Tentang Wawancara


Suatu hari dalam berita kriminal sebuah stasiun televisi nasional, seorang wartawan meliput penemuan mayat di pinggir sungai. Ketika sampai di lokasi, dia langsung mewawancarai saksi, seorang pemulung yang pertama kali menemukan mayat dan melaporkannya ke polisi. “Menurut bapak sudah berapa lama mayat itu tergeletak di pinggir sungai?” Lalu saksi itu menjawab, “Tidak tahu, saya baru menemukannya tadi pagi.” Wawancara adalah isu besar dalam jurnalistik dan tak semua wartawan mampu melakukannya dengan baik.

oleh Rusdi Mathari
SEBUAH desas-desus menghebohkan publik Amerika Serikat: sebuah kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet yang tenggelam, dikabarkan telah diangkat ke permukaan oleh sebuah perusahaan milik pengusaha Amerika Serikat, Horward Hughes dengan nilai kontrak US$ 350 juta. Operasi “penyelamatan” itu sebenarnya akan menjadi berita biasa saja, andai tidak ada temuan terakhir tentang keterlibatan CIA.

William Colby salah satu Direktur CIA, disebut-sebut terlibat dalam operasi di Pasifik itu. Desas desus beredar dan media massa heboh.

Dan Gilmore reporter kantor berita UPI menjadi wartawan pertama yang berhasil mewawancarai Colby. Pertanyaan terakhir yang berusaha disingkap oleh Gilmore adalah apa peran Colby.

“Apakah CIA terlibat dalam operasi penyelamatan kapal selam oleh Hughes di Samudera Atlantik?” Begitulah Gilmore mengajukan pertanyaan ke Colby.

Tidak lama sesudah wawancara tersebut, sejumlah kantor berita lain mengungkapkan, CIA terlibat dalam operasi bersama Hughes tapi bukan di Atlantik seperti pertanyaan Gilmore melainkan di Pasifik.
Benar, Gilmore melakukan sebuah kesalahan.

Kita tidak akan pernah tahu apa jawaban Colby, andai reporter UPI itu menyebutkan nama samudra yang tepat dalam desas-desus itu. Sesuai kepergian Gilmore, konon Colby berkata kepada seorang ajudannya, “Saya lega, dia (Gilmore) tidak meneruskan pertanyaan terakhirnya itu.”

Berbagai distorsi seperti halnya pertanyaan Gilmore, di dalam proses penggalian fakta seringkali terjadi. Sebagai wartawan pertama yang menemui Colby dan melakukan wawancara, Gilmore telah kehilangan satu langkah. Dia menyia-nyiakan kesempatan. Padahal nara sumber yang dihadapinya adalah sumber informasi yang begitu bernilai untuk dijadikan loncatan faktualitas berita, sebelum media lain mengungkapkannya. Cerita itu terungkap dalam buku Jurnalisme Investigasi yang disusun Septiawan Santana H (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2003).

Tak Semua Wartawan
Wawancara adalah isu besar dalam dunia jurnalistik dan tidak semua wartawan mampu dengan baik melakukan wawancara. Sebaliknya banyak wartawan yang justru tidak bisa melakukan wawancara dengan baik. Di Indonesia wartawan semacam itu banyak jumlahnya dan paling gampang menjumpainya pada liputan berita di televisi, meski di media cetak juga tidak sulit untuk ditemukan.

Suatu hari dalam berita kriminal sebuah stasiun televisi nasional, seorang wartawan meliput penemuan mayat di pinggir sungai. Ketika sampai di lokasi, dia langsung mewawancarai seorang pemulung, saksi yang kali pertama menemukan mayat dan melaporkannya ke polisi dengan pertanyaan pertama “Menurut bapak sudah berapa lama mayat itu tergeletak di pinggir sungai?”

Lalu saksi itu menjawab, “Tidak tahu, saya baru menemukannya tadi pagi.”

Pertanyaan wartawan televisi tadi jelas pertanyaan bodoh yang memalukan profesi jurnalistik, karena jawaban saksi mestinya sudah diduga oleh si wartawan, yaitu tidak tahu. Bagaimana mungkin saksi, (seorang pemulung) yang kali pertama menemukan mayat akan tahu berapa “usia” mayat di pinggir kali itu? Jika saksi memang tahu ada mayat sebelum Hari H dia melaporkan penemuannya kepada polisi dan penduduk sekitar sungai, tentu dia akan melaporkan pada hari sebelum Hari H.

Bukankah tidak ada orang yang mau menyimpan apa yang diketahuinya tentang adanya mayat sebagai rahasia pribadi yang harus disimpan rapat-rapat, kecuali yang bersangkutan adalah pembunuhnya atau sedang terganggu jiwanya?

Harus disadari, wawancara bukan percakapan biasa apalagi sekadar basa-basi. Wawancara adalah salah satu ruh bagi wartawan yang menentukan nilai sebuah liputan. Semakin piawai wartawan melakukan wawancara, maka akan semakin banyak informasi yang dia bisa dapatkan. Soalnya adalah bagaimana melakukan wawancara dengan baik?

Menyiapkan Data
Ada sebuah pelajaran penting yang bisa ditarik dari kasus Gilmore. Dalam setiap penggalian fakta, ketika melakukan wawancara narasumber, seorang wartawan seharusnya sudah menyiapkan segala bahan dan data yang berhubungan dengan isu atau topik yang hendak ditanyakan atau diliputnya. Wartawan harus siap dengan semua pertanyaan yang terkait dalam usahanya menggali fakta.

Memang ada beberapa kendala yang selalu menghantui upaya wartawan, mendapatkan bahan yang menarik dan penting. Pemadatan informasi, masalah-masalah yang diajukan reporter dan sumber berita, batas waktu dan gaya pengumpulan berita, menurut Herbert Strentz (Reporter dan Sumber Berita: Persengkokolan, Mengemas dan Menyesatkan Berita, 1993), adalah hal-hal peka yang bisa mempengaruhi proses penggalian berita di dalam wawancara.

Apa yang dikatakan narasumber kepada seorang reporter sangat tergantung pada dua hal. Pertama bagaimana reporter tersebut dipandang oleh narasumber. Kedua bagaimana reporter tersebut bersikap.

Sumber berita akan melepas semua keterangan yang disimpannya jika ia mendapatkan kepercayaan bahwa reporter yang dihadapinya memang layak dipercaya, mampu menerjemahkan, tidak hanya mencari sensasi dan memiliki integritas sebagai pelayan informasi masyarakat.

Semua itu bisa terlihat dari tampilan sikap reporter sejak awal ketika mengajukan waktu untuk wawancara, sampai ketika proses wawancara berlangsung. Tentang sikap ini, mungkin memang bisa dianggap hal-hal sepele. Namun diakui atau tidak, karena hal-hal yang sepele itulah biasanya banyak informasi bisa didapatkan.

Satu-Dua Peraturan
John Brady editor pada Writer’s Digest dan menulis buku soal wawancara The Craft of Interviewing, memberikan beberapa panduan yang menarik disimak. Sebelum wawancara dimulai, hal penting yang harus dilakukan wartawan adalah memahami calon sumber. Misalnya karakter sumber seperti apa, posisinya sebagai apa, situasi dan kondisi sumber bagaimana, dan sebagainya.

Hal itu penting dipahami karena setiap manusia memiliki segi-segi personal, kepribadian, dan kejiwaan sendiri-sendiri. Jika wartawan berusaha memahami sumber maka dia akan terhindar untuk mengajukan pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah diduga oleh wartawan.

Bertanyalah pada diri sendiri, berapa banyak pertanyaan yang dimiliki sebelum melangkah menemui narasumber. Beberapa wartawan profesional mungkin akan dengan sangat mudah menghafal pertanyaan apa saja yang kelak akan diajukan kepada sumber, seperti seorang agen intelijen yang menghafal instruksi. Namun tidak sedikit wartawan yang terjebak ketika wawancara sedang tidak harus berakhir. Akibatnya wawancara bisa berhenti di tengah jalan, hambar, dan tidak menemukan arah.

Ada hal yang lebih masuk akal dan mudah dilakukan sebelum melakukan wawancara yaitu dengan membuat daftar pertanyaan. Penyusunan daftar pertanyaan sekaligus sebagai cara agar tidak lupa kepada pertanyaan-pertanyaan penting. Tak lalu, semua yang ingin diketahui bisa dijadikan daftar pertanyaan.

Seorang wartawan suatu hari datang ke resepsi pernikahan seorang penyanyi. Pertanyaan yang diajukan reporter itu: “Kenapa Anda ingin menikah?”

Si penyanyi menjawab, “Hanya untuk melihatmu. Hei, aku tak tak percaya, kamu sungguh bodoh.”

Wartawan tadi pasti tak akan menduga si penyanyi akan menjawab seperti itu, dan itulah pertanyaan pertama dan terakhir yang keluar dari mulutnya kepada si penyanyi.

Ketika sudah berhadapan dengan narasumber, bangunlah suasana yang menyenangkan dari awal sampai akhir wawancara. Berikan empati, saling membagi perasaan, dan sebagainya. Intinya harus dibangun suasana yang bermanfaat bagi sumber berita sehingga wartawan bisa mendapatkan kepercayaan, dan karena itu bisa mendapatkan banyak informasi.

Untuk menimbulkan kesan baik dan bersahabat kepada sumber berita, ajukan beberapa pertanyaan awal yang ringan menyangkut kabar sumber yang seolah tidak ada kaitannya dengan pokok persoalan. Kalau perlu sertakan anekdot lucu tentang isu faktual yang sedang hangat di masyarakat.

Jangan Malu Mengaku Tidak Tahu
Pertanyaan selanjutnya yang diawali dengan kalimat seperti “Saya belum paham, bagaimana persoalan itu bisa muncul dan melibatkan nama anda” dan sebagainya, akan meyakinkan sumber bahwa wartawan yang datang kepadanya memang jujur dan seolah berpihak pada sumber. Sumber yang merasa aman dan percaya bahwa wartawan berada pada pihaknya biasanya akan memberikan banyak informasi.

Atau ketika wartawan memang tidak tahu, jangan malu-malu untuk mengatakan tidak tahu dan mengatakan, “Maaf, saya tidak tahu, bisakah diberikan contoh?” Brady menyebut cara semacam itu sebagai “Diam yang Pintar”

Satu hal yang harus diperhatikan, jangan sok tahu dan jangan mengajukan pertanyaan yang langsung pada pokok persoalan. Ketika berhadapan dengan sumber, memang banyak wartawan yang dijangkiti kekhawatiran bahwa sumber akan membisu dan tidak akan menjawab pertanyaan, lantas karena itu diajukan pertanyaan-pertanyaan keras yang menohok langsung pada pokok persoalan yang menempatkan sumber sebagai pihak bertahan karena dituduh, atau dikuliahi.

Narasumber bisa saja terprovokasi oleh gaya dan sikap bertanya wartawan semacam itu dan kemudian juga langsung menjawabnya. Namun risiko yang juga harus dipertimbangkan, jika narasumber ternyata tidak menjawab sama sekali pertanyaan dari wartawan. Atau kalau pun menjawab, narasumber mungkin akan menjawab dengan jawaban-jawaban yang bersifat membela diri.

Dua kemungkinan reaksi dari sumber itu, masih menguntungkan bagi jalannya wawancara. Namun bagaimana jika sumber balik bertanya dan meminta penjelasan kepada wartawan?

Banyak kejadian, ketika pertanyaan pertama diajukan dan sumber menjawab dengan balik bertanya, wartawan malah tak bisa menjelaskan atau melanjutkan pertanyaannya. Akibatnya, wawancara sudah menemui jalan buntu sejak awal dan besar kemungkinan wartawan akan kembali ke kantornya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya yang belum sempat ditanyakan kepada sumber. Hal itu jelas merugikan dan buang-buang waktu. Karena itu jangan sok tahu bahkan ketika memang merasa sudah tahu.

Jangan Menyiapkan Jawaban
Tidak sedikit wartawan yang datang kepada sumber dengan pertanyaan yang jawabannya sudah dia persiapkan. Sumber lalu diarahkan agar terus menjawab seperti atau mendekati jawaban yang sudah dibuat atau diinginkan oleh wartawan. Selain berbahaya karena manipulatif, pertanyaan seperti itu cenderung akan menghasilkan jawaban yang bukan berasal dari keinginan sumber. Jika itu terjadi, wawancara oleh wartawan tidak lebih dari sebuah masturbasi.

Sumber hanya diminta konfirmasi untuk membenarkan asumsi yang dibuat oleh wartawan. Keberpihakan wartawan, lantas bukan kepada kebenaran melainkan kepada asumsinya, pesanan redaksi dan sebagainya.

Bertanyalah dengan pertanyaan yang mudah dijawab oleh narasumber. Pertanyaan yang membuat sumber tidak bisa menjawab cenderung akan menghasilkan informasi yang manipulatif, tidak peduli sekeras apa pun dia berusaha untuk mencoba menjawab. Jika sumber masih meraba-raba, alihkan pertanyaan kepada topik lain dan menyusulkan pertanyaan yang belum sempat dijawab sebelumnya.

Ajukan pertanyaan dengan kalimat ringkas dan jelas. Pertanyaan-pertanyaan dengan kalimat-kalimat panjang yang dimaksudkan untuk mengetahui segalanya dari sumber hanya akan menghasilkan wawancara yang kabur.

Jika pertanyaan yang akan diajukan memang memerlukan latar belakang, sampaikan pokok-pokoknya kepada sumber lalu teruskan dengan pertanyaan yang singkat. “Banyak dari korban G30S PKI yang belum mendapat rehabilitasi sosial dan politik. Bagaimana anda akan membangun rehabilitasi bagi mereka?”

Ketika wawancara akan diakhiri dan wartawan masih memerlukan suatu penjelasan, maka buatlah ringkasan pokok dan mintalah sumber untuk ikut mengkoreksi.

Semudah itukah wawancara? Belum tentu.

Adakalanya sumber memang tidak sedang bersedia menjawab apa pun. Jika kondisinya memang demikian, buatlah kembali janji untuk melakukan wawancara di lain waktu dengan meyakinkan sumber bahwa pernyataannya sangat penting justru untuk menjelaskan persoalan.

Penampilan dan bahasa tubuh wartawan ketika melakukan wawancara, juga hal yang tidak bisa diabaikan. Dari 10 Panduan Wawancara yang dibuat oleh International Center for Journalists, separuhnya memuat tentang pentingnya penampilan dan bahasa tubuh wartawan.

Penampilan dan bahasa tubuh, itu adalah tepat waktu, keharusan rela mendengar penjelasan sumber tapi tidak harus takut untuk menyela, sabar, sopan, dan keharusan menatap mata sumber untuk meyakinkan, dan sebagainya.

Off the Record dan Lain-Lain
Salah satu kesulitan yang sering dialami wartawan ketika melakukan wawancara adalah berhadapan dengan sumber yang meminta off the record. Maksudnya untuk tidak dipublikasikan. Wartawan yang tidak paham, akan membiarkan sumber mendikte dengan senjata off the record.

Wartawan memang diikat oleh etika untuk menghargai dan melindungi sumber. Namun pertanyaannya adalah, untuk apa wawancara dilakukan jika identitas sumber dan juga isinya, sebagian atau seluruhnya adalah off the record?

Pengertian off the record adalah berhubungan dengan informasi dan nama sumber yang tidak boleh disebut dalam tulisan atau berita wartawan. Sumber yang menyebut off the record, berarti memberi batas tegas bahwa informasi dan namanya sama sekali tidak boleh diberitakan. Wartawan yang menerima permintaan off the record, akan menanggung risiko terikat untuk tidak menggunakan informasi tersebut sampai ada pihak lain yang mengeluarkan dengan menyebut identitas lengkap.

Risiko itu termasuk kemungkinan bahwa informasi itu diperoleh dalam bentuk yang lain dari sumber lain tapi bisa menimbulkan kesan bahwa wartawan tak menghormati kesepakatannya dengan sumber pertama.

Risiko lain, akan memunculkan tudingan publik bahwa wartawan sebenarnya “mengarang” cerita dengan menyiasati beritanya berdasarkan “menurut sumber”. Media yang sering menulis berita “menurut sumber”, kredibilitasnya bisa dipertanyakan. Wartawan yang baik, karena itu tidak akan sembarangan menyetujui atau menerima permintaan off the record dari sumber.

Persoalannya hanya satu, permintaan off the record terutama pada zaman sekarang, sering digunakan oleh sumber justru bukan karena keselamatan pribadi dan keluarganya bisa terancam melainkan karena didorong oleh semangat untuk “melempar batu sembunyi tangan”. Jika sebagian besar arus jurnalisme saat ini menyetujui off the record tidak lagi bisa berlaku terutama jika keamanan sumber tidak menjadi alasan yang kuat, hal itu tentu bisa diterima– kendati berisiko.

Risiko itu misalnya, sumber bisa jadi tidak akan memberikan informasi, atau tidak percaya kepada wartawan. Arus ini percaya, permintaan off the record hanya bisa dipenuhi jika menyangkut keselamatan sumber.

Tanyakan ke Sumber: Alasannya Apa?
Namun ada cara untuk menyiasati permintaan off the record dari sumber. Sebelum menyetujui permintaan off the record, wartawan sebaiknya bersepakat terlebih dulu dengan sumber, apa yang dimaksud dengan off the record.

Hal itu penting dilakukan, karena selama ini banyak sumber (dan juga wartawan) sebenarnya tidak paham tentang off the record.  Sering terjadi, wartawan dan sumber mencapuradukkan antara off the record, not to be quoted, dan not for attribution. Bersepakat dengan sumber karena itu sebaiknya dilakukan oleh wartawan, untuk menghindarkan kerancuan tentang makna off the record.

Kalau dirasa perlu, tanyakan juga alasan sumber sehingga meminta off the record dan apakah off the record yang diminta hanya untuk satu dua pertanyaan atau menyangkut pada isi keseluruhan wawancara. Bukankah sangat tidak mungkin seluruh materi wawancara berisi keterangan off the record? Jika sumber punya kredibilitas, wartawan akan rugi karena nama sumber tidak ada. Atau jika sumber tidak memiliki kredibilitas, wartawan akan dituduh mengarang cerita.

Pada saat wawancara berlangsung dan sumber meminta off the record untuk satu dua penjelasan, maka wartawan harus mengingatkan sumber, apakah pernyataan berikutnya sudah on the record atau masih off the record. Jika yang dimaksud off the record hanya satu dua pernyataan, maka hal itu sebenarnya termasuk not to be quoted yang bersifat terbatas. Bisa juga dimaknai untuk tidak ditulis dengan kutipan langsung.

Untuk sumber yang ternyata hanya meminta namanya saja yang tidak disebut tapi informasinya boleh dikutip, permintaan itu bukan off the record tapi not for attribution. Permintaan not for attribution adalah informasi yang tidak meminta penjelasan nama, atau jabatan sumber.

Memilih Risiko
Dengan kata lain, informasi dari sumber masih bisa digunakan sepanjang tidak menyebutkan namanya, dan informasi yang disampaikan kepada publik adalah tanggungjawab sepenuhnya wartawan. Contoh kasus ini misalnya terjadi pada Judith Miller wartawati The New York Times.

Miller lebih memilih dipenjara ketimbang harus membeberkan nama sumber beritanya – yang mengungkapkan alasan pemerintahan George Bush menginvasi Irak pada 2003 penuh dengan kebohongan karena berdasarkan laporan yang juga bohong yang dibuat oleh agen CIA Valerie Palmer. Miller, yang mendekam di sel, ingin menunjukkan komitmennya sebagai wartawan yang bertanggung jawab dan bermartabat untuk melindungi keselamatan sumber.

Bagi Miller, identitas sumber yang berbicara atas dasar off the record harus tetap ditutup rapat. Alasan Miller masuk akal, karena membocorkan nama agen CIA menurut UU Amerika Serikat adalah kejahatan serius dan bisa berakibat pada keselamatan pribadi dan keluarga sumber.

Matthew Cooper, wartawan Time yang juga mendapat berita yang sama dari sumber yang sama, semula ingin bersikap seperti Miller. Namun belakangan Cooper, mengungkap jati diri Rove setelah ditekan atasannya. Terungkap kemudian nama Karl Rove, salah satu penasihat politik utama Bush.. Rove dipecat, dan kini menghadapi pengadilan. Azas not for attribution dalam hal ini telah dilanggar oleh wartawan Time.

Maka permintaan off the record dan not for attribution dari sumber hendaknya “dinegoisasikan” oleh wartawan kepada si sumber. Misalnya dengan memintakan persetujuan sumber apakah boleh menyebut posisi, jabatan atau lembaganya dan sebagainya. Cara kompromi ini diyakini bisa menekan beban tanggungjawab yang harus dipikul, baik oleh wartawan maupun sumber.

Kalau tetap tidak dicapai kata sepakat, wartawan harus pandai mencari celah agar pernyataan off the record dan not for attribution tetap bisa diketahui publik, sepanjang memang menyangkut kepentingan publik yang lebih besar. Siasat yang agak masuk akal, off the record dan not attribution diperlakukan sebagai seolah-olah sebuah cerita yang sampai atau diketahui oleh wartawan dan karena itu tidak harus menyebut dengan kata “menurut sumber”.

Misalnya, dengan menulis atau menyebut “Ada fakta lain yang sampai ke redaksi…” Bambang Bujono, mantan Pemimpin Redaksi majalah D&R menyebut cara semacam ini, sebagai “opini” wartawan.

Adapun yang dimaksud dengan backgorund dari sumber adalah informasi yang bersifat tidak resmi, belum jelas, dan harus diverifikasi. Karena sifatnya background maka harus diperlakukan sebagai sebuah ketidakbenaran yang baru bisa dipublikasikan setelah mendapat pembenaran lewat wawancara dengan sumber lain, penulusuran dokumen dan sebagainya. Informasi awal dari sumber pemasok, bisa dikategorikan sebagai informasi dalam pengertian background.

Satu hal yang harus disadari wartawan, jangan gegabah dan gampang menyetujui permintaan off the record, background, not for attribution dan not to be quoted. Pertimbangkanlah dengan sungguh-sungguh untuk menerima atau menolak permintaan not for attribution dari sumber. Apabila pelanggaran permintaan not for attribution diperkirakan akan membahayakan keselamatan sumber, janganlah sekali-kali melanggar permintaan itu.

Pelanggaran permintaan not for attribution walau diyakini tidak akan membahayakan keselamatan sumber tetap merupakan pelanggaran etika. Oleh karena itu, sebaiknya wartawan membicarakan untung-rugi (bagi narasumber dan bagi media) pemuatan kutipan tanpa attribution itu dengan sumber.

Harus disadari oleh setiap wartawan bahwa semua informasi adalah tidak berharga jika tidak diberitakan. Selamat melakukan wawancara.

*Tulisan ini pernah disampaikan dalam pelatihan jurnalistik Komnas HAM Perempuan di Cisarua, Bogor, 19 Juli 2006.

About these ads

4 pemikiran pada “Tentang Wawancara

  1. saya senang ada yang berbagi ilmu tentang profesi wartawan, saya hanyalah seorang stringer di media televisi dan berharap jadi kontributor, namun apalah daya saya hanya berbekal pengalaman jadi wartawan cuma 3 tahun dan ijasah hanya SLTA karena kemiskinan saya, saya berharap masih banyak lagi ilmu tentang Jurnalis sebagai bekal untuk mencapai harapan dan cita cita saya. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s