Keyakinan Moshaddeq


Pernyataan “Akulah kebenaran” dari Al Hallaj, bukanlah sebuah pengakuan yang muncul dari ketidakyakinan, meski hal itu dianggap melanggar syariat Islam. Sementara pernyataan Moshaddeq “Akulah Nabi” muncul dari ketidakyakinan, setidaknya ketika diketahui dia mengaku bersalah dan mengaku bertobat. Dibandingkan dengan keyakinan kebenaran para pejuang perang salib (baik dari Islam maupun Nasrani) yang jangankan mengaku nabi, mengaku orang sucipun mereka tidak— keyakinan kebenaran Moshaddeq bukanlah apa-apa.

Oleh Rusdi Mathari

PADA akhirnya Husein ibn Mansur berakhir riwayat lahiriahnya pada sebuah sore, ketika langit Baghdad memerah karena musim kering. Algojo dari rezim Muqtadir Billah, telah memisahkan kepala lelaki kelahiran Baiza, Iran itu, dari badannya. Tanah di sudut halaman depan istana megah khalifah basah oleh darah Husein akibat lubang yang digali untuk wadah darah itu tak cukup menampung darah yang keluar dari urat-urat yang terputus dari bekas leher Husein. Seperti air yang mengalir, darah itu meluber dari lubang dan terus bergerak membasahi permukaan tanah di sekitarnya.

Mereka yang menjadi saksi atas eksekusi pada sore itu, tak percaya dengan apa yang mereka lihat di tanah, ketika kemudian darah itu membentuk huruf-huruf Ana al Haq dan menggemakan Ana al Haq di udara seperti bunyi serombongan lebah. Secepatnya gumpalan-gumpalan darah itu dicoba dimusnahkan dengan dibuang ke sungai Efrat, namun air yang menerimanya justru menggumamkan kembali ucapan Husein, “Ana al Haq”- Akulah kebenaran.

Lebih seribu tahun peristiwa itu terjadi tapi nama lelaki itu tak habis dikunyah orang. Dia, Husein, yang lebih dikenal dengan julukan Al Hallaj, adalah simbol dari sebuah keteguhan keyakinan, dan juga kebenaran. Ketika selama beberapa hari belakangan ini seorang bernama Ahmad Moshaddeq menjadi isu besar karena mengaku sebagai nabi, nama Al Hallaj dan tragedinya kemudian juga dikaitkan dengan keyakinan kebenaran atau lebih tepatnya pengakuan Moshaddeq. Mungkin maksudnya hanya sekedar untuk mengingatkan, agar tragedi yang terjadi pada 24 Julkaidah 309 Hijriah di Baghdad, tak boleh terjadi di Indonesia meskipun Moshaddeq dan Al Hallaj dan juga pernyataan keduanya, adalah dua hal yang semestinya sangat berbeda.

Pernyataan “Akulah kebenaran” dari Al Hallaj, bukanlah sebuah pengakuan yang muncul dari ketidakyakinan, meski juga dianggap melanggar syariat Islam oleh para ulama. Sementara pernyataan Moshaddeq “Akulah Nabi” muncul dari ketidakyakinan, setidaknya ketika kemudian dia diketahui mengaku bersalah dan mengaku bertobat. Sebagian orang mengatakan, Moshaddeq terpaksa mengaku bersalah dan bertobat di bawah tekanan dan teror. Tapi andai pun benar Moshaddeq berada di bawah tekanan dan paksaan untuk mengaku bersalah dan bertobat, tidakkah teror yang dialami Al Hallaj dan juga para gurunya, secara fisik dan psikologis bahkan jauh lebih hebat: dipenjara selama lebih setahun, disiksa dan dipaksa untuk bertobat dan mengaku bersalah.

Diceritakan, setahun sebelum pembunuhan atas diri Al Hallaj, salah satu guru besar Al Hallaj yaitu Syekh Junaidi, tujuh kali menerima surat dari Muqtadir Billah yang meminta persetujuan Junaidi untuk menjatuhkan hukuman kepada Al Hallaj. Surat ketujuh dikirim dengan “permintaan khusus”, agar Junaidi hanya menjawab “iya” atau “tidak”. Dalam surat jawabannya, Junaidi menulis, “Menurut hukum syariat, Mansur dapat dijatuhi hukuman mati, tapi menurut ajaran-ajaran rahasia kebenaran, Tuhan adalah maha tahu.”

Junaidi lewat surat yang dikirimnya itu paham, bahwa jawaban seperti itulah yang diharapkan manusia-manusia penguasa di Baghdad. Manusia-manusia itu memang paling sulit untuk menerima kebenaran yang tidak sama dengan kebenaran yang mereka yakini. Junaidi juga paham, keyakinan Al Hallaj akan rahasia kebenaran Tuhan telah melampui keyakinan banyak manusia, sehingga jangankan hukuman mati yang diancamkan kepadanya, bahkan diancam masuk neraka sekalipun, Al Hallaj mungkin akan memasukinya dengan tersenyum. Bagi Al Hallaj dan juga bagi Junaidi, semua adalah tak ada, kecuali keyakinan akan kebenaran itu sendiri. Melalui surat balasannya kepada Muqtadir Billah, Junaidi karena itu memberi isyarat untuk membunuh dan tidak membunuh Al Hallaj, meski yang seharusnya dibaca adalah persetujuan untuk memuaskan monopoli kebenaran pada penguasa itu.

Sekarang lihatlah Moshaddeq. Di televisi yang menayangkan pengakuan bersalahnya, lelaki yang mengaku nabi itu wajahnya terlihat pucat. Tak tergambar di mukanya, sebuah keyakinan kebenaran akan sesuatu yang pernah diucapkan dan diakuinya. Dia tak berdaya menghadapi tekanan dan teror meskipun yang dia ucapkan sebelumnya, adalah kabar tentang pengakuan keyakinan kebenaran. Padahal, kalau dia adalah nabi, derajat ruhani dari keyakinan kebenarannya, niscaya akan lebih jauh melampui derajat keyakinan kebenaran dari seorang suci seperti Al Hallaj- karena kisah dari perjalanan seorang nabi, siapapun dia, adalah kisah dari sebuah keyakinan kebenaran yang kalis.

Tak terhitung jumlah para nabi dan juga orang-orang suci yang dibunuh, diteror, diancam, dan disiksa, tapi mereka tetap pada keyakinan kebenaran mereka. Bagi mereka, keyakinan kebenaran terlalu murah dan nista, bila hanya ditukar dengan ancaman dan juga kematian. Bahkan dibandingkan dengan keyakinan kebenaran para pejuang perang salib (baik dari Islam maupun Nasrani) yang jangankan mengaku nabi, mengaku orang sucipun mereka tidak— keyakinan kebenaran Moshaddeq bukanlah apa-apa, karena dia memang bukan apa-apa kecuali hanya seorang pertapa di ruangan tahanan polisi.

About these ads

8 pemikiran pada “Keyakinan Moshaddeq

  1. Kataku seh, memang bener tuh nabi-nabi palsu gak punya iman. Tapi menurut om Rusdi apa yang membuat Mhoshaddeq mengaku sebagai nabi palsu? Apakah zaman ini seperti zaman jahilliyah, sebab dulu kan juga ada yang mengaku-ngaku sebagai nabi tapi palsu? Jadi bagaimana menurut om Rusdi?
    ~malang,situbondo,banyuwangi~

  2. Cak yang galak dan konsisten…. uraian mu tentang detik-detik kematian al hallaj luar biasa. Termasuk soal ana-al haq yang menggema itu, dan bagaimana kekuasaan merepresi keyakinan seseorang… Tapi ada yang masih kurang, dan mungkin bisa beranggap fatal; cak menukilkan hikayat ini darimana? atau kitab apa yang dijadikan referensi? Setidaknya, orang awam dan kurang baca seperti saya bisa mengakses hikayat lengkap al hallaj ke sumber pertama. Agar lebih mengerti apa dan bagaimana konteks keberagamaan umat islam pada masa itu? Juga, siapa tokoh (ulama) yang berada di pusat kekuasaan pada masa itu?
    Maklum, sependek pengetahuan saya, banyak kisah masa lalu yang sampai ke manusia zaman sekarang sudah tidak lengkap. Lebih banyak mengekspose bagaimana vonis dijatuhkan, tapi kurang detail pada konteks kesejarahannya. Dulu, waktu masih nyantri, saya senang banget baca tentang sejarah islam. Pada sebuah buku saya sempat menjadi pembenci empat sahabat nabi yang utama itu (khulafa ar-rasyidin). Terutama ketika mereka menjadi memimpin dan bagaimana “menyingkirkan” lawan-lawan politik yang justru pernah ikut berjuang bersama nabi. Begitupula soal dinasti umayyah, dan bagaimana dinasti abbasiyah dibangun. Membaca lebih banyak lagi saya baru bisa memahami mengapa sahabat yang bergelar ma’sum mengambil beberapa keputusan yang “disesali” hingga saat ini. Dari proses ini, saya jadi mengerti konteks itu sangat penting ketika akan membaca sebuah peristiwa sejarah. Al-Hallaj dan kematiannya juga sebuah kenyataan sejarah. Ia perlu diletakkan pada konteks ruang dan waktunya. Layak diperdengarkan juga bagaimana argumentasi para ahli fikih (syariat) pada zaman itu dalam memandang keyakinan al-hallaj.

    Oh..ya, sepertinya masih ada beberapa tokoh sufi lain yang bernasib seperti al-hallaj. Dibahas satu persatu di blog mu kayaknya oke tuh cak…..agar umat tidak mudah dibodohi ulama nya, he..he..he..

    Kolbi
    Yang selalu terpukau “orasi” cak rusd

  3. Al Hallaj … Syeh Siti Jenar … atau siapa lagilah (mungkin Iwan Fals?, mungkin pula dulu Kho Phing Hoo?) … belakangan muncul Moshaddeq. Siapapun, yang pasti: Ojo Dumeh. Di atas langit masih ada langit. Makin pandai seseorang, kian mumpuni ilmunya, mestinya ia jadi bijak.

  4. Buku yang menyingkap tentang Al Hallaj dan detik-detik kematiannya sangat banyak. Sebagian besar, ditulis dalam Bahasa Arab dan sebagian kecil dalam Bahasa Persia. Terjemahannya banyak beredar dalam Bahasa Inggris. Tak semua buku itu terbit atau beredar di Indonesia. Hanya sebagian yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Ada juga yang diterbitkan tapi tidak dijual ke umum dan hanya beredar dari pesantren ke pesantren. Buku Addur Annafis yang ditulis Syekh Muhammad Nafis Al Banjari adalah satu dari sekian buku yang tidak beredar untuk umum itu. Mungkin buku Ana’l-Haqq yang ditulis Shyak Ibrahim Gazur-i-Ilahi bisa dibaca untuk referensi. Atau yang agak lebih mudah didapat buku yang ditulis oleh Abdul Munir Mulkan, “Syekh Siti Jenar (Pergumulan Islam Jawa).

  5. Selamat atas blog-nya yang keren ya Di!
    Aku juga berpikir kurang lebih sama. Wong nabi kok nyalinya ciut! Baru dibentak polisi berkumis tebal sudah pucat pasi. Padahal kumis dia nggak kalah tebalnya dengan kumis pak polisi yaa…!? Hehehe. Tapi kalau ingat jumlah jamaahnya yang katanya mencapai ribuan, aku prihatin banget. Sedemikian haus kah masyarakat kita pada sosok panutan yang bisa diteladani? sampai-sampai seorang Moshaddeq yang lebih pantas menjadi mandor perkebunan, mereka yakini sebagai nabi pembawa wahyu.
    Yah… mari bersama-sama kita doakan bangsa ini, agar makin cerdas, makin bijak, dan makin religius. Sehingga tidak lagi mudah jatuh hati pada “rayuan gombal” nya Moshaddeq-Moshaddeq yang lain.
    Ok. Salam buat Voja ya Di….

  6. boleh juga cak blog -nya ngiming-ngimingi alitqon. soal musadeq dan aliran2 seng jare sesat, goe pikir bagus didiskusikan, yang jelas I, you dan yg mungkin dibilang sesat-sesat semua ittafaq kalau mahluk Allah

  7. bagaimana dg lia aminuddin yg ‘konsisten’ walaupun udah dibentak polisi, diadili di pengadilan dan dipenjara. tp dia tetap yakin dg keyakinannya?

  8. kk aq kurang paham dengan isi bacaan buku ana’l haq
    ada gak penjelasan terpeerici nya
    soalnya aq pernah sirik d buat buku tsb karna salah arti
    tp sekarang udah gak karna kk qu yang menuntun qu,,,kk qu penah ikut kajian tarekat naqsabaniyah dan dia pernah ikut suluk.
    kurang lebih tentang buku tsb sma denagan pemahamanya…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s