja mereka gak becus, harus nunggu belas kasihan INggris…
beda banget dg kita
Malingsia oh Malingsia
kalau kita nggak pedulikan, lalu dimanfaatkan orang, kenapa harus sewot ?
btw aku setuju pesan yang tersirat disini, mari kita kembangkan budaya nusantara; jangan cuma dilestarikan!
dan mental maling, teteplah mental maling,
kalo gak punya mental maling, mereka gak akan seenaknya klaim..
oh ya lupa, mereka kan memang bodoh…
hahahah…
jadi gak kreatif
Saya setuju Bung Rusdi, budaya kita harus dilestarikan. Tapi itu bukan tugas pemerintah, melainkan tugas warga negara, tugas masyarakat, tugas kita semua. Selama ini kita terlalu sering menuntut pemerintah berbuat ini dan itu, padahal kita tahu pemerintah itu tidak becus, tidak profesional, tidak digaji cukup, pegawainya males dan bodoh. Lha, kalau mengharapkan pemerintah menjadi superman dengan kondisi seperti itu, kita akan jadi makin frustasi dan patah harapan. Jadi, saya himbau Bung Rusdi berhenti meminta ini dan itu pada pemerintah dan mulai berbuat sesuatu untuk bangsa ini secara konkret dan riil. Mulailah dari diri sendiri!
capek urusannya dg malingsia. ganyang aja deh!
Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan pemberlakuan undang-undang property right. Undang-undang produk kapitalisme ini ternyata telah dijadikan alat pengesah oleh orang per orang, maupun institusi selevel negara untuk memiliki karya orang lain atau bangsa lain. Saya lebih suka menyebut UU perlindungan hak cipta itu sebagai UU untuk pembajakan. Mestinya, kritik kita terhadap ketulian kementerian kebudayaan RI tidak lantas membutakan mata kita atas cara-cara Malaysia mencuri karya bangsa Indonesia. Bagu saya sekali maling, mau dicuci seperti apapun perbuatannya, tetap perbuatan maling, kriminal, karena itu merupakan post factum.
Abd
Kita BODOH DAN TIDAK PEDULI.
Itu saja, maka pertahankanlah sebelum yg lain pun dianggap hak milik orang lain. Kalu suatu rumah kemalingan, jgn salhin maling nya tapi pemilik rumah yg gak ngejaga rumahnya dengan baik….
kalau maling tidak boleh disalahkan buat apa ada polisi dan pengadilan
Bagi orang yang pernah belajar ilmu sosiologi tentunya tahu bahwa sebuah kebudayaan itu muncul dari kebiasaan serta adat istiadat yang ada dari daerah setempat.sebuah kebudayaan tidak bisa muncul begitu saja yang dikaitkan dengan kisah-kisah dari daerah lain.Itu bukan budaya namanya tapi sebuah penjiplakan budaya.Yang mengatakan bahwa tari barongan itu benar adanya di malaysia itu omongan orang bodoh apakah Nabi Sulaiman itu pernah hidup di Malaysia????????……….coba buka lagi buku ilmu Sosiologinya pd waktu SMA……….
Wah, memang benar bahwa Indonesia tidak becus mengurus karya mereka sendiri… Memang Malaysia tidak salah kok, bila mengklaim bahwa kekayaan budaya itu miliknya, lha wong tidak ada yang ngopeni (merawat pen.) …
So, sekarang slogannya lagi trend di Malaysia, yakni “Ganyang Indonesia”…
susah ya…. udah dari lubuk hati yang paling dalam negara kita itu gondok sama maling eh malaysia…. jadi ada hal macem gini, dikit aja, langsung deh kesulut emosinya….
Indonesia dan Malaysia ibarat saudara sekandung, tp tabiat dan watak berbeda. Untuk merubah watak yg suka “ngékér-ngékér” (spt ayam yg lg cari makan dgn kakinya/versi jawa) susah tuk diluruskan, apalagi didasari watak DIKTATOR. Skrg tinggal Pemerintah Indonesia aja, berani gak mengambil sikap bijaksana. *Tp aku agak ragu, dah lama sich…Indonesia pake jarik*
Maklum…Indonesia msh byk ketergantungan dgn negara lain.
Hmm.. nggak tahu yang mana yang benar.
Kita liat aja nanti
Suai lah kalau negara ini disebut bangsa malingasia (baca: curiasia).. x de satu benda pun yg boleh luput..
kita mesti curi semua..
padan muka dia..
berjayalah umno.. berjayalah malingsia..
http://www.heritage.gov.my/kekkwa/viewbudaya.php?id=469 <- klo di liat gambarnya itu bener2 reog lho mas…. apa yg bikin beda??
Dan sekarang, lagu “abang tukang bakso” pun dibajak encik-2 itu
Ganyang Malaisia……………….., Hancurkan Malaisia….., Kita Sudah di injak2 maslaisia, tetap i mengapa kita diem saja. Kita Bangsa yang bermoral dan Punya Harga DIRI………Kita Jangan Diem Aja. Apalagi Pemerintah…. Yang Notabene Buta dan Tuli…Terutama Menteri Pariwisata dan Kebudayaan, Mengapa tidak mendaftar semua kesenian yang di miliki Bangsa Kita Tercinta yang sudah susah payah kita rebut. Apa masih kurang aset negara kita di ambil Malaisia, Coba Ingat2 saja, Mulai dari Angklung, Batik, Nyayian, Pulau. Kenapa Pemerintah Diem Saja. Hai Pemerintah Jangan Cuma Mikirkan Bagaimana Caranya Kurupsi saja. Jangan Tuli dan Buta . Coba Dengar dan Liat. Ingat Klo emang Barongan Sebagai kesenian asli Malaisia ya yang bener aja… bentuk nya saja hampir sama (99% sama) walalupun kita serumpun tapi mustahil kesenian bisa sama persis kayak gitu. Kita juga serumpun dengan negara selain malaisia, tapi tetep aja ada berbedaan sebagai simbol negara tertentu. Ingat kita negara yang punya Harga Diri, Bukan NEGARA YANG MLEMPEM. JANGAN DIEM AJA….INGAT SEBETULNYA KITA SUDAH DIHANCURKAN OLEH MALAYSIA. DARI MANA TERORIS YANG SELALU MERESAHKAN NEGARA KITA, TETEP DARI MALAYSIA. PENGEDAR NARKOBA YANG BARU2 INI TERTANGKAP YANG AKAN MENDIRIKAN BAPRIK EKSTASI TERBESAR JUGA DARI MALAYSIA. INI HANYA SEKEDAR KILAS BALIK AJA. KENAPA TIDAK MENDIRIKN DI MALAYSIA SENDIRI. KITA SEBAGAI BANGSA YANG PUNYA HARGA DIRI JANGAN CUMA DIEM SAJA ATO PASRAH. SEKALI LAGI GANYANG…..MALAYSIA (MALING ASIA)…….MERDEKA………………………..
Yaya…Si MALASya terlalu malas, sampai miskin gara2 ga pernah kerja. Trus jadi maling dibilang MALINGsia. Dasar maling ngaku2 kaya bisanya cuma ngaku2…
banzai..eh bantai
[...] Reog Malaysia Asli Buatan Indonesia Masihkah Reog Ponorogo seperti Dulu? Perajin Reog Ancam Hentikan Kiriman Dadak Merak ke Malaysia Reog Ponorogo Diklaim Malaysia Seribu Warok Reog akan Demo Malaysia Barongan Malaysia Bukan Reog Ponorogo [...]
Ini aja kata2 gw wat malingsia….
Jika Bung Karno masih Ada
Jika Bung Karno masih ada
Malaysia merdeka lebih manis
Tanpa mengemis kepada inggris
Jika Bung Karno masih ada
Pengkhianat macam buntelan kentut
Tungku Abdur-Rahman. Tak panjang hidup sampai keriput
Jika Bung Karno masih ada
Sipadan-Ligitan masih menguntai mesra
Mata rantai jamrud khatulistiwa
Jika Bung Karno masih ada
Malaysia tak berlabel Trully “Thief” Asia
Stempel sana-sini karya-budaya tetangga
Kasihan negara kaya, miskin etika
Pahlawan pun tak punya, kecuali amoREL-A
Pernah berjuang untuk merdeka?
Terngiang 27 Juli 1963,
Bung Karno kobarkan “Ganyang Malaysia.”
Proyek Neo Kolonialisme made in inggris
“Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”
Karena Bung karno tak ada
“Ganyang Malaysia, selamatkan Nurhaliza”
-Sebut ‘indon’ depan muka gw, gw kirim lo ke neraka paling jahannam!-
Saya orang kelahiran ponorogo tetapi sekarang tinggal di kota malang. Eeedaaan temaaaan Malingsia. Gendeng tenaaaan rajaku. Pemerintah Malingsia sibuuuuuk cari kesenian dadakan, raja n pejabat indonesia sibuuuuuuk cari ceperan padahal konon menurut riwayat gaji pejabat indonesia itu pualiiing tinggiiiiii di dunia tapi masih merasa kuuraaaaaan aja hingga tidak sempat mengurus kekayaan negara termasuk hasil seni. capeeek deeech.
tidak perlu lah kita berdebat. mari kita mulai untuk menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya jawa. kita tidak perlu sewot jika suatu saat nanti gamelan jawa pun menjadi milik negara karena tidak ada generasi muda yang mau mempelajarinya. padahal ada berita ada salah satu peruguran tinggi swasta di negara X yang memiliki fakultas Gamelan. tapi di sini………. tidak ada. yang ada fakultas2 hebat yang bisa ngajari kita korupsi.
yaaaach sekarang yaa terserrrrrrah sing penting bisa kenyang. Gus Dur/Gus Pur: Menurut saya sih gampang aaja, Gitu aja kok repot.
tadi pagi di rcti dubes malaysia bilang kalo budaya malaysia itu…..campuran dari budaya2 yg ada…spt eropa,cina,melayu n so on…n so on. sebenernya kalo bisa disimpulin malaysia itu gk punya kebudayaan yang bener2 asli punya mereka sendiri.cuma ngerasa sama2 melayu trus serumpun jadi diakuin aja budaya2 yg ada di indonesia, dengan alasan akar historis yang sama.
yang penting jangan panas hati plus panas kepala ngadepin malaysia……bisa ketawa seneng mereka
emang edan kok malingsia kuwi….pinter ndobose thok…
ada anak malingsia yang ngejawab di blognya… http://nasron.wordpress.com
ada benernya juga tah?
ah malaysia lg…
jd pengen maen kesana aku
Malaysia memang pandai mencari-cari alasan, mana mungkin ada dua kebudayaan yang mirip banget bentuknya………….COBA PIKIRIN LAGI DEH
Soal asal usul yang berbeda itu kan cuma akal-akalan nya mereka saja……(memangnya kita anak kecil yang gampang dibodohi..)..
Yang namanya maling ya tetap aja maling… gak punya etika.. ya tetap gak punya etika
Mengapa mereka melakukan itu, karena pada dasarnya mereka sedang menggalakkan kunjungan pariwisata ke negaranya, dan untuk menarik turis maka kebudayaan merupakan salah satu daya tarik tersendiri, makanya mereka terus memperkaya kebudayaan mereka, walaupun asal usulnya bukan punya mereka…..
MALAYSIA TRULY “MALING” ASIA!
COBA KITA PIKIRIN LAGI…..
Sebenarnya lebih cerdik siapa, yang dia bisa mempatenkan kebudayaannya….?? Kenapa Indonesia tidak mematenkan budayanya sendiri…..
Apa langkah2 Pemerintah untuk melindungi cagar budaya sendiri…??? Berarti harus mematenkan semua budayanya kan….. ini berarti Malaysia selangkah lebih maju,….
“GANYANG MALAYSIA…”, gimana caranya mas..??
cuman ngomong doang…???
Bukannya Malaysia sudah melakukan “GANYANG INDONESIA” sampe sekarang, buktinya berapa TKI tewas, babak belur, ditangkapin, bahkan sampai diusir ribuan orang,…
Berarti Malaysia memang lebih cerdik,….. kapan Indonesia menyusul…???
IRONIS BANGET…!!!
Hmmh… iya ya Malaysia itu pandai ngaku-ngaku…
(maaf klo OOT)
Emang sih itu bukan urusan yang ribet², ini buka wawasan qta bahwa tidak selamanya sodara itu selalu menyenangkan. ini juga sebagai peringatan qta orang islam, Malay kan banyak org islamnya eh ternyata nyusahkan juga. Makananya qta orang Islam Indonesia ndak usah mikir orang Islam negara lain dech, mending urus diri kita sendiri aja dulu kalo udah baik baru nanti jadi contoh buat UMAT ISLAM LAIN. Jangan malah pada suka ribut tentang klaim kebenaran yang belum tentu qta sendiri tahu. Hehehe agak narzis tidak ya??.
TUH PADA MELEK DONK TIDAK SELAMANYA SE-AGAMA ITU BIKIN KITA TIDAK PUSING KAN. MAKANYA JANGAN ATAS NAMAKAN ISLAM DECH…UDAH BANYAK KOQ CONTOH2 KALO TETANGGA QTA ITU SUKA BIKIN KITA SEWOT….
MANA TUH YG SUKA BERKOAR-KOAR SOK ISLAMI KOQ PADA DIAM KALO NEGARA QTA DI RIBETIN AMA BANGSA LAIN. SUKANYA MALAH NGRIBETIN BANGSA SENDIRI.
KOQ MERAKA BERANINYA AMA BANGSA SENDIRI YACH..KALI AJA MERAKA JUGA DAPAT DANA DARI MALAYSIA BUAT NGANCURIN BANGSA INDONESIA AND MEMECAH BELAH PERSATUAN KITA… SAPA TAU…INGAT MALAYSIA ITU KAN NEGARA PERSEMAKMURAN.
MIKIR..MIKIRRRR…JANGAN RECOKIN NEGERI QTA SENDIRI..JANGAN BRANINYA AMA ANAK NEGERI SENDIRI…..TAPI AMA NEGARA LAIN SOK JADI PAHLAWAN
HEHEHEHE
kang… maap oot dikit. sisingaan bukannya dari subang? kalo kang rusdi orang kuningan, mungkin bisa didudukan bersanding dengan malaisia hehe
Lama - lama kesel juga sama malaysia. kasus lagu rasa sayange belum kelar, udah bikin masalah lagi.
Kalo emang mau gnajak perang, ya udah, langsung aja.
Aku yang paling pertama jadi sukarelawan untuk perang sama malaysia..
cape bener denger kesombongan malaysia….
mulai sekarang, tanamkan di hati, bahwa malaysia TIDAK BOLEH LAGI meremehkan Indonesia.
Kalo ada kabar TKI dibunuh di Malaysia, demo…laporin ke PBB
kalo ada kabar apapun juga yang merugikan Indonesia, GANYANG aja !
Berpikirlah seperti orang bijak….”….Apakah salah mengakui Hak dari “Orang” lain apabila “Orang” tersebut tidak tahu atau diam tentang Hak-nya…. yang jelas… Yang bukan menjadi HAK kita jangan lah dijadikan HAK kita… kita tidak tahu balasan apa yang kita bakal terima nanti…”
coba kita berfikir secara kenyataan dan akal sehat………………
di malaysia hanya ada 3 suku besar yaitu melayu, cina dan India…..
apakah ada diantara salah satunya yang memiliki kesenian tarian barongan…….
lagian bahasa malaysia mana kenal dengan sebutan barong….yang ada topeng……………
dan sejarah jalan cerita barong hanyalah karangan belaka yang disisipkan dengan Islam……mana mungkin dalam kesenian ajaran Islam ada jiwa yang kerasukan………
itu hanya alasan Malaysia belaka…..menutup muka dengan topeng Islam dan Akidah…
padahal kenyataannya adalah buruk.musang berbulu ayam……
tarian piring dari Sumatera Barat, tarian kuda kepang dari Jawa, Angklung dari Jawa barat, dan Batik dari Jawa ia ambil juga………………………
saya setuju dengan pernyataan bung yassaku..
kata BARONGAN itu bukan lah kata bentukan di bahasa melayu…
jadi kesimpulan nya sudah jelas…
segala permasalahan yang terkait dengan malaysia baik itu dengan indonesia sendiri atau negara lain, telah dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sikap malaysia sebagai negara baru yang perkembangan ekonominya pesat penunjukan gejala sindrom orang kaya baru. yaitu sikap ingin memiliki segalanya dengan cara apapun (pulau, budaya, intelektual, dll). lihat masalah claim pulau baik dengan indonesia, singapura atau dengan china, atau masalah pencurian budaya dengan indonesia, dan pematenan hasil intelektual oleh pelajar/mahasiswa yang kuliah disana diambil sebagai milik pemerintah malaysia.. dari hal diatas saya ingin menyampaikan pendapat saya mengenai claim budaya indonesia lagu rasa sayange dan reog, mengenai lagu rasa sayange malaysia juga tidak dapat membuktikan bahwa itu asli dari malaysia, sedangkan indonesia sudah dapat bukti bahwa lagu tersebut dari indonesia dengan ditemukannya bukti rekaman piringan hitam (jika dua buah negara mengklaim suatu lagu tanpa bisa menunjukan buktinya maka yang mempunyai rekaman lagu tersebut pertama kali yang berhak memilikinya). dan untuk reog sudah dibuktikan dengan paten pada tahun 2004 serta adanya order pemesanan perangkap reog ke malaysia, dan bila dilihat dalam tarian barong tersebut atribut yang dipakai adalah yang dipesan dari indonesia dan itu sudah diakui oleh pembuatnya karena setiap pembuat mempunyai ciri khas tertentu, bagaimana suatu negara yang mempunyai budaya barongan tetapi tidak tahu cara membuatnya. dan dibeberapa pertemuan terakhir antara kementrian budaya malaysia dengan indonesia telah dikeluarkan pernyataan dari malaysia bahwa itu memang bukan budaya malaysia, dan itu berasal dari melayu (indonesia) yang dibawa oleh para TKI dan tenaga pengajar kita ke malaysia.
sikap malaysia ini perlu dicermati.. karena mereka mempunyai agenda tersembunyi….
ayo rapatkan barisan.. boikot produk malaysia
merdeka…
kasian ya malaysa enggak henti-hentinya mengklaim inventaris indonesia. mungkin karena malaysa mengira kita bangsa penakut ……………………………/…….. AWAS kamu para datok-datok bentar lagi aku GANYANG kalian semua …….. Fuck You orang malaysa
Heran…..semua udah diambil ama negara Malingsia tapi kita kok diem aja…pulau diambil,laut diambil,harga diri diambil, budaya diambil……..kalo cuma diem entar negara kita diambil juga tuh dengan encik en datuk yang sok alim tapi maling itu….Cape deh….
Judul postingan yg aneh… dadakmerak yg diimport dr ponorogo bukan bukti…masih mau nanya bukti apalagi??
Apakah ini sudah waktunya bangun pagi.
Tapi kok ayam lom terdengar berkokok yah.
Hujan juga masih terus mengguyur deras.
Ah…mending tidur aja lagi ampe bener pagi.
Masih penasaran ama sambungan mimpi.
Moga-moga mimpi baik aja yang muncul.
Biar tidak terbangun lagi dari tidur malam.
Met tidur dulu yah, ampe jumpa esok pagi.
sekali lagi GANYANG!
udah muak liyat kelakuwan jiplak-jeplik & arogansi mereka!
jangan menyalahkan pemerintah. yang SALAH adalah tindakan malaysia yg telah mencuri salah satu seni budaya asli indonesia lalu diklaim sbg miliknya. kembalilah pada niat baik , bhw yg dipatenkan hendaknya budaya aslinya sendiri. kita belum mendaftarkan bukanlah kesalahan.
silakan baca disini :
http://cityofenjie.multiply.com/journal/item/338/Reog_Ponorogo_INDONESIA_vs_Tarian_Barongan_malingsia_%E2%80%A6_Siapa_Bangsa_Pencontek_Budaya_
Siapapun bisa saja membuat versi sejarah, saling klaim ini punya kami, itu budaya asli kami. Andai urusan hak cipta sudah dipandang yang utama, mungkin saling aku, ini dan itu bisa terjawab jelas
saya pernah melihat satu acara di satu stasiun televisi yg mmbahas mengenai barongan, duluuu banget sebelum malaysia klaim, disitu jelas disebutkan (berdasarkan wawancara reporter tv ke nara sumber) bahwa kesenian barongan dibawa oleh orang2 indonesia (org2 jawa ponorogo) yang migrasi ke malaysia, untuk menghilangkan rasa rindu tanah air, mereka membentuk kelompok kesenian reog ponorogo, yang pada akhirnya disebut sebagai barongan oleh orang melayu. maka tidak perlu penjelasan apa2 lagi untuk kesenian ini, benar masalah cerita bisa saja dibikin, tetapi tidak ada kesenian yang bisa sama persis tanpa ada riwayat yg menghubungkannya, apalagi malaysia kan budayanya melayu, ga ada hubungannya dengan jawa…, lucu ya…, pemerintah kita mesti memikirkan hal ini untuk kedepannya…jangan diem aja dong…
kenapa kita ndak mematenkan saja reog ponorogo seperti malaysia mematenkan “barongan” mereka?
kalau benar malaysia memesan reog dari ponorogo untuk kepentingan mereka, ini bisa jadi publikasi besar2an untuk mengatakan bahwa “barongan” malaysia adalah dibeli dari Indonesia
klo buat sy? seharusnya pemerintah indonesia hrs lebih tegas dan lebih arogan terhadap “malingasya” tp kenyataanya apa??? stlah banyak kejadian yg di lakukan “malingasya” pemerintah republik INDONESIA masih tetap berpegang teguh pd pendirianya yaitu:indonesia dan “malingasya” negara serumpun…
untung aja indonesia msh sbr u/ menghadapi persoalan ini,klo tdk mngkin indonesia akan berperang dgn “malingasya”
dasar malaysya “malingasya”!!!!!!!!!!!
Barongan memang asli dari Indonesia, orang Ponorogo hijrah 150 tahun yang lalu ke Malaysia dan mengembangkan disana. Lihat saja dari kata2nya…… BARONGAN, sangat kental dengan bahasa Jawa.
Sekarang di Negri Jiran juga sedang digalakan kesenian kita, yang mungkin anak2 muda sekarang sudah sangat jarang yang menyukainya, yaitu KERONCONG. Disekolah - sekolah disana diajarkan kesenian kita tersebut. Mungkin suatu saat jika lalai, bakal jadi Keroncong menjadi menjadi milik mereka.
Kapankah stasiun2 TV kita mengadakan lomba Keroncong seperti AFI, Mama Mia atau yang lain2nya?
kalo asal usulnya beda, napa bentuk barongan ma reog sama, panarinya juga, gamelannya juga, eh trus mereka beli gamelannya dari ponorogo gitu?wah kasian banget ya.., aduh sebaiknya kita bikin sumbangan pemikiran buat malaysia biar dia bisa bikin budaya sendiri biar gak niru2 negara lain, kasian banget sie lo malingsia….hiks…hiks…
kasian banget deh, banyak yang kalian ga tau persis pokok permasalahan yang kalian omongi
coba deh luangkan waktu untuk cari tau, jangan sekadar baca di media atau dari sumber2 dalam negeri
apa yang dibilang oleh nasron.wordpress.com itu bener walau pedih dihati waktu membacanya.
apakah kita lebih benarnya dari mereka? atau mereka lebih benar dari kita?
asal usul tari barongan malaysia terlalu dibuat2, kalo cuma bikin cerita tu kan gampang,.,..bentuk & alat2nya itu loh,., sama persis.,. paling juga mereka beli dari orang ponorogo kn?????
kaloo mo cari bukti,., udah jelas kan,., gak peru cari2 lagi,.,